Kisah Perjalanan (7) 30 Juli, Paris-Swiss dan Susuri Lucerne - Travel - www.indonesiana.id
x

Swiss

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 31 Juli 2020 09:14 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Kisah Perjalanan (7) 30 Juli, Paris-Swiss dan Susuri Lucerne

    Dibaca : 419 kali

    Kemarin, 29 Juli 2011, usai sarapan pagi, setelah  rombongan kembali nikmati kota Menara Eiffel ini. Jalan-jalan, gedung, galeri, mal, jadi sasaran rombongan. Berdua, bertiga, grup/rombongan, ada yang naik taxi, kereta bawah tanah, atau berjalan kaki ria. Lalu melepas lelah, rebah di Holiday Inn Gijon. Maka, pagi ini setelah sarapan pagi, kami menuju Swiss.

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Menempuh perjalanan darat menggunakan bus yang setia mengantar perjalanan kami selama di Eropa sudah terasa menjadi biasa. Terlebih, bus yang melayani kami adalah bus yang sangat nyaman, sudah seperti rumah kami sepanjang perjalanan, meski kami selalu bermalam di hotel.

    Hari ini, Sabtu, 30 Juli 2011, saya sudah tak melihat lagi agenda perjalanan. Yang pasti kini kami sedang menuju Brunnen Swiss. Perjalanan dari Gijon sekitar enam jam. Selama perjalanan, pemandangan Eropa sudah menjadi santapan sehari-sehari. Di Swiss kami akan singgah dua hari satu malam. Siang ini, arah tujuan kami adalah menjelajah salah satu kota yang terkenal dengan jam tangan.

    Swiss adalah negara federal berisi 26 kanton di Eropa  Tengah yang berbatasan dengan Jerman, Prancis, Italia, Liechtenstein, dan Austria. Sebagian besar wilayah terdiri dari Pegunungan Alpen. Swiss memiliki lebih dari 1500 danau, dengan 6% cadangan air tawar Eropa. Danau dan gletser menutupi sekitar 6% dari wilayah negara. Danau terbesar adalah Danau Jenewa, di Swiss barat bersama dengan Prancis. Iklim Swiss umumnya beriklim sedang, tetapi dapat sangat bervariasi antara daerah, dari kondisi glasial di puncak gunung hingga iklim Mediterania di ujung selatan Swiss. Ada beberapa daerah lembah di bagian selatan Swiss di mana beberapa pohon kelapa dingin ditemukan.

    Dalam perjalanan, kami pun sempat rehat dan makan siang yang telah dipersiapkan.  Usai makan siang, saat perjalanan kembali di lanjutkan, kami pun sampai di Lucerne.

     

    Sumber: Supartono JW

    Lucerne adalah tempat pilihan utama bagi setiap wisatawan saat hadir di Swiss.  Kota yang terkenal karena konser musik, sebagai  Pusat Kebudayaan dan Konvensi kota ini adalah rumah bagi salah satu ruang konser terkemuka di dunia.

    Sumber: Supartono JW

    Selain itu, di kota ini juga ada danau biru berkilauan dikelilingi pegunungan. Sebagai kota abad pertengahan yang bebas mobil, jembatan tertutup, kawasan pejalan kaki di tepi danau, bangunan bersejarah, dan plaza dengan air mancur yang menggelegak. Itulah gambaran dari kota tempat wisata di Swiss ini.

    Sumber: Supartono JW

    Kami pun begitu hadir di pinggir danau, rasanya ingin berlama-lama. Sayang karena waktu yang terbatas, kami tak mengeksplorasi keindahan dan pemandangan danau dengan perahu dayung. Setelah puas menikmati keindahan danau, kami pun bergeser ke pusat kota.

    Seperti kota-kota di Eropa lainnya, sambil berjalan santai, tatapan mata tak pernah lepas dari jajaran gedung yang bertembok  tua dan banyak menara yang ada sepanjang jalan tersebut. Setiap menara dirancang oleh arsitek dan seniman yang berbeda-beda.

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Saya pun sempat mampir ke toko souvenir, dan membeli beberapa barang khas cinderamata Swiss. Tak lupa kami juga masuk dan menjelajah ke Bucherer (Butik jam terkenal di Swiss). Tak ada mobil atau kendaraan pribadi yang melintas. Hanya bus wisata yang membawa turis, serta bus kota sejenis busway di Jakarta yang melintas di kota yang sangat cantik ini.

    Sumber: Supartono JW

    Demi melegakan tenggorokan, saya pun berhenti di salah satu cafe, demi menegak minuman hangat, coklat dan beberapa makanan ringan khas kota ini. Tanpa terasa, matahari pun sudah bergeser, kami pun harus kembali masuk dalam rumah kami, bus yang selalu setia.

    Sumber: Supartono JW

    Menyusuri jalan-jalan kota dan bus pun mengarah ke Hotel Landhaus, di kawasan Engelberg. Sebab, besok kami akan bercengkrama di TITLIS. Yaitu nama gunung di gugusan Pegunungan Alpen di Swiss dengan ketinggian 3.020 meter di atas permukaan laut. Titlis adalah mutiara di mahkota Swiss, dan satu-satunya glasier yang dapat diakses masyarakat umum.

    Sumber: Supartono JW

    Bus pun sudah sampai di halaman parkir Hotel Landhaus. Udara dingin sudah mulai terasa begitu kami menurunkan bebarapa barang perlengkapan pribadi yang harus di bawa ke kamar hotel. Dari kamar hotel, saat saya memandang k luar, lampu-lampu di kejauhan membuat kami serasa ada di sebuah lembah karena hotel tempat kami menginap dikelilingi pegunungan yang sangat cantik.

    Sumber: Supartono JW

    Usai santap malam di resto hotel, kami pun memilih langsung beristirahat demi menyiapkan fisik untuk menginjakkan kaki di Titles esok hari.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Supartono JW

    Senin, 27 Juli 2020 18:56 WIB

    Kisah Perjalanan (4) 27 Juli, Sehari di La Vallee dan Disneyland-Paris

    Dibaca : 508 kali

    Hari ini, Rabu, 27 Juli 2011 setelah sarapan pagi, sesuai agenda kami akan bertandang ke La Valee Outlet Shooping Village dan lanjut ke Paris-Disneyland. Sebenarnya, masih ingin badan ini rebahan di kamar hotel, namun apa boleh buat, saya harus mengikuti agenda perjalanan wisata yang memang sudah sangat tertata. Jadi, tidak boleh ada waktu yang meleset dari jadwal yang telah ditentukan. Kemarin, setengah hari ada di Brussel-Belgia, dan setengah harinya lagi berada di bus baik dari Amsterdam menuju Brussel, maupun Brussel menuju Paris, memang tidak begitu banyak menguras tenaga, karena semua perjalanan di tempuh pada siang hari. Nyamannya bus yang membawa kami dan pemandangan indah antara Brussel-Paris, menjadikan kami tak merasakan bahwa kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam 40 menit. Bahkan, saat bus harus rehat di rest area pun, kami sebenarnya ingin bus tak perlu berhenti, karena semangatnya kami. Malah saat bus masuk ke Paris, kami pun tak menyadari bahwa kini kami sudah ada di negera Prancis. Bila di sebelumnya kami sudah bercengkerama di Istanbul-Turki selama sehari. Lalu, di Sofia, Veliko Tarnovo, dan Razgrad-Bulgaria selama delapan hari. Berikutnya, singgah di Koln, Duseldorf-Jerman sekitar tiga jam, dan di Volendam, Amsterdam-Belanda selama dua malam satu hari. Kemudian, di Brussel-Belgia setengah hari, maka di Paris-Prancis ini, kami menginap selama empat malam dan bercengkerama selama tiga hari penuh.