Sawahlunto, Ada Rasa Jerman di Gedung Gluck Auf - Travel - www.indonesiana.id
x

Sejarah Societeit Gluck Auf Sawahlunto

putu tetehasan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 April 2020

Minggu, 3 Mei 2020 06:37 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Sawahlunto, Ada Rasa Jerman di Gedung Gluck Auf

    Dibaca : 1.044 kali

    Bila kita di Sawahlunto, sebelah selatan dari Kantor PT Bukit Asam, tepatnya di jalan Jenderal Ahmad Yani no 4 akan terlihat satu gedung yang cukup menonjol karena tepat disudut jalan yang jelas dari tampak luarnya merupakan gedung warisan dari jaman Kolonial Hindia Belanda.

    Bangunan ini sekarang diberi nama Gluck Auf, seperti tertulis pada fasadnya. Ini jelas bukan berasal dari Minang atau bahasa Indonesia.

    Gedung Pusat Kebudayaan Sawah Lunto , Societeit Gluck Auf

    Tulisan tersebut diatas bermula dari didirikannya gedung tempat berkumpul bagi masyarakat Hindia Belanda yang bermukim di Sawahlunto. Di sini terdapat aktifitas tambang batubara.

    Sesuai dengan catatan sejarah, batu bara ditemukan disekitar Batang Ombilin setelah penelitian dari Ir. C. De Groot van Embden pada 1858 dan diteruskan oleh Ir. Willem Hendrik de Greve pada 1867 yang memperkirakan ada deposit 200 juta ton batu bara. Pada 1 Desember 1888 kota ini mulai dibangun dan empat tahun kemudian pada 1892 dimulailah penambangan batu bara.

    Sesuai dengan kebiasaan pada jaman kolonial Hindia Belanda, pada setiap kota yang populasi orang Belanda cukup banyak, didirikankanlah suatu tempat bersosialisasi eksklusif untuk kalangan mereka yang diberi nama Societeit Bangunan ini biasanya dilengkapi kegiatan dalam dan luar ruang, bisa kegiatan musik, dansa ataupun bilyard dan tenis untuk kegiatan luar ruangnya.

    Di kota ini juga di dirikan societeit pada 1910 dan diberi nama Gluck Auf. Selain itu gedung ini juga sering disebut dengan Gedung Bola oleh masyarakat lokal. Terpilihnya nama tersebut, jelas karena mempertimbangkan kegiatan utama kota adalah mendukung penambangan Batu Bara.

    Societeit Gluck Auf , Sawah Loento

    Societeit Gluck Auf , Sawah Loento

    Gluck Auf adalah ucapan salam dalam bahasa Jerman di kalangan para pekerja tambang yang artinya semacam harapan agar para pekerja selamat dan berhasil dalam menggali tambang. Sebenarnya kata itu merupakan singkatan kalimat dalam bahasa Jerman "Ich wünsche Dir Glück, tu einen neuen Gang auf" (saya berharap anda beruntung dalam menggali tambang baru).

    Menurut catatan sejarah, istilah Gluck Auf ini muncul pada abad 16. Catatan tertulis pada 1575, Hans Zobeld memberi nama salah satu tambangnya di Erzgebirge (Ore Mountains) uffm Glück auff”. Pada abad 17 ucapan salam ini telah menjadi populer dikalangan pekerja tambang di ErzgebirgeDalam perjalanan sejarah kata ini akhirnya menjadi populer di daerah yang menjadi bagian dari Jerman, sekarang kata ini tetap dipakai di Ceko, Austria, Polandia dan Slovenia.

    Gedung ini sempat kehilangan tulisan Gluck Auf pada fasadnya tetapi akhirnya pihak pemda mengembalikan tulisan itu walaupun tidak terlalu menyolok bila dibandingankan dengan tulisan lainnya yang ada pada fasad gedung.

    Gedung Pusat Kebudayaan Sawah Lunto , Societeit Gluck Auf

    Gedung Pusat Kebudayaan Sawah Lunto , Societeit Gluck Auf

    Dengan dijadikan kawasan tambang Batubara Ombilin menjadi warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 6 Juli 2019, diharapkan agar Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto dapat melengkapi tempat tujuan wisata yang sudah ada di Sawahlunto dan tetap menjaga dan melestarikan sejarah tambang di Indonesia dan khususnya tentang sejarah Sawah Lunto.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.