Manusia Dituntut Dirinya Sendiri untuk Mempelajari Psikologi - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Permepuan. Pixabay.com

Raiders Marpaung

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Juni 2020

Sabtu, 4 Juli 2020 17:42 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Manusia Dituntut Dirinya Sendiri untuk Mempelajari Psikologi

    Dibaca : 1.052 kali

    ABAD ke 21 sekarang ini ditandai antara lain dengan cepatnya laju pertambahan penduduk dunia serta lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidangnya. Jumlah penduduk dunia yang pada 1930-an hanya sekitar 2,070 milyar jiwa, tahun 1990 diperkirakan mencapai 5 milyar dan pada tahun 2020 ini sudah mencapai 7,75 milyar jiwa.

    Di dalam kehidupan yang serbaneka ini, manusia senantiasa mendapati perbedaan khusus disamping persamaan-persamaannya yang bersifat umum. Maka dalam pergaulannyapun harus berhadapan dengan usaha agar orang lain selaras dengan dirinya, dan sebaliknya dirinya selaras dengan orang sepergaulannya. Pada keadaan yang demikian itu manusia dituntut oleh dirinya sendiri untuk mempelajari psikologi. Utamanya dalam hubungannya bagaimana cara individu-individu bertingkah laku dan bagaimana pula dirinya seharusnya bertingkah laku menghadapi individu-individu sepergaulannya.

    Dalam pengertian sehari-hari kita sering mendapati arti yang  sangat bermacam-macam dari kata psikologi. Kebanyakan orang berpendapat psikologi adalah ilmu jiwa. Tetapi ada pula orang yang berpendapat psikologi adalah ilmu tentang tingkah laku atau perilaku.

    Dalam mempelajari psikologi akan lebih banyak kita mengadakan pengenalan terhadap gejala-gejala tingkah laku sehingga timbul kecenderungan banyak orang untuk memberikan definisi, bahwa psikologi itu ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala tingkah laku manusia. Bahkan juga sampai kepada gejala-gejala tingkah laku binatang dan peri hidup tumbuh-tumbuhan. Demikian pendapat ini dikemukakan oleh aliran psikologi behaviorisme yang dipelopori oleh JB Watson yang pengaruhnya mencapai puncaknya sekitar tahun 1919 sampai dengan tahun 1930-an.

    Pendapat lain dikemukakan Carl Gustav Jung, seorang tokoh psikoanalisa dari Switzerland (1875-1961) yang banyak mencurahkan perhatiannya untuk menyelidiki arti kata psikologi ditinjau dari segi harfiahnya. Ia mencoba mencari arti-arti dari kata psyche dan arti kata-kata lain yang berdekatan lalu mencoba menghubung-hubungkan arti-arti kata-kata itu.

    Misalnya ia tertarik pada kata anemos dalam bahasa Yunani yang berarti angin, sedangkan dalam bahasa Latin kata-kata animus dan anima masing-masing berarti jiwa dan nyawa. Di lain pihak kata Yunani psycho berarti pula meniup. Dalam bahasa Arab ia mendapatkan bahwa kata-kata ruh dan rih masing-masing berarti jiwa atau nyawa dan angin.

    Dengan demikian ia menduga adanya hubungan antara apa yang bernyawa dengan apa yang bernafas (angin), dan psikologi jadinya adalah ilmu tentang sesuatu yang bernyawa.

    Dalam sejarah perkembangan psikologi, ada beberapa teori yang masing-masing memiliki pandangan tertentu tentang tingkah laku manusia. Masing-masing teori memiliki argumentasinya sendiri, bahkan mungkin bertentangan.

    Teori Psikologi Klasik

    Berdasarkan teori ini, manusia terdiri dari jiwa (mind) dan badan (body). Jiwa dan badan berbeda satu sama lain. Badan adalah suatu obyek yang memiliki alat dria, sedangkan jiwa adalah suatu realita yang bersifat non material. Yang ada di dalam badan, yang berpikir, merasakan, berkeinginan, mengontrol kegiatan badan, dan bertanggung jawab.

    Zat sifatnya terbatas dan bukan suatu keseluruhan realita, melainkan berkenaan dengan proses-proses material, yang terikat pada hukum-hukum mekanis. Jiwa merupakan fakta-fakta tersendiri, seperti: rasa sakit, frustrasi, aspirasi, appresiasi, maksud dan kehendak. Unsur-unsur jiwa tersebut bukan hasil daripada zat, tetapi mempunyai sumber tersendiri dalam realita yang berbeda, yang mempunyai hak tertentu, dan secara relatif bebas dari hukum-hukum mekanis. Realita ini disebut mind substansi

    Jiwa merupakan suatu substansi, artinya merupakan satu kesatuan tersendiri, beroperasi secara bebas, merupakan jiwa yang hidup, mempunyai kekuatan untuk berinisiatif, dapat menemukan hukum-hukum alam dan menguasainya. Jiwa bersifat permanen namun tidak terpisah dari zat, bahkan dapat merangsang proses zat itu dan menghasilkan pengalaman-pengalaman baru. Jiwa dapat menyebabkan sistem syaraf memperkaya pengalaman. Ini berarti, pengalaman bergantung pada substansi mind.

    Teori Psikologi Daya

    Teori ini bertitik tolak dari pandangan, bahwa jiwa manusia terdiri dari berbagai daya, seperti: daya mengingat, berpikir, merasakan, kemauan, dan sebagainya. Setiap daya memiliki fungsi tertentu. Setiap individu memiliki semua daya itu, yang masing-masing berbeda kekuatannya. Daya-daya itu perlu dilatih agar berkembang dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Teori ini bersifat formal, karena mengutamakan pembentukan daya-daya.

    Hal ini sama dengan daya-daya pada badan. Bila suatu daya telah dilatih, maka daya-daya lainnya secara tak langsung juga terpengaruh, dan orang tersebut dapat melakukan transfer of learning terhadap situasi lainnya. Kurikulum menyediakan sejumlah mata ajaran untuk mengembangkan daya-daya tersebut. Penekanannya bukan pada isi materi yang disajikan, tetapi pada pembentukan daya. 

    Teori Psikologi Assosiasi

    Teori ini bertitik tolak dari Psikologi Assosiasi yang dipelopori oleh J. Herbart. Pada dasarnya jiwa manusia terdiri dari kesan-kesan pengamatan atau tanggapan melalui pengindriaan terhadap perangsang diluar dari suatu obyek tertentu. Kesan-kesan itu berassosiasi satu sama lain yang membentuk mental atau kesadaran manusia. Bertambah kuat assosiasi tersebut semakin kuat pula kesan-kesan itu berada dalam jiwa.

    Kesan-kesan itu dapat diungkapkan kembali dengan mudah bila tertanam kuat dalam ruang kesadaran. Sebaliknya, bila kesan-kesan itu lemah, maka akan lebih mudah pula dilupakan. Yang penting adalah bahan atau materi yang disampaikan kepada seseorang. Karena itu teori ini bersifat materialistik. Jiwa akan baik jika materi yang ditanamkan adalah baik, dalam arti sesuai dengan norma etika.

    Teori Psikologi Behavioristik

    Behavioristik ialah suatu studi tentang tingkah laku manusia. Teori ini muncul, karena rasa tidak puas terhadap teori psikologi daya dan teori mental state (psikologi assosiasi). Pandangan Natural Science besar pengaruhnya terhadap munculnya teori baru ini. Jiwa atau sensasi tak dapat diterangkan melalui jiwa itu sendiri.

    Jiwa sesungguhnya adalah respon-respon fisiologis. Badan menjadi titik tolak utama. Natural science melihat semua realita sebagai gerakan-gerakan. Pandangan ini berpengaruh atas kemunculan Behavioristik. Metode yang tepat ialah metode obyektif dan ilmiah, bukan metode introspeksi karena metode ini menimbulkan pandangan yang berbeda-beda terhadap obyek luar. Jadi kesadaran itu tak ada gunanya.

    Konsepsi yang diajarkan oleh behaviorisme besar pengaruhnya mengenai masalah belajar. Belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respon. Dengan memberikan stimulus individu akan mereaksi dengan respon tertentu.

    Teori Psikologi Gestalt

    Psikologi Gestalt sering disebut Psikologi Organismik, atau Teori Lapangan (Field Theory). Jiwa manusia adalah suatu keseluruhan yang berstruktur dan bermakna. Suatu keseluruhan bukan terdiri dari jumlah bagian-bagian atau unsur-unsur. Unsur-unsur berada dalam keseluruhan menurut struktur tertentu yang saling berinteraksi satu sama lain.

    Kita ambil sebuah contoh sederhana: sebuah kepala manusia bukan penjumlahan dari batok kepala, telinga, mata, hidung, mulut, rambut, dagu, dahi, dan lain-lainnya; kepala adalah suatu keseluruhan yang bermakna, unsur-unsur tersebut berada pada strukturnya masing-masing. Masing-masing mempunyai fungsinya yang mempunyai makna dalam keseluruhan itu. Demikian pula suatu hal, atau benda, atau perbuatan dan sebagainya hanya bermakna dalam situasi keseluruhan tertentu.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.