Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku Perawan Remaja di Cengekaram Militer

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 24 Februari 2020 09:29 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer

    Dibaca : 1.055 kali

    Judul: Perempuan Remaja Dalam Cengkeraman Militer

    Penulis: Pramoedya Ananta Toer

    Tahun Terbit: 2001

    Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia                                                         

    Tebal: ix + 218

    ISBN: 979-9023-48-3

     

    Salah satu tragedi bagi para perempuan remaja di Indonesia yang tak terungkap tuntas adalah tentang perempuan-perempuan remaja yang dijadikan budak seks oleh Jepang. Kisah tragis ini seperti hilang ditelan kala. Hampir tak ada penyelidikan. Jangankan penyelidikan, pembicaraan tentang tragedi ini pun sepi saja. Tragedi ini adalah sebuah rahasia umum yang tak pernah diselidiki.

    Padahal korban dari tragedi ini sungguh nyata. Sungguh banyak!

    Kita harus berterima kasih kepada Pram yang telah mendokumentasikan beberapa penggal kisah para perempuan remaja yang direngut kemerdekaannya oleh Jepang. Bukti-bukti terutama berasal dari Pulau Buru. Meski sumber-sumber yang dikumpulkan adalah tuturan dari para pihak; dan belum sempat sepenuhnya diuji kebenarannya, namun dokumen yang dikumpulkan Pram ini tentu bisa sanga penting. Melalui dokumen ini bisa ditelusuri lebih lanjut, sehingga bukti-bukti kekejaman Jepang kepada para perempuan di Indonesia bisa terungkap lebih jelas.

    Pram menyampaikan bahwa pada tahun 1942-43 ada promosi bagi gadis-gadis remaja untuk mendapatkan beasiswa bersekolah ke Singapura atau ke Jepang. Melalui Sendenbu, pada tahun 1943 Jepang mulai menjanjikan beasiswa bagi para remaja putri untuk bersekolah lanjut ke Tokio dan Shonanto (Singapura). Promosi ini dilakukan oleh Jepang melalui para petinggi masyarakat, terutama di Jawa. Promosi ini sungguh menarik, sehingga para remaja dari keluarga terpandang banyak juga yang tergiur untuk mendapatkan beasiswa.

    Rata-rata yang mendaftar dan berangkat untuk bersekolah lanjut ke Tokyo dan Singapura adalah anak-anak priyayi, seperti anak pejabat kecamatan, lurah, kepala sekolah, guru dan bahkan anak-anak bupati. Para gadis remaja ini diangkut dengan menggunakan kapal laut. Para gadis remaja itu dijemput dari rumahnya atau melalui tempat pengepulan dan dan diangkut dengan kapal laut meninggalkan Jawa. Mereka ini dikirim ke pulau-pulau lain di Indonesia dan juga ke luar Indonesia.

    Salah satu awak kapal yang mengangkut para perawan remaja ini adalah Sukarno Martodihardjo. Sukarno Martodihardjo mengatakan bahwa ia beberapa kali mengangkut para gadis dengan kapalnya. Para gadis remaja ini diturunkan di Singapura. Para gadis remaja ini sudah mulai diperlakukan tidak baik sejak berada di kapal. Beberapa dari mereka berusaha untuk bunuh diri. Namun tidak berhasil. Sebagian besar dari mereka menyadari ketidak-berdayaannya dan menyerah kepada nasib.

    Selama tiga tahun pendudukan Jepang, para gadis remaja ini dijadikan budak seks tentara Jepang. Mereka dikumpulkan di sebuah bangunan. Di bangunan/gedung tersebutlah para tentara Jepang datang dan pergi untuk melampiaskan napsu birahinya kepada para gadis tersebut.

    Penderitaan para budak seks Jepang ini tidak berhenti saat Jepang kalah. Penderitaan mereka bahkan lebih besar lagi. Sebab Jepang pergi begitu saja, meninggalkan mereka dalam kondisi apa adanya. Banyak dari para gadis ini yang kebingungan dengan kondisisnya. Mereka tentu tidak berani untuk kembali kepada keluarganya. Sebab kembali kepada keluarga tentu membawa malu. Aib yang dideritanya akan membuat keluarganya ikut menanggungnya.

    Kisah tragis itu terjadi diantaranya pada para perempuan eks budak seks di Pulau Buru. Para budak seks yang ditinggalkan begitu saja oleh Jepang di Pulau Buru mengalami nasip yang sangat tragis. Mereka tentu saja tidak bisa pergi dari pulau yang terisolir tersebut. Sementara penduduk yang ada adalah penduduk lokal yang masih tinggal di hutan. Beberapa perempuan ini akhirnya memilih untuk menjadi istri para lelaki lokal.

    Menjadi istri penduduk lokal tidaklah mudah. Sebab mereka terikat dengan sumpah supaya tidak berbicara dengan orang luar. Para lelaki lokal takut kalau nantinya para perempuan yang usdah menjadi istrinya itu lari meninggalkannya. Itulah sebabnya upaya untuk mengumpulkan informasi tentang para perempuan ini sangat sulit.

    Pram mengumpulkan beberapa cerita dari para Digulis saat Pram berada di Pulau Buru. Cerita dari para Digulis yang berupaya untuk mengumpulkan kisah penderitaan para perempuan tersebut. Para Digulis ini harus masuk hutan, naik gunung dan bukit, menyeberangi sungai, diancam untuk dibunuh oleh penduduk setempat. Namun beberapa dari Digulis berhasil untuk bertemu dengan para perempuan tersebut. Namun seperti telah dijelaskan di atas, menggali informasi dari mereka tidaklah mudah.

    Kekejaman Jepang kepada para perempuan remaja ini memang terjadi, namun sulit dicari bukti. Itulah sebabnya Slamet Danusudirdjo (Pandir Kelana)–yang kesulitan bukti, mendokumentasikan kekejaman Jepang kepada perempuan remaja dalam sebuah novel. Pandir Kelana menulis novel berjudul “Kadarwati Perempuan Dengan Lima Nama” untuk memberikan kesaksian tentang nasib perempuan remaja yang tertipu oleh iming-iming Jepang bersekolah ke Singapura. Kadarwati, seorang perempuan remaja yang cerdas cemerlang akhirnya harus menjadi budak seks tentara Jepang.

    Karya Pram ini setidaknya menjadi salah satu pemicu para pihak untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Upaya membongkar kekejian ini sudah mulai. Semoga suatu hari nanti, baik pemerintah Jepang, pemerintah Indonesia atau masyarakat dunia berhasil untuk mencari tahu lebih mendalam tentang penderitaan para perempuan ini. Sehingga penderitaan mereka bisa diungkap. Siapa yang bersalah bisa dihukum, atau setidaknya mau meminta maaf.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.