Andai Dunia Sesederhana Ini... (Oleh Idrus F Shahab) - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 15 September 2020 11:56 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Andai Dunia Sesederhana Ini... (Oleh Idrus F Shahab)

    Dunia tak banyak berubah. Kalau dulu Tom muncul sebagai kucing berbulu hitam dengan sembarut putih pada dada dan perutnya, sekarang ia seekor kucing dengan punggung biru dan perut putih. Televisi berwarna telah menggantikan televisi hitam-putih, tapi pertarungan kucing lawan tikus, si jahat lawan si baik, negara kaya lawan negara miskin, Timur lawan Barat, bahkan Islam versus Barat, moderat versus garis keras, dan liberal versus tradisional belum juga berakhir. Hegel menyebutnya standing contradiction, sesuatu yang membuat dialektika mandek.

    Dibaca : 1.056 kali

    Wak Lihun tak ingin diganggu. Tetangga yang menyapa, istri yang menawarkan kudapan, tak digubris. Matanya berbinar-binar, terpusat pada kotak televsi di hadapanya.

    Inilah Tom dan Jerry dalam The Cat Concerto, salah satu film kartun produksi Warner Bros. Panggung temaram yang luasnya sekitar 10 x 15 meter persegi itu jadi terang-benderang, manakala sang maestro mengayunkan kakinya ke sebuah grand piano, persis di tengah-tengah pentas. Tom, sang maestro, terpekur sejenak di hadapan barisan tuts, di bawah tatapan ribuan pasang mata penonton. Suatu mukadimah yang mayestis dari Hungarian Rhapsody no 2 in C # minor karya Franz Lizst (1811 – 1886) meluncur dalam tangganada minor, nadanya bulat dan tegas, seakan-akan hendak menyampaikan sebuah manifesto politik.

    Segalanya berlangsung sesuai rencana, sampai akhirnya bagian itu kemudian diisi rangkaian nada-nada ringan lagi bergemerincing lincah: sebuah potongan lagu rakyat Hungaria.

    Tiada yang tahu si tikus Jerry tengah lelap di dalam bak piano, meringkuk dengan selimutnya yang mungil dan tipis ketika Tom semakin larut dalam musik. Pada Hungarian Rhapsody no 2 bagian ini, dentingan tuts bukan hanya membangunkan tidurnya, tapi juga membuat Jerry terpelanting beberapa kali. Kita pun lalu menyaksikan musik piano zaman Romantik yang diciptakan Franz Liszt dengan sepenuh hati itu ternyata begitu tepat untuk mengiringi adegan selanjutnya: adu-licik, adu-siasat, kejar-kejaran di antara dua makhluk yang bermusuhan itu.

    Wak Lihun tergelak, seperti ia tergelak menyaksikan permusuhan yang tak kunjung padam itu pada layar hitam putih 50-an tahun silam. Jakarta 1964 ibarat sebuah kampung besar yang terpesona menyambut kotak menakjubkan itu, dan kegiatan nonton televisi pun cepat menjadi peristiwa komunal yang paling ditunggu. Ketika hari mulai gelap, di sebuah rumah gedong (rumah batu yang kokoh) Wak Lihun bersama para tetangga berkumpul, menyaksikan deretan gambar-gambar Tom and Jerry yang menawan: serba hiperbolis dan penuh adegan slap stick di sepanjang film.

    Dunia tak banyak berubah. Kalau dulu Tom muncul sebagai kucing berbulu hitam dengan sembarut putih pada dada dan perutnya, sekarang ia seekor kucing dengan punggung biru dan perut putih. Televisi berwarna telah menggantikan televisi hitam-putih, tapi pertarungan kucing lawan tikus, si jahat lawan si baik, negara kaya lawan negara miskin, kulit putih lawan kulit berwarna, Timur lawan Barat, bahkan Islam versus Barat, moderat versus garis keras, dan liberal versus tradisional dalam segala manifestasinya belum juga berakhir.

    Hegel menyebutnya standing contradiction, sesuatu yang membuat dialektika mandek, terpaku pada satu titik seiring perjalanan waktu. Tak ada yang salah dalam pemikiran di atas, kecuali sebuah obsesi yang besar untuk membaca buku dari sampulnya, memandang dunia dari “merk dagang”-nya. Hitam putih dan monolitik.

    Dunia tentu saja tak semonolitik itu. Namun jauh di dalam benak Wak Lihun, bersembunyi memori yang menyenangkan tentang dua makhluk yang sibuk kejar-kejaran, saling tipu dan saling perdaya. Ahh..andaikan dunia sesederhana ini, andaikan kita bisa bertahan –bahkan fanatik-- dalam zona nyaman ini, seperti hitam-putihnya dunia dalam film kartun.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.