Gibran Uji Kelayakan di DPP PDIP, Besarkah Peluangnya Maju ke Pilkada Solo? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

tuluswijanarko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 10 Februari 2020 07:57 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Gibran Uji Kelayakan di DPP PDIP, Besarkah Peluangnya Maju ke Pilkada Solo?

    Dibaca : 482 kali

    Jakarta – Hari ini, Senin 10/02, anak sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, akan menjalani uji kepatutan di DPP PDIP, Jakarta, guna mendapatkan tiket dari PDIP untuk maju sebagai Calon Wali Kota Surakarta. Selain Gibran, Achmad Purnomo yang sekarang menjabat sebagai Wakil Wali Kota Surakarta, juga akan menjalani uji yang sama.

    Achmad Purnomo maju ke proses ini karena dicalonkan Ketua DPC PDIP Solo, F.X. Hadi Rudyatmo (saat ini menjabat sebagai Wali Kota Solo). Dia akan berpasangan dengan Teguh Prakosa, mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Solo.

    Sedangkan Gibran mendaftar melalui Dewan Pimpinan Daerah PDIP Jawa Tengah. Sebelumnya, Oktober lalu, Gibran juga menemui Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk meminta restu

    Siapakah yang akan dipilih DPP untuk bertarung dalam Pilkada Kota Sala pada bulan September mendatang?

    Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP, Bambang Wuryanto, menyatakan rekomendasi untuk calon kepala daerah Kota Solo menunggu hasil uji kepatutan dan kelayakan di DPP PDIP. Ia mengingatkan, bila partai telah mengambil keputusan, semua pengurus dan kader partai harus patuh. “Apa pun yang diputuskan DPP PDIP, semua harus tegak lurus mengikutinya,” kata dia seperti dikutip Koran Tempo, Senin, 10/02.

    Direktur Eksekutif Parameter Politik, Adi Prayitno, menyatakan peluang Gibran untuk mendapat rekomendasi dari DPP PDIP sangat besar karena berlatar belakang putra presiden. Menurut dia, PDIP akan kehilangan suara jika meninggalkan Gibran.

    Adi menambahkan, Gibran berpotensi menjadi rebutan partai lain jika PDIP tidak memberi rekomendasi dukungan. Bila Gibran mendapat rekomendasi PDIP, Achmad Purnomo otomatis bakal tersingkir. “Ini dilema karena sebelumnya DPC PDIP Solo telah memproklamasikan pasangan Purnomo-Teguh untuk maju dalam pilkada Solo 2020,” kata Adi kepada Koran Tempo.

    Gibran mengatakan tak tahu sama sekali materi yang akan diujikan. "Persiapannya cuma belajar saja," kata Gibran di Solo pada Ahad, 9 Februari 2020, kepada Tempo.co. Rencananya, pengusaha katering ini akan berangkat dengan penerbangan Senin pagi dari Bandara Adi Sumarmo.

    Kemarin, Gibran menemui F.X. Hadi Rudyatmo di rumah dinas Loji Gandrung, Solo, untuk berpamitan Bagi dia menemui Rudy —panggilan Hadi Rudyatmo—sungguh penting. Selain dikenal sebagai politikus senior di Solo, Rudy merupakan mentor politik ayahnya sejak mencalonkan diri sebagai Wali Kota Solo pada 2005. Apalagi, dalam pemilihan Wali Kota Solo tahun ini, Rudy tak mengusulkan Gibran sebagai calon wali kota.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 449 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin