Jembatan Kembar nan Bersejarah di Depok yang Terlupakan

Jumat, 18 September 2020 06:48 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Melihat sejarah Depok dari bangunan peninggalan kolonial yang belum terungkap. Pada masa Pemerintahan Kolonial, akses jalan dan jembatan-jembatan yang baru dibangun memiliki arti penting bagi wilayah Depok. Salah satunya, pada tahun 1919 Pemerintah Kolonial berhasil menyelesaikan pembangunan jembatan besar dan megah sebagai penghubung wilayah Depok dengan Cimanggis. Wilayah Depok semakin terbuka dengan adanya akses jalan yang langsung terhubung dengan poros utama Jawa.

       Depok merupakan sebuah kota yang memiliki perjalanan sejarah cukup panjang. Sejak masa kolonial Belanda kota ini berkembang menjadi salah satu wilayah permukiman modern di selatan Batavia. Depok juga berada pada posisi yang strategis di antara Batavia dan Buitenzorg sehingga Depok memiliki peran penting sebagai daerah penghubung kedua wilayah tersebut. Tentu saja hal ini menyebabkan Depok mendapat kesempatan dari Pemerintah Kolonial untuk meningkatkan pembangunan seiring berkembangnya wilayah Batavia dan Buitenzorg.

Pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20 Depok mulai mengalami kemajuan dalam hal infrastruktur transportasi. Dimulai pada sekitar tahun 1873 dengan dioperasikannya jalur kereta api dari Batavia hingga Buitenzorg. Kemudian, pada tahun 1919 Pemerintah Kolonial berhasil menyelesaikan pembangunan sebuah jembatan besar dan megah sebagai penghubung wilayah Depok dengan Cimanggis yang berada di sebelah timur. Jembatan tersebut sangat dikenal masyarakat dengan nama Jembatan Panus.[1] Kedua infrastruktur tersebut merupakan proyek besar yang berhasil diselesaikan oleh Pemerintah Kolonial dan bahkan masih dapat dimanfaatkan hingga sekarang.

Pembangunan Jembatan Panus merupakan salah satu bagian dari proyek peningkatan akses jalan penghubung antara kawasan Depok (lama) dengan jalan poros utama Jawa (Groote Postweg) atau yang sekarang dikenal dengan Jalan Raya Bogor. Mengapa dikatakan peningkatan, karena sebelum ada proyek ini wilayah Depok (lama) dan Cimanggis sudah memiliki jalur penghubung berupa jalan setapak. Sebelum tahun 1920, jalan penghubung wilayah Depok dengan jalan Postweg hanya melalui jalan kecil dari Landhuis Cimanggis menuju wilayah Depok Kecil, yang sekarang berada di sekitar Depok II Tengah. Kemudian dari sini melintasi jalan setapak hingga tiba di tepi Sungai Ciliwung. Sebelum adanya jembatan, penyebrangan dilakukan dengan menggunakan rakit bambu (Punt) (lihat peta Depok 1901).

Sedangkan ruas jalan yang baru, dibangun sekitar tahun 1921. Pada tahun 1921 pemerintah mengalokasikan dana untuk penyeleaian lebih lanjut jalan yang sudah dirintis oleh Gemeente Depok yakni jalan yang menghubungkan dari Depok ke Cimanggis. Besarnya dana bantuan pemerintah tersebut sebesar f7.926.[2] Ruas jalan inilah yang hingga saat ini masih digunakan dengan nama Jalan Tole Iskandar dari Jembatan Panus hingga Simpangan Depok.

Akses ruas jalan yang baru melintasi beberapa aliran sungai dan kanal irigasi, sehingga dibangun beberapa jembatan kecil di atasnya. Sayangnya, hanya Jembatan Panus dan dua jembatan lainnya yang masih tersisa, yaitu Jembatan Sugutamu dan Jembatan Cijantung (nama jembatan merujuk pada nama sungai yang dilewati). Namun belum diketahui secara pasti kapan kedua jembatan ini dibangun.

Jembatan (sungai) Cijantung.

Dari kesaksian salah seorang warga bernama Nurhasan atau yang akrab disapa Bang Nur mengatakan bahwa, “Dulu jembatan yang deket Pondok (Sukmajaya) di bawahnya ada tulisan angka 1919 tapi sekarang, mah, udah ngga ada gara-gara jembatannya dilebarin”.[3] Nurhasan merupakan seorang warga yang masa kecilnya tinggal sangat dekat dari lokasi jembatan, sehingga hampir setiap hari selalu bersinggungan dengan Jembatan Sugutamu.

Dari penuturannya dapat diduga bahwa angka 1919 tersebut merupakan tahun penyelesaian dari jembatan ini, walaupun kesaksian ini masih belum terlalu kuat karena keterbatasan sumber primer. Jika Jembatan Sugutamu dibangun tahun 1919, maka berbeda dengan Jembatan Cijantung. Jembatan ini dibangun bersamaan dengan dikerjakannya proyek jalan baru tahun 1921. Di masa sekarang jalan tersebut mulai dari pertigaan Polsek Sukmajaya hingga Simpangan Depok. Sebelum adanya proyek jalan baru, daerah ini tidak memiliki jembatan yang menyebrangi sungai Cijantung (lihat peta 1901). Baru setelah adanya pembangunan jalan daerah ini memiliki jembatan baru (lihat peta 1938).

Peta 1901.

Peta 1938.

Kedua jembatan memiliki desain dan struktur bangunan yang hampir sama. Desainnya yang melengkung setengah lingkaran sangat identik sekali dengan arsitektur khas kolonial. Serta struktur jembatan yang menggunakan bahan utama batu bata merah yang disusun sedemikian rupa sehingga menambah kekokohan bangunan. Hal tersebut banyak ditemui pada model jembatan struktur beton peninggalan kolonial Belanda.

Pada masa Pemerintahan Kolonial, akses jalan dan jembatan-jembatan yang baru dibangun memiliki arti penting bagi wilayah Depok. Wilayah Depok semakin terbuka dengan adanya akses jalan yang langsung terhubung dengan jalan poros utama Jawa. Kemudian, akses jalan dan jembatan ini merupakan salah satu dari tiga akses penghubung wilayah timur dan barat yang dipisahkan Sungai Ciliwung, setelah sebelumnya pemerintah membangun jembatan di Meester Cornelis dan Buitenzorg. Sehingga jalan yang baru tersebut menjadi jalan “poros tengah” yang membentang secara horizontal timur – barat.

Pasca kemerdekaan, Jembatan Sugutamu dan Jembatan Cijantung menjadi infrastruktur yang tidak kalah penting fungsinya dengan Saudaranya, Jembatan Panus. Ketiga jembatan ini menjadi akses utama bagi masyarakat yang ingin menuju Depok dari Jakarta maupun dari Bogor.

Seiring dengan meningkatnya lalu-lintas kendaraan bermotor, kapasitas dan kekuatan jembatan juga ditingkatkan. Sekitar tahun 1970-an, bersamaan dengan pembangunan Perumnas Depok Tengah dan Timur Jembatan Sugutamu dilebarkan dengan menambahkan struktur tambahan pada jembatan di sisi utara, sehingga akan terlihat struktur jembatan yang lama lebih menjorok ke dalam.[4] Kemudian, untuk Jembatan Cijantung tidak dilebarkan seperti halnya Jembatan Sugutamu, melainkan dibangun sebuah jembatan baru yang lebih lebar tepat di sebelah selatan jembatan yang lama. Sehingga pengguna jalan dapat melihat keberadaan jembatan yang lama, berbeda dengan Jembatan Sugutamu lama yang tertutup dengan adanya jembatan baru di atasnya.

Sejarah Jembatan Sugutamu dan Jembatan Cijantung memang tidak seperti Jembatan Panus yang melegenda dan terkenal, bahkan bisa dikatakan menjadi salah satu ikon Kota Depok. Namun tidak ada salahnya juga masyarakat Depok mengetahui bangunan-bangunan bersejarah lain di wilayahnya yang masih belum terungkap. Dengan harapan, semakin banyak bangunan bersejarah yang terungkap semakin besar kemungkinan bangunan tersebut tetap terjaga kelestariannya dan mendapat perhatian lebih dari pemerintah sehingga tetap terawat dengan baik. Begitu juga halnya dengan Jembatan Sugutamu dan Jembatan Cijantung, Jembatan “Kembar” yang Terlupakan.

Jembatan Sugutamu (tampak atas).

Jembatan Cijantung (tampak atas)

sumber gambar: Dokumentasi Pribadi

Referensi:

[1] Hal ini sesuai dengan pernyataan Direktur Tenaga Kerja Regional (directeur der Gewestelijke Werken) Batavia, OJH Koen ketika melaporkan berbagai kegiatan fisik di dewan  kota (gemeenteraad) Batavia. OJH Koen mengatakan bahwa tanggal 23 Oktober 1919 jembatan Depok-Tjimanggis dianggap telah selesai. Dalam Bataviaasch nieuwsblad, 23-12-1919.

[2] De Preanger-bode, 03-11-1921.

[3] Wawancara dengan Bapak Nurhasan, pada tanggal 30 Juni 2020

[4] Ibid,.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Ardhiyanto Wisnu Groho

Sejarawan dan Praktisi Pendidikan

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler