Saatnya PSSI Evaluasi Pembina/Pelatih Sepak Bola Akar Rumput - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

pendidik

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 30 Maret 2020 15:03 WIB

  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Saatnya PSSI Evaluasi Pembina/Pelatih Sepak Bola Akar Rumput

    Pemain timnas disebut tak bisa passing oleh Tae-yong, harus menjadi evaluasi mendasar oleh PSSI

    Dibaca : 3.341 kali

    Berkenaan dengan wabah virus corona yang telah berpandemi ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia, boleh dikatakan seluruh federasi sepak bola telah memutuskan untuk menghentikan kompetisi sepak bola di negaranya. 

    Seluruh kompetisi di Eropa dan Amerika serta dunia yang dihelat FIFA pun dihentikan. Di Inggris, sejak 13 Maret 2020, FA resmi mengeluarkan pernyataan bahwa seluruh kompetisi Liga Inggris dihentikan. 

    Pun di Indonesia juga dihentikan dengan waktu yang tak terbatas, hingga menunggu situasi kondusif. 

    PSSI mengambil langkah dengan menghentikan kompetisi Liga 1 dan Liga 2 efektif sejak 14 Maret 2020 lalu. Selain itu, sesuai imbauan pemerintah, seluruh geliat olah raga pun dihentikan termasuk pembinaan sepak bola usia akar rumput (usia dini dan usia muda). 

    Bila dihentikannya kompetisi Liga 1 dan 2, setiap klub memiliki program masing-masing untuk pemainnya, agar tetap dapat menjaga konidisi dan kebugaran pemain, maka sebagian Sekolah Sepak Bola (SSB) di Indonesia pun memberikan program khusus bagi para siswanya melalui tutoriol online dan grup media sosial.

    SSB terbanyak di dunia

    Perlu masyarakat ketahui, Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah Sekolah Sepak Bola (SSB) terbesar/terbanyak di dunia. Karenanya, dalam situasi wabah corona seperti sekarang, yang mengharuskan setiap orang wajib #DiRumahAja, maka menjadi hal baik bagi para pembina/pelatih SSB untuk "belajar" lagi. 

    Pembina/pelatih sepak bola usia akar rumput itu sama dengan guru. Namun, bila selama ini guru di sekolah formal saja selalu diberikan pelatihan tambahan yang programnya dari Kemendikbud atau dari organisasi profesi guru,  baik dalam bentuk pelatihan atau seminar atau keterampilan lain dalam rangka meningkatkan kemampuan profesionalnya, termasuk juga disertifikasi guru, meski telah mengantongi ijazah sarjana (minamal 4 tahun pendidikan), maka pembina/pelatih SSB pun harus demikian. 

    Sayangnya, para pembina/pelatih SSB yang sekadar hanya berlisensi D/C/B/A yang sertifikatnya diperolah dengan pelatihan hanya hitungan minggu/bulan, ternyata hingga kini, PSSI sendiri tidak pernah mengadakan pelatihan atau penguatan khusus bagi para pembina/pelatih SSB tersebut yang benar-benar tak memiliki latar belakang lain, semisal sebagai guru di eksolah formal.

    Maka, pantas saja, bila Shin Tae-yong pun mempersoalkan hal dasar yang sewajibnya menjadi kemampuan prima para pemain timnas, yaitu passing. Faktanya, selama ini, setelah saya telusuri, hampir semua SSB di Indonesia, ternyata menerapkan pola pembinaan/pelatihan anak usia dini dan muda, layaknya seperti latihan dalam klub, sebab apa? 

    Para pembina/pelatihnya adalah mantan pemain sepak bola mulai dari mantan pemain timnas, pemain klub, sampai hanya sekadar pemain kampung. Walaupun sudah ditunjang oleh Kurikulum Filanesia, tetap tak cukup. Malah bagi saya Kurikulum Filanesia belum dapat disebut kurikulum, karena hanya berisi panduan-panduan.

    Yang lebih memprihatinkan, para pembina/pelatih SSB yang hanya berbekal lisensi pelatih, banyak sekali yang tak menguasai ilmu mengajar, ilmu menjadi guru/pendidik. Ini sangat berbeda dengan para pelatih akademi di klub-klub sepak bola Eropa dan Amerika.

    Di Indonesia, guru-guru di sekolah formal saja yang selain telah memiliki ijazah sarjana dan akta 4, masih banyak yang saat di dalam kelas hanya sekadar mengajar, bukan mendidik. 

    Mendidik bukan mengajar

    Mengajar sesuai makna Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah memberi pelajaran/melatih, sama dengan hanya mentransfer ilmu, tak diiringi oleh didikan, yang mengarahkan siswa menjadi memahami luar dalam, untuk apa ilmu yang telah dipelajari dan bagaimana mengaplikasikannya di dalam dunia nyata yang harus ditunjang oleh kecerdasan intelgensi, personaliti, dan emosi. 

    Sementara makna mendidik adalah memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

    Jadi, pertanyaan bagi para pembina/pelatih sepak bola akar rumput, apakah selama ini hanya mengajar? Atau sudah mendidik. Bila masih mengajar, maka belum mendidik, namun bila sudah mendidik, maka sudah pasti mengajar/melatih.

    PSSI pasti sudah memahami hal ini, para pembina/pelatih sepak bola akar rumput bahkan hingga pelatih klub pun wajib ada pembinaan terstruktur kepada para pembina/pelatih sepak bola ini. 

    Yang menjadi keprihatinan, fakta di lapangan banyak ditemukan, pembina/pelatih sepak bola khususnya di akar rumput ini, jangankan mendidik, mengajar  nya saja masih belum sesuai harapan. Ini sangat fatal. 

    Mereka menghadapi anak-anak usia dini, pondasinya calon-calon pemain timnas dan pondasinya kehidupan nyata bagi anak-anak yang tidak jadi pemain timnas, namun menjadi masyarakat biasa. 

    Banyak sekali pembina/pelatih yang tidak dapat mengkomunikasikan materi ajarnya dengan benar kepada para siswa. Penggunaan bahasa yang tidak edukatif, keras dan kasar. 

    Bagaimana para siswa SSB akan dapat menyerap materi latihan, pun di mana letak didikan para pembina/pelatih ini, yang sangat terdeskripsi tatkala para pembina/pelatih ini berada dipinggir lapangan saat mengikuti festival atau kompetisi. Tentu itu adalah cerminan budaay dalam pola latihan juga.

    Bila mau ditelusuri lebih lanjut, salahkah para pembina/pelatih yang meski memiliki lisensi melatih sepak bola, namun tak memiliki kemampuan sesuai kualifikasi sebagai guru? Jawabnya, ya salah. 

    Harusnya pembina/pelatih sepak bola akar rumput ini, jangan sok-sok-an turun menjadi pelatih. Atau mengapa manajemen SSB nya masih mempercayakan pembina/pelatih yang tak memiliki kualifikasi masih membiarkan mereka turun berhadapan dengan anak-anak? 

    Lebih salah lagi, hingga kini, PSSI masih terus membiarkan SSB-SSB terus tumbuh dan lahir di tanah air, tanpa pernah sekali pun memberikan peraturan resmi menyoal keberadaan SSB. Sementara SSB yang sudah terlanjur lahir saja, masih menyisakan berbagai persoalan. 

    SSB itu Sekolah Sepak Bola. Maka, layaknya sekolah, minamal misalnya harus memenuhi syarat, ada Kepala Sekolah, Ada Tata Usaha, Ada Guru, Ada Tenaga Perpustakaan, Ada Tenaga penunjang lainnya, ada ruangan untuk belajar. 

    Ada supervisi kepala sekolah, ada supervisi guru, ada penilaian/rapor siswa, ada penilaian sekolah, ada penilaian kepala sekolah, ada penilaian guru dll dan memiliki sarana prasarana. 

    Nah, apakah semua pembina/pelatih memahami hakikat sekolah tersebut? Yang terjadi di Indonesia, saat di sebuah lapangan sepak bola, tertera spanduk berdiri SSB, para siswanya sudah mengenakan jersey SSB, maka resmilah dia menjadi Sekolah Sepak bola. 

    Lalu, hanya dalam jarak 3 tahun, karena SSBnya masih aktif/hidup, maka dapat bersanding dengan SSB lain dalam kompetisi baik yang dihelat pihak swasta maupun pemerintah. 

    Bagaimana PSSI? Apakah kondisi ini akan terus dibiarkan seperti ini? Membiarkan pula para pembina/pelatih yang tak memiliki kualifikasi mendidik pemain usia dini dan muda di Indonesia terus tak sesuai harapan demi menuju sepak bola nasional berprestasi? 

    Dalam situasi sekarang semua warga harus berdiam diri di rumah, silakan PSSI menyimak hal ini. Lalu, kira-kira apa solusi ke depan, agar Shin Tae-yong-Shin Tae-yong lain tidak lagi menemukan pemain timnas yang tak bisa passing. Tapi, akan lahir pemain timnas yang cerdas teknik-passing, intelegensi, personaliti, speed (TIPS) karena para pembina dan pelatih di sepak bola akar rumput dan klub memenuhi kualifikasi sebagai pendidik. 

    Karena para pembina/pelatih sepak bola akar rumput pun mau belajar lagi, membaca lagi hal-hal terkait sepak bola ataupun bidang umum, pun membaca tuntas dari awal sampai akhir, memahami isinya, lalu lahir kreativitas dan inovasi yang terus dapat dibagikan, ditransfer kepada para anak didiknya. 

    Bila nantinya, anak didiknya tidak tersaring menjadi pemain nasional, maka minimal mereka sudah terdidik dalam pendidikan sepak bola yang benar, pun terdidik menjadi manusia yang berkarakter dalam kehidupan nyata karena senantiasa disentuh akhlak dan budi pekertinya oleh para pembina dan pelatih sepak bola akar rumput. Aamiin.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.