Biarkan Shin Tae-yong Memilih Pemain Timnas Sendiri - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

timnas

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 24 Februari 2020 10:41 WIB
  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Biarkan Shin Tae-yong Memilih Pemain Timnas Sendiri

    Dibaca : 2.903 kali

    Langkah awal Shin Tae-yong untuk membesut timnas Indonesia, memang belum ada nilai rapornya, sebab timnas belum melakoni laga yang hasilnya dapat poin FIFA.  Namun, dari dua langkahnya, konsentrasi mengurus soal fisik dan teknik dasar bermain sepak bola di dalam pemusatan latihan (TC) timnas U-19 dan senior, kesannya dapat ditangkap oleh seluruh pemain yang dipanggil bergabung. 

    Lalu, media massa terus mengulik cara dan kinerja pelatih asal Korea Selatan ini, dan tak henti mengapungkan berita tentang sepak terjangnya yang sama sekali belum memikirkan hasil laga uji coba karena TC belum masuk pada wilayah taktikal dan strategi bermain. Di samping itu, dari dua pemusatan latihan timnas yang sudah dilakoni, sejak awal, netizen atau publik sepak bola nasional juga sudah meyakini bahwa kedua pemain timnas yang digenjot fisiknya, bukanlah pemain pilihan dia. 

    Saat TC timnas U-19, netizan dan publik sepak bola nasional hingga media massa sudah nyinyir, mengapa PSSI sok-sok-an memberikan Tae-yong langsung masuk program TC, padahal belum tahu kondisi pemain secara langsung. Mereka juga menyayangkan TC dilakukan dengan pemain yang pastinya bukan pilihan Tae-yong sendiri. 

    Saat itu, saya berpikir, apa yang dilakukan Tae-yong hanya sia-sia dan sekadar menghabiskan anggaran saja. Sudah begitu, dengan pemain yang netizen dan publik sepak bola nasional ragu saja, tetapi istilahnya TC malah sampai dua kali. Meski yang pertama seleksi untuk 28 pemain dan berikutnya menggenjot fisik hingga jadi ajang "pembantaian" tim dari Korsel di Thailand. 

    Nah, pada akhirnya, seusai TC timnas senior, Shin Tae-yong  memberikan pernyataan mengejutkan pasca pemusatan latihan sepuluh hari di Stadion Madya Senayan, Jakarta. Apa yang mengejutkan? 

    Tae-yong buka suara bahwa hasil penilaiannya, tidak semua pemain yang dipanggil layak untuk membela skuat Garuda. Nah lho, Shin Tae-yong  yang punya kriteria sangat tinggi dan dalam pemusatan latihan pertama tahun ini sangat fokus menggenjot fisik pemain dan diakhiri dengan laga uji coba kontra Persita Tangerang, menyatakan bahwa pemain timnas yang dipanggil bukan pilihannya. 

    Bahkan diperkirakan Tae-yong hanya memilih 6 pemain yang sesuai seleranya, yaitu 4 pemain U-19 dan 2 pemain hasil pantauan dari turnamen Piala Gubernur Jatim. 

    Sehingga, seperti hasil uji tanding timnas U-19, timnas senior yang tersisa di TC pun digasak Persita Tangerang, meski Tae-yong beralasan bahwa hasil uji tanding sama sekali bukan tolok ukur hasil TC yang sudah dijalani karena baru proses awal. 

    Karennya, dari hasil pantauan selama latihan, Shin mengatakan 34 pemain yang dipanggil tak semuanya layak berada di Timnas, karena tak sesuai kriteria yang ditetapkannya, sesuai argumen yang disampaikan sebagai berikut yang viral dan tayang di berbagai media massa nasional.  "Saya tidak bisa bilang (berapa persen) tapi hanya beberapa pemain yang memang bagus dan cocok, karena kami memang selama ini latihan fisik saja," katanya. 

    Selanjutnya Shin juga mengungkapkan bahwa apa yang dilakukannya di TC baru menyoal fisik saja. "Paginya latihan beban, dan sorenya latihan fisik jadi mereka sangat capek. Jadi tidak bisa menunjukkan kemampuan maksimal," ujar Shin. 

    Atas peristiwa dan apa yang melingkupi serta melatarbelakangi semua hal dalam TC dua timnas, maka wajib menjadi pelajaran bagi PSSI. 

    Pertama, jangan pernah mengulang budaya yang sama untuk pemilihan pemain nasional di semua kelompok umur, dengan cara-cara "titipan" atau "masukan" dari berbagai pihak.  Biarkan pelatih timnas menentukan pemain sesuai pilihannya saat melihat aksi pemain dalam kompetisi.

    Sudah bukan rahasia lagi, dalam berbagai kelompok usia, di sepak bola nasional, dari bukan memilih pemain untuk timnas hingga pemain untuk timnas, yang berperan adalah pemandu bakat.  Nah, pemandu bakat ini, juga sering tidak obyektif memilih pemain, karena sudah ada pesanan dari pihak berkepentingan demi si A, si B masuk tim. Sementara pemain yang memiliki kualitas justru disingkirkan tak masuk tim. 

    Ini cerita klasik, namun menjadi tradisi di sepak bola nasional, mulai dari akar rumput hingga timnas senior.

    Kedua, jangan memaksakan diri melakukan program TC, sementara tidak ada kesempatan pelatih menyaksikan sendiri pemain berlaga di sebuah kompetisi. Jadi, apa yang telah dilakukan oleh Shin dalam dua TC timnas menjadi prematur dan terkesan sia-sia.

    Kendati apa yang akhirnya dilakukan oleh Shin secara profesional, menjadikan kita terbuka mata. Inilah borok PSSI selama ini dalam soal merekrut pemain timnas dan memaksakan pelatih mengikuti kehendaknya. 

    Bukalah mata dan hati, PSSI. Apa kata Shin tentang teknik dasar pemain timnas senior yang Anda pilih? Bukankah ini memalukan? Coba tengok bagaimana pembinaan dan pelatihan sepak bola di Indonesia? 

    Sudah di panggil TC timnas senior saja masalah passing menjadi persoalan besar. Ini karena apa? Apa kurikulum sepak bola nasional juga sudah layak disebut kurikulum? Saya katakan, Belum! 

    Semoga di waktu tersisa, Shin benar-benar dapat memilih pemain yang layak sesuai kualitas dari hasil kompetisi untuk berjersey timnas. Bila pada akhirnya Shin nanti menemukan pemain terbaik pilihannya, itupun belum menggaransi, Shin dapat memberikan kado kemenangan timnas, sebab pemain terbaik di Indonesia, levelnya juga masih kalah dengan kualitas pemain Vietnam/Thailand, bahkan Myanmar atau Malaysia. 

    Selamat mencoba dan berjuang Shin. Katakan yang benar tentang rapor sepak bola Indonesia, dan semoga Anda dapat memperbaiki rapor itu, meski harus langsung di timnas yang pemainnya sudah salah pembinaan dan pelatihan di level dasar.

    Tunjukkan kualitas, prestasi, dan harga Anda untuk sepak bola Indonesia.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Admin

    2 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 617 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).