Sejarah Fort de Ontmoeting, Oenarang 11 Mei 1746 - Travel - www.indonesiana.id
x

Gerbang Benteng Ontmoeting

putu tetehasan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 April 2020

Sabtu, 9 Mei 2020 17:17 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Sejarah Fort de Ontmoeting, Oenarang 11 Mei 1746

    Dibaca : 683 kali

    Fort de Ontmoeting adalah salah satu dari benteng  dijaman kolonial Hindia Belanda, hanya berupa benteng kecil yang terletak di jalan Semarang–Solo , terletak disisi timur jalan ( disebelah kiri ), tepatnya di daerah Ungaran

    Fort de Ontmoeting

    Benteng yang sekarang dikenal dengan nama Benteng Willem II , masih diperdebatkan tahun berdirinya. Tetapi sejarah mencatat tahun 1742 Gubernur Jendral VOC ke 25 Gustaaf Willem Baron van Imhoff pernah dirawat di benteng ini dihari-hari akhir dari peristiwa Geger Pacinan , tetapi tidak ada catatan nama benteng tersebut.

    Sepertinya nama itu didapat mengikuti suatu kejadian di benteng pada tanggal 11 Mei 1746, dimana setelah beberapa kejadian selama Geger Pacinan di Tanah Jawa, dimulai dari kekalahan pasukan Mataram, bergabungnya penguasa Madura Pangeran Cakraningrat IV (ipar dari Sri Susuhunan Pakubuwana II ) dengan VOC.

    Lalu jatuhnya istana Kartasura, Perjanjian Ponorogo 1743 dan terakhir rencana pemindahan keraton Mataram yang telah hancur di Kartasura akibat Geger Pacinan kedearah Sala, membuat kejadian tanggal 11 mei 1746 itu harus terjadi.

    Gustaaf Willem Baron van Imhoff

    Pada tanggal tersebut diadakan pertemuan antara Gubenur Jendral VOC Van Imhoff dan Sri Susuhunan Pakubuwana II ( PB II ) di 11 Mei 1746 , yang intinya membicarakan, antara lain, tentang kelanjutan dari Perjanjian Ponorogo, kewajiban Kerajaaan Mataram kepada VOC, nasib dan status Pantai Utara Pulau Jawa.

    Hasil dari pertemuan ini jugalah yang memicu perang suksesi Mataram, yang pada akhirnya mengakibatkan pecahnya Mataram menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Jogjakarta.

    Pertemuan ini rupanya memberi kesan yang mendalam dipihak VOC dan dari sinilah benteng ini mendapat nama Fort de Ontmoeting, sebuah nama yang terinspirasi dari 11 Mei 1746. Arti kata bahasa Belanda Ontmoeting adalah “bertemu atau bersua“. Pertemuan 11 Mei 1746 lah yang menjadikan benteng ini resmi mendapat nama.

    Banyak peristiwa penting terjadi di Benteng yang dahulunya dikelilingi oleh parit pertahanan seperti layaknya sebuah benteng. Tempat ini menjadi pertahanan terakhir dari Gubernur Jendral VOC ke 34 atau Gubenur Jendral ke 5 Perancis-Belanda di Hindia Belanda Jan Willem Janssens (pengganti Herman Willem Daendels) setelah gagal mempertahankan Batavia dari serbuan tentara Kerajaan Inggris yang dipimpin oleh Letnan Jendral Sir Samuel Auchmuty.

    Pada 28 Agustus 1811 benteng berhasil direbut oleh Kolonel Rollo Gillespie, di 18 September 1811 Janssens menyerah di Tuntang, berakhirlah masa Perancis-Belanda Hindia dan dimulai masa Inggris di Hindia.

    Letnan Jendral Sir Samuel Auchmuty

    Jan Willem Janssens

    Kolonel Rollo Gillespie

    Pada 1826, benteng ini hampir jatuh ketangan pasukan Pangeran Diponogero setelah dikepung selama hampir 2 minggu oleh pasukan yang dipimpin Kyai Mojo.

    Peristiwa penting dan menyedihkan terjadi di benteng pada Maret 1830 , setelah proses penangkapan Pangeran Diponegoro pada 28 Maret 1830 di Magelang. Pangeran dan rombongan tawanan dikawal untuk menuju Semarang sempat mampir dan bermalam pada tanggal 29 Maret 1830 dan keesokan harinya 30 Maret 1830 tiba di Semarang, untuk selanjutnya ke Batavia dan dibuang ke Sulawesi.

    Sejarah tidak mencatat secara jelas sejak kapan Benteng ini mendapat nama Benteng Willem II, yang dari kebiasaan Belanda memberi nama raja atau tokoh penting kepada benteng. Tetapi dari catatan sejarah tahun 1786 seperti tertera pada gerbang dengan angka romawi MDCCLXXXVI benteng mengalami perbaikan benteng besar-besaran, nampaknya penulisan tahun dibuat lebih baru karena pada photo tahun 1933 tidak nampak angka romawi tersebut.

    Fort de Ontmoeting 1933

    Perbaikan 1786 terjadi pada masa Pangeran Willem V ( Oktober 1751 – Januari 1795 ) sebagai raja Republik Tujuh Provinsi dan di Hindia memerintah Gubernur Jendral VOC ke 29 Willem Arnold Alting ( 1780 – 1797 ).

    Bila dilihat , nama Willem adalah nama raja Belanda , tetapi siapa yang dimaksud dengan Willem II , karena dalam daftar Raja Belanda hanya ada 2 raja yang bergelar Willem II. Pertama adalah Willem II pada masa Republik Belanda ( Republik Tujuh Provinsi ) yang memerintah Maret 1647 – Nopember 1650 . Kedua adalah Raja Willem II pada masa Kerajaan Belanda ( bentuk akhir kerajaan sampai sekarang ), memerintah Oktober 1840 – Maret 1849.

    Kalau dilihat dari catatan diatas , kemungkinan benteng mendapat nama dari Willem II ( 1647 – 1650 ) agak mustahil, karena pada setelah 1746 benteng masih bernama Fort de Ontmoeting .

    Kemungkinan yang paling masuk akal , benteng ini mendapat nama dari Willem yang kedua yang kebetulan juga raja ke II dari Kerajaan Belanda modern yaitu Raja Willem II ( Willem Frederik George Lodewijk van Oranje-Nassau ) yang disebutkan diatas memerintah kerajaan Belanda 1840 – 1849.

    Seperti sudah menjadi tradisi , untuk menghormati dan merayakan pelantikan raja atau ratu baru , biasanya para Gubenur Jendral memberikan nama pada sesuatu bangunan yang megah , misalnya berapa mercu suar di Hindia Belanda diberi nama Raja.

    Jadi kemungkinan besar pada saat Kerajaan Belanda mengangkat raja baru pada 1840 , Gubernur Jendral ke 42 atau 43 yang memerintah di Hindia belanda pada 1836 – 1841, yaitu Dominique Jacques de Eerens atau Carel Sirardus Willem graaf van Hogendorp yang memberikan secara resmi nama Willem II  kepada Benteng.

    Willem II ( Willem Frederik George Lodewijk van Oranje-Nassau )

    Setelah Perang Diponegoro usai, benteng ini mulai kehilangan perannya, karena dimulai pembangunan benteng di daerah Ambarawa. Diperkirakan dibangun dalam periode 1834 – 1853, benteng ini kemudian diberi nama Benteng Willem I . Nama ini mungkin diberikan karena awal dari pembangunan benteng yang memerintah dikerajaan Belanda adalah Raja Willem I Frederik (Willem Frederik Prins van Oranje-Nassau) Maret 1815 – Oktober 1840.

    Sejarah mencatat, benteng ini pernah menjadi rumah sakit setelah Benteng Willem I Ambarawa selesai pembangunannya, selama penjajahan Jepang menjadi penjara menjadi asrama Polisi Belanda paska 1945 hingga 1950. Sempat menjadi asrama militer sebelum dikembalikan ke Polri untuk dijadikan asrama.

    Fort de Ontmoeting

    Pada tahun 2007 Pemda Semarang berencana menjadikan benteng ini museum tetapi terkendala dengan status kepemilikan dari tanah dan bangunan.

    Sekarang Benteng sudah lebih tertata dengan baik lengkap dengan lansekap di depannya dan berfungsi sebagai semacam gedung serba guna yang diberi nama Balai Pertemuan Polisi dan Masyarakat.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.