x

Universitas Pendidikan Indonesia

Iklan

Tatang Hidayat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 5 Agustus 2019 17:05 WIB

Kilas Balik Perjuangan Aktivis dan Dosen PAI Dalam Mewujudkan Kampus Religius UPI

Kampus UPI yang religius kita rasakan saat ini, tidak terlepas dari perjuangan para aktivis mahasiswa Islam dan peran dosen (Pendidikan Agama Islam) PAI yang memiliki kesadaran dalam membangun kampus yang religius. Pada usianya yang ke 64 tahun ini 2018, kampus UPI telah melahirkan banyak tokoh dan aktivis Islam yang telah memberikan kontribusi dalam membangun negeri. Itu semua tidak terlepas dari para aktivis sebelumnya yang telah mewariskan nyawa perjuangan secara turun temurun.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kilas Balik Perjuangan Aktivis dan Dosen PAI Dalam Mewujudkan Kampus Religius UPI

Oleh : Tatang Hidayat*)

Syahdu wangi bumi Siliwangi, Utara Bandung Raya. Tampak jelas bercemerlang UPI Universitas Pendidikan Indonesia. Rentang riwayatmu berirama warna, pelangi menghias nusa nusantara bumi tercinta. Tinggi mulia citra UPI kita candradimuka jiwa, daya insan berilmu beriman jadi warga wira utama. Pencerah masa depan bangsa Indonesia, bimbingan Illahi serta semoga damba kami nyata.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Lirik di atas mungkin tidak asing lagi bagi mahasiswa UPI, lirik yang memiliki kesan tersendiri bagi setiap mahasiswa UPI, baik saat pertama mendengarnya ataupun saat terakhir mendengarkannya ketika menyandang status mahasiswa UPI dalam prosesi wisuda. UPI pastinya akan selalu dikenang bagi setiap mahasiswanya, karena di dalamnya ada perasaan yang terlibat dalam setiap perjuangannya.

Bersyukur saat ini saya masih diberi kesempatan untuk beralmamaterkan kampus sebagai basis pendidikan yang berpusat di bumi siliwangi, kampus yang memiliki moto religius, ilmiah dan edukatif. Tentu moto tersebut tidak terlahir dengan sebuah proses yang instan, namun itu memerlukan perjuangan yang sangat panjang dari masa ke masa.

Kampus UPI yang religius kita rasakan saat ini, tidak terlepas dari perjuangan para aktivis mahasiswa Islam dan peran dosen (Pendidikan Agama Islam) PAI yang memiliki kesadaran dalam membangun kampus yang religius. Pada usianya yang ke 64 tahun ini 2018, kampus UPI telah melahirkan banyak tokoh dan aktivis Islam yang telah memberikan kontribusi dalam membangun negeri. Itu semua tidak terlepas dari para aktivis sebelumnya yang telah mewariskan nyawa perjuangan secara turun temurun.

Peran aktivis dan dosen PAI yang memiliki kesadaran, ghirah Islamiyah dan Ruhul Jihad dalam mewujudkan kampus religius seperti saat ini begitu terasa jasanya, terutama dalam kehidupan keagamaan di UPI dan implementasi Pelaksanaan Kuliah PAI yang memiliki perbedaan dengan kampus lainnya di seluruh Indonesia.

Pelaksanaan mata kuliah PAI 4 SKS di UPI, ditambah mereka yang mengontrak mata kuliah PAI harus hadir ke Masjid dalam mengikuti kegiatan Tutorial dan Seminar Pendidikan Agama Islam setiap pekannya, jika tidak otomatis mereka tidak akan lulus mata kuliah PAI. Hal tersebut merupakan perjuangan panjang dari para aktivis, terutama peran Dosen  PAI yang memiliki kesadaran telah berjuang dengan gigih untuk mewujudkan lingkungan kampus yang religius.

Saya sangat kagum ketika mendengar kilas balik ke belakang bagaimana gigihnya perjuangan para aktivis dan dosen PAI dalam mewujudkan kampus yang religius ini, sebagaimana yang sering disampaikan dosen saya terutama ayahanda Drs. Toto Suryana, M. Pd. Dan Prof. Dr. Syahidin, M. Pd. dalam dalam setiap diskusi yang dilakukan.

Kilas balik awal mula berdirinya, UPI merupakan salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di Jawa Barat. UPI berdiri pada 20 Oktober 1954, yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan Pengajaran Mr. Mohammad Yamin dengan nama Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). Pada 1963, UPI berganti nama menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung.

Kemudian saat IKIP-IKIP lain di seluruh Indonesia berganti nama menjadi Universitas Negeri sesuai dengan nama kota di mana lembaga itu berada, IKIP Bandung tampak tetap ingin menunjukkan jati dirinya sebagai perguruan tinggi yang tetap konsisten berkiprah dalam bidang pendidikan dengan tugas dan peran meningkatkan martabat bangsa melalui bidang pendidikan, maka perubahan namanya berbeda dengan IKIP-IKIP lainnya. Pada Oktober 1999 IKIP Bandung berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Dalam sejarahnya, PAI sebagai mata kuliah wajib di UPI, secara formal mulai dilaksanakan pada 1963 sejak UPI bernama IKIP Bandung. Pengelolaan kurikulum saat itu diserahkan sepenuhnya kepada para dosen IKIP dari berbagai jurusan yang mempunyai perhatian terhadap kehidupan keagamaan di lingkungan kampus.

Mata kuliah PAI pada mulanya dinamai mata kuliah Filsafat Ketuhanan Yang Maha Esa, diberikan hanya satu semester dengan dua jam per minggu. Dosennya diambil dari Universitas Padjadjaran dan beberapa kiai di pesantren, dibantu oleh para dosen IKIP yang mempunyai latar belakang pendidikan pesantren atau madrasah. Mereka berstatus sebagai asisten dosen PAI.

Perkuliahan diselenggarakan di dua tempat. Bagi mahasiswa yang tinggal di sekitar Bandung kota disediakan tempat di Gedung Pusat Kesenian Rumentang Siang Jl. Naripan Bandung. Dosen pengasuhnya K.H. Syamsul Hadi dan K.H. Abdu Hamid. Mereka adalah para pengasuh pondok pesantren yang sengaja didatangkan dari Tasik dan Garut. Materi kuliah meliputi cara membaca Alquran, cara berwudhu, shalat, hafalan surat-surat pendek dan do’a sehari-hari.

Bagi mahasiswa yang tinggal di daerah Bandung Utara disediakan tempat di Gedung Bumi Siliwangi IKIP Bandung, dosen pengasuhnya H. Muchsin, S.H. Dosen Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung. Materi kuliah meliputi keimanan, hukum Islam, praktek ibadah, dan mu’amalah. Setiap akhir semester diadakan ujian tulis dan ujian praktek dan hasilnya masih banyak yang tidak lulus.

Dosen dan asisten PAI di PTU-PTU yang ada di Bandung saat itu pada 1963 jumlahnya masih sangat terbatas. Atas prakarsa para asisten dosen PAI dan para aktivis mahasiswa Islam Bandung, mereka mengadakan pertemuan intensif untuk membicarakan nasib perkuliahan PAI.

Pertemuan-pertemuan itu membuahkan hasil yaitu dapat menarik para calon-calon asisten dosen PAI dari kalangan asisten dan dosen jurusan yang mempunyai perhatian terhadap kehidupan beragama di kampus PTU. Mereka pada umumnya para dosen dan asisten dari berbagai jurusan yang mempunyai latar belakang pengetahuan agama Islam yang memadai.

Pada masa-masa awal perkuliahan PAI di IKIP, selain kegiatan yang bersifat kurikuler, ada pula kegiatan yang bersifat ekstra kurikuler, namun belum terorganisir dengan baik, seperti pelaksanaan shalat Jum’at, pengajian, dan shalat tarawih bersama di kampus. Kegiatan seperti ini sebelumnya sudah dirintis oleh para aktivis mahasiswa Islam.

Seiring dengan kebijakan politik orde baru serta desakan masyarakat, pada awal 1966 pihak pimpinan IKIP saat itu mau menerima pendidikan agama sebagai komponen dasar kurikulum IKIP. Implementasinya baru berjalan pada masa kepemimpinan Prof. Dr. Ahmad Sanusi, S.H.

Kendatipun masih dihadapkan kepada berbagai persoalan, pelaksanaan perkuliaah PAI pada dekade 1966 s.d 1971 terus berjalan. Syiar Islam mulai nampak dan suasana keagamaan di kampus terasa semakin hidup, terlebih lagi setelah berdirinya Masjid Al-Furqon pada 1967 yang pondasinya sudah dipancangkan sejak 1954.

Nama Al-Furqon diambil dari nama Masjid yang berada di Jl. Keramat Raya No 45 Jakarta, yang tadinya merupakan kantor pimpinan pusat Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), kemudian menjadi kantor pusat Yayasan Dewan Dakwah Islam Indonesia pimpinan Mohamad Natsir.

Penamaan ini menggambarkan adanya komunikasi para aktivis mahasiswa Islam di IKIP dengan para aktivis Masyumi. Mereka sering datang ke Jakarta dalam rangka konsultasi masalah-masalah dakwah Islam dan memberikan laporan sekitar perkembangan politik di kampus. Dari sini kita akan memahami, ternyata aktivis mahasiswa Islam di IKIP secara sejarah memiliki kedekatan dengan aktivis Masyumi.

Sementara itu, untuk mengorganisis berbagai aktivitas keagamaan dan mengoptimalkan fungsi Masjid Al-Furqon, atas inisiatif para tokoh muda Islam, pada 1968 mereka mendirikan sebuah Yayasan Al Furqon yang dipimpin Drs. Sunaria Sasmita AM, mantan Ketua Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPM) IKIP Bandung (1999). Atas restu rektor IKIP Bandung, Yayasan Al Furoqn diperbolehkan berdomisili di dalam kampus dengan menempati salah satu ruangan di Masjid Al- Furqon sebagai sekretariat.

Seiring berjalannya waktu, suasana kehidupan beragama di UPI dirasakan cukup menarik. Dalam sejarahnya, sebelum dikumandangkan adzan, terdengar jelas alunan kalam Ilahi dari menara Masjid Al-Furqon ke setiap gedung perkantoran dan ruang kuliah, sebagai isyarat sudah dekatnya waktu shalat sekaligus sebagai ajakan shalat berjama’ah. Aktivitas kantor dan perkuliahan segera dihentikan sementara sampai habis waktu istirahat dan shalat berjama’ah.

Ajakah shalat berjama’ah ini diperkuat oleh surat edaran rektor pada 1991 yang tidak diperkenankan dosen memberikan kuliah pada awal-awal waktu shalat Dzuhur dan Ashar kemudian petugas administrasi tidak boleh melayani siapapun dalam jam-jam istirahat shalat. Surat edaran itu nampaknya masih terasa pengaruhnya.

Dalam pergaulan sehari-hari suasana kehidupan beragama di lingkungan kampus UPI cukup terasa. Ucapan salam di kalangan dosen, karyawan dan mahasiswa mengawali hampir setiap perjumpaan mereka. Ucapan basmallah mengawali hampir setiap pembicaraan antar mereka. Para mahasiswa yang mayoritas muslimah sudah sangat lekat dengan busana muslimahnya, sehingga dalam penampilan fisik mereka hampir tidak bisa dibedakan dengan para mahasiswa di perguruan tinggi Islam.

Suasana kehidupan beragama sebagaimana digambarkan semakin terasa ketika bermunculan organisasi-organisasi keagamaan mahasiswa, aktivitas mereka cukup padat. Secara garis besarnya ada dua bentuk organisasi keagamaan mahasiswa di lingkungan UPI yaitu organisasi ekstra universiter dan organisasi intra universiter.

Organisasi ekstra universiter antara lain Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pelajar Islam Indonesia (PII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan yang lainnya. Meskipun secara peraturan kampus organisasi ekstra tidak boleh eksis di dalam kampus, namun bagaimanapun juga mereka adalah mahasiswa UPI sehingga tidak bisa membedakan aktivitasnya.

Adapun organisasi intra universiter yaitu Program Tutorial PAI, Baca Tulis Al-Quran Intensif (BAQI), Unit Kegiatan Dakwah Mahasiswa (UKDM), Unit Pengembangan Tilawah Quran (UPTQ), Unit Pengkajian Islam (UPI) sekarang Kajian Islam Mahasiswa (KALAM), Al Qolam dan SCIEMIC yang mengkaji tentang ekonomi Islam.

Dari segi  Departemen dan Program Studi pun, di UPI telah berdiri 1 Departemen dan 2 Program Studi keagamaan diantaranya Departemen Pendidikan Bahasa Arab (1964), Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam (2007) dan Program Studi Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam (2013).

Di sisi lain, suasana keagamaan di kampus UPI tidak terlepas ada pengaruhnya juga dari Pesantren Daruut Tauhiid pimpinan K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) yang lokasinya tidak jauh dari kampus.  Buktinya banyak mahasiswa UPI yang mengikuti program pesantren mahasiswa Daruut Tauhiid dan banyak juga yang mengikuti kegiatan kajian di Daruut Tauhiid.

Fenomena di atas nampaknya bisa dijadikan salah satu indikator keberhasilan UPI Bandung dalam membina keimanan dan ketakwaan mahasiswanya. Keberhasilan tersebut tidak mungkin terjadi tanpa adanya suatu usaha pendidikan yang terencana, terprogram, dan sistematis. Sementara itu peran aktivis mahasiswa Islam dan dosen PAI yang memiliki kesadaran, ghirah Islamiyah dan Ruhul Jihad pun sangat mempengaruhi sebagai ujung tombak dalam mewujudkan kampus yang religius.

Di satu sisi suasana keagamaan di lingkungan UPI terlihat semarak, namun di sisi lain tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan-kegiatan yang cenderung mengarah kepada kemaksiatan pun sangat terbuka. Seperti beberapa kegiatan-kegiatan mahasiswa lainnya yang dilaksanakan sampai larut malam, sering dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok mahasiswa yang lebih suka berhura-hura.

Situasi seperti ini didukung pula oleh penataan lingkungan kantor-kantor sekretariat himpunan mahasiswa, Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) yang jaraknya berjauhan bahkan ada yang terisolir. Sistem penerangannya kurang memadai sedangkan pengawasan dari dosen maupun dari pihak institut sangat kurang.

Ini bisa menjadi bahan evaluasi juga bagi semua kalangan termasuk pihak institusi, apakah moto religius, ilmiah dan edukatif sudah selaras dengan realita di lapangan ? Jika belum lantas apa yang mesti dilakukan oleh pihak institusi ? saya kira pihak institusi pasti sudah tahu apa yang mesti dilakukan, secara banyak dari kalangan para ahli yang berada di kampus UPI, jadi bisa diberdayakan keahlian mereka sesuai bidang keilmuannya. Wallohu A’lam bi ash-Shawab.

*Tulisan ini adalah ringkasan dari buku Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum (2003) karya Prof. Dr. Syahidin, M. Pd.

Ikuti tulisan menarik Tatang Hidayat lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu