Kehidupan New Normal Pasti akan Terjadi, Siapkah Indonesia? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

normal baru

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 19 Mei 2020 15:54 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kehidupan New Normal Pasti akan Terjadi, Siapkah Indonesia?

    Dibaca : 558 kali

    Indonesia baru mengakui ada korban terpapar virus corona pada 2 Maret 2020. Hingga Senin (18/11/2020) korban terpapar bertambah 496 hingga secara totol jumlah terkonfirmasi menjadi 18.010, meninggal 1191, dan sembuh 4324. 

    Melihat fakta bahwa dalam sehari-hari jumlah korban terpapar dan meninggal terus bertambah seperti demikian, sebab penanganannya oleh pemerintah sejak awal juga tidak pernah serius, namun kini pemerintah tiba-tiba mau ikut-ikutan membikin situasi Indonesia ke New Normal? 

    Sementara jumlah korban tiap hari bertambah karena penanganan yang tidak serius, mencla-mencle dan longgar, membikin para petugas medis pasrah dan akhirnya muncul #IndonesiaTerserah. 

    Bahkan Presiden Jokowi meminta masyarakat bersiap untuk menghadapi era normal baru, yaitu kondisi ketika masyarakat bisa kembali beraktivitas secara normal, tetapi harus tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19. "Bapak Presiden menekankan pentingnya kita harus bersiap siaga untuk menghadapi era normal baru, kehidupan normal baru," kata Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy usai rapat dengan Presiden, Senin (18/5/2020). 

    Dalam rapat tersebut, Muhadjir juga mengakui, dibahas upaya untuk melakukan relaksasi atau pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Apakah selama pemerintah daerah melaksanakan PSBB sudah terbukti ada daerah yang sangat signifikan menurun jumlah korban yang terpapar? 

    Lalu, bila hampir di semua daerah Indonesia masyarakat terlihat abai dan dianggap kurang menyadari bahaya virus corona karena tetap tak patuh pada PSBB dan aturan larangan mudik, ini dianggap sebagai sebuah realitas karena murni rendahnya masalah pendidikan dan kecerdasan emosi masyarakat? 

    Jangan-jangan sikap masyarakat yang demikian karena memang disengaja, padahal itu sebagai bagian dari bentuk protes, bentuk kritik, bentuk kekecewaan, bentuk demonstrasi, karena rakyat merasa pemerintah tidak bertanggungjawab dan tidak serius menangani corona serta lebih membela ekonomi, bukan nyawa rakyat. Sadarkah hal ini, pemerintah? 

    Tidak pernah seriusnya Indonesia mengantisipasi wabah corona dari sebelum masuk Indonesia, lalu virus masuk dan terus menyebar, kurang tanggap dalam bersegera bertindak dan menyelamatkan rakyat, pelit memberi bantuan dari uang rakyat karena lebih memprioritaskan programnya sendiri, bahkan sampai terbaca oleh media dan negara lain. 

    Vietnam, Selandia Baru, Jerman (New Normal)

    Kini, dalam situasi yang belum pasti, Indonesia juga sudah ancang-ancang akan membikin Indonesia new normal, seperti Vietnam atau Selandia Baru dan Jerman, yang jauh lebih dulu terpapar corona dan jauh lebih dulu berhasil menekan virus menyebar. 

    Rencana relaksasi ini, adalah dalam rangka untuk meningkatkan atau memulihkan produktivitas ekonomi. Pertanyaannya, apakah Presiden Jokowi akan mengambil langkah new normal di Indonesia sebagai tindakan tepat? 

    Memang presiden telah menetapkan perlunya ada kajian yang cermat dan terukur, melibatkan banyak pihak untuk mempersiapkan tahapan-tahapan pengurangan PSBB dan menuju pada era new normal atau normal baru. Kepala Negara menegaskan bahwa masyarakat harus hidup berdampingan dengan Covid-19 karena sampai saat ini vaksin belum ditemukan. Tak ada yang mengetahui pasti kapan pandemi akan berakhir. 

    "Kebutuhan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan, itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru," kata Presiden pada Jumat (15/5/2020l). 

    Memang, dipastikan, setelah pandemi global, dunia akan memasuki fase normal baru. Efeknya, masyarakat benar-benar wajib menyiapkan diri dan harus mampu beradaptasi nantinya. 

    Sebab, dalam kehidupan normal baru, dalam kondisi yang tidak pasti, karena virus corona entah sampai kapan akan benar-benar lenyap dari muka bumi, maka masyaraktlah yang wajib menyesuikan dengan keadaan dan kondisi dan mampu beradaptasi. 

    Yang pasti, dalam fase dunia dalam normal baru nanti, masalah kesehatan akan menjadi masalah utama. Hidup tergantung dengan masker, cuci tangan, jaga jarak, dan akan ada budaya rajin mengonsumsi jamu. 

    Namun, yang pasti juga, apakah lapangan kerja dan pekerjaan akan sama dengan kehidupan sebelum hadirnya pandemi? Kini dalam situasi pandemi, pekerjaan sudah mulai terbiasa dilakukan dengan online. Meeting online. Semua serba online. Ini bahaya besar bagi masyarakat yang tidak mampu menyesuaiakan diri dan mampu beradaptasi dengan dunia digital. Pasti juga akan terpinggirkan dan semakin meningkat pengangguran. 

    Akibatnya, sektor informal akan digeruduk masyarakat yang kehilangan pekerjaan, persaingan hidup juga semakin ketat. Dan, masih banyak lagi yang akan terjadi dalam kehidupan normal baru. 

    Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. 

    Prinsip utama dari new normal itu sendiri adalah dapat menyesuaikan dengan pola hidup. "Secara sosial, kita pasti akan mengalami sesuatu bentuk new normal atau kita harus beradaptasi dengan beraktivitas, dan bekerja, dan tentunya harus mengurangi kontak fisik dengan orang lain, dan menghindari kerumunan, serta bekerja, bersekolah dari rumah," dilansir dari Kompas.com. 

    Jadi, memang mau tidak mau dunia harus melanjutkan fase kehidupan normal baru seperti yang kini sudah diberlakukan di Vietnam, Selandia Baru, dan Jerman. 

    Bagaimana di Indonesia? Tepatkah kehidupan normal baru diterapkan sejak sekarang? Bila benar masyarakat secara fakta memang selama ini abai dan tidak mau menyadari bahaya virus corona, bukan karena sedang protes dengan sikapnya kepada pemerintah, sehingga masyarakat Indonesia juga sulit diatur dan tetap mau hidup normal, risiko terbesar bila fase hidup normal baru benar-benar diberlakukan, maka korban terpapar virus corona di NKRI akan sulit diurai dan diputus mata rantainya. 

    Terbayang betapa semakin repotnya para petugas medis, betapa semakin penuhnya rumah sakit. Sebab dalam kondisi PSBB saja, Senin (18/5/2020), korban terpapar di Indonesia masih 496 orang. Maaf, itu yang dilaporkan oleh pemerintah. 

    Kira-kira berapa korban terpapar hari ini, Selasa (19/5/2020) dan hari-hari yang lain selanjutnya? Namun, yang pasti, Indonesia juga akan mengalami dan menjalani fase kehidupan new normal seperti 3 negara lain yang kini sudah menerapkan di tengah ketidakpastian kapan akan usainya pandemi ini. Kapan akan ditemukan vaksin ini. 

    Corona ada 3 jenis?

    Bila ada pihak lain (luar negeri yang juga berpikiran bahwa virus corona ada 3 jenis,  yaitu sebut saja jenis A produk Amerika yang disebarakan di Ameriak, jenis B produk Wuhan China di sebarkan di China, dan jenis C produk Israel yang disebarkan di Eropa, kira-kira jenis A atau B atau C yang kini disebarkan di Indonesia? 

    Sebab dalam cuaca panas Indonesia virus itu tetap tumbuh subur dan makmur. Bila ini dapat di deteksi oleh para akademisi Indonesia, maka vaksinnya juga tidak akan salah sasaran. 

    Jangan sampai Indonesia disebari virus B, tetapi vaksinnya untuk virus A atau C, nanti tidak nyambung. Ingat, deteksi jenis dan asal virus ini juga sangat penting dalam menghadapi fase kehidupan new normal atau normal baru. 

    Bagaimana  Bapak Presiden? Bagaimana Masyarakat? Apakah sebaiknya fase normal baru segera diberlakukan? Karena dalam kondisi PSBB pun, kehidupan tetap normal, meski banyak masyarakat yang tetap mematuhi aturan dan fatwa MUI untuk tetap beribadah di rumah. 


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.