Tinjauan Reflektif Pembelajaran Sejarah di Indonesia; Opini Seorang Guru SMA - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Sebuah sekolah di Bekasi. Tempo/Hilman Fathurrahman

Muhammad Bagus

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 September 2020

Minggu, 20 September 2020 13:14 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Tinjauan Reflektif Pembelajaran Sejarah di Indonesia; Opini Seorang Guru SMA

    Sebagai guru sejarah, kita mulai dengan membuat beragam media pembelajaran sejarah bagi siswa baik tulisan. video belajar, infografis, komik, dll. Kita mulai tidak terpatok pada sebuah narasi sejarah tunggal pada peristiwa-peristiwa sejarah yang sifatnya kontroversial. Kita harus melihat peristiwa-peristiwa sejarah yang kontroversial secara terbuka. kita juga harus mendorong siswa memahami suatu bacaan serta bertanya jika ada hal yang mengganjal. Sebagai guur sejarah, inovatif kita harus mendorong kemampuan berpikir nalar kritis siswa di sekolah.

    Dibaca : 1.633 kali

    *) Tulisan ini merupakan pandangan pribadi dalam menyikapi masalah penyederhanaan mapel sejarah baik di tingkat SMA/MA/SMK

    Beberapa hari ini, grup wa yang ada di handphone saya penuh akan notif yang tiada henti-hentinya dari grup guru-guru sejarah, grup angkatan di prodi pendidikan sejarah hingga grup diskusi sejarah. Penuhnya notif tersebut dikarenakan guru-guru sejarah pada tingkat SMA/MA dan SMK sedang ramai-ramai membicarakan keberadaan draft sosialisasi penyederhanaan kurikulum yang beredar di media sosial.

    Dalam draft tersebut terdapat 3 poin utama yang “mengancam” kedudukan mapel sejarah baik di tingkat SMA/MA dan SMK. Poin pertama adalah mapel sejarah di kelas 10 akan digabungkan dengan mapel ilmu sosial lain menjadi mapel IPS. Poin kedua adalah mapel sejarah di kelas 11-12 akan menjadi mapel yang sifatnya pilihan bagi jurusan IPS. Poin ketiga adalah mapel sejarah di tingkat SMK ditiadakan.  

    Tiga poin tersebut sudah cukup membuat banyak pihak bertanya-tanya baik dari guru sejarah sendiri, asosiasi guru sejarah, universitas yang memiliki program studi pendidikan sejarah hingga organisasi-organisasi formal/non formal yang berhubungan dengan sejarah. Pada tulisan kali ini saya mencoba melihat isu yang sedang hangat ini dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Saya mencoba melihat isu penyederhanaan kurikulum ini dari sebuah pertanyaan yaitu : Apakah sejarah tidak penting di masyarakat sehingga mata pelajaran sejarah sampai harus disederhanakan?

    Guna menjawab pertanyaan diatas, saya akan coba berpijak pada salah satu buku tulisan John Tosh seorang sejarawan dari Universitas Roehampton, Inggris berjudul Why History Matter yang terbit tahun 2008. Di buku Why History Matter, John Tosh yang menggeluti kajian sejarah maskulinitas di Inggris serta pengaplikasian sejarah dalam kehidupan sehari-hari mengambil titik mula tulisannya dari bagaimana kebijakan politik dan ekonomi pemerintah Inggris beberapa tahun kebelakang seakan-akan tidak belajar dari kesalahan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.

    Pemerintah mengeluarkan kebijakan tanpa sebuah penjelasan yang memadai dan komprehensif. Ditambah tidak banyak masyarakat yang mengkritik kebijakan-kebijakan yang tak berdasar tersebut. Mayoritas masyarakat menerima begitu saja dan mengganggap itu hal yang terbaik yang sudah dilakukan oleh pemerintah.

    Hal itu menimbulkan tanda tanya dalam diri John Tosh, karena para pemangku kebijakan di pemerintahan Inggris tentu berasal dari masyarakat. Tetapi, mengapa bisa (mayoritas) masyarakat Inggris  tidak memiliki kemampuan berpikir sejarah (kritis) dalam kehidupannya sehari-hari? Tidak adanya kemampuan ini akibatnya berdampak pada kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah ketika mengambil sebuah kebijakan.  Padahal menurutnya, upaya untuk menumbuhkan cara berpikir sejarah kepada masyarakat luas itu penting.

    Upaya untuk menumbuhkan cara berpikir sejarah dimasyarakat ini akan sangat berkaitan dengan kedudukan pelajaran sejarah di Kurikulum Nasional Inggris tahun 2002. Menurutnya sejarah yang tertera di Kurikulum Nasional Inggris tahun 2002 semestinya bukan hanya mengajarkan kepada siswa tentang pembentukan sebuah identitas nasional serta bagaimana karakter masyarakat yang ideal dan baik dengan berkaca dari sejarah masa lalu Inggris.

    Jika hanya hal itu yang diajarkan itu akan membahayakan bagi siswa karena siswa seakan-akan menjadi orang yang dengan polosnya menerima begitu saja sebuah identitas tanpa mengetahui proses identitas tersebut dan mengapa identitas tersebut memiliki ciri khas tertentu yang berbeda dengan yang lain.

    Nilai sesungguhnya dari mempelajari sejarah di sekolah adalah menanamkan kepada siswa kemampuan-kemampuan berpikir yang bisa diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan saat ini.

    1. Kemampuan berpikir kritis dalam melihat berbagai fenomena kehidupan dimasyarakat serta kepada dirinya juga.
    2. Kemampuan untuk bisa melihat berbagai perubahan dalam kehidupan yang nantinya akan dijalani siswa.
    3. Kemampuan untuk menilai apakah perubahan tersebut akan berimplikasi baik atau buruk dan akibatnya dimasa depan.
    4. Kemampuan melihat penyebab mengapa sebuah perubahan terjadi, merupakan macam-macan kemampuan yang bisa diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa.

    Kemampuan-kemampuan itulah esensi terpenting dari masyarakat yang seharusnya ditanamkan ketika mempelajari sejarah menurut John Tosh.

    Penjelasan John Tosh diatas tentunya menjadi cambuk bagi guru-guru sejarah untuk merefleksikan kompetensi dirinya. Sudah sejauh mana kita sebagai guru sejarah mengoptimalkan kompetensi kita dalam memberikan pembelajaran sejarah kepada siswa/i. Apakah pembelajaran sejarah yang kita ajarkan sudah menanamkan cara berpikir nalar, kritis kepada siswa? Apakah dalam pembelajaran sejarah, kita masih sering meninggalkan tugas begitu saja kepada siswa tanpa memberikan sebuah penjelasan dan diskusi bersama?

    Apakah dalam pembelajaran sejarah, kita masih tidak menerima pandangan yang berbeda dari murid kita terkait sebuah peristiwa sejarah? Apakah dalam pembelajaran sejarah, kita masih terkungkung pada satu buku cetak dari pemerintah padahal kurikulum 2013 mendorong kita untuk mengembangkan sumber-sumber belajar lain? Apakah dalam pembelajaran sejarah, kita masih menyampaikan suatu peristiwa sejarah dari satu sisi saja, bukan dari banyak sisi?

    Berbagai pertanyaan diatas kita jadikan titik mula bagi guru-guru sejarah untuk melakukan perubahan yang revolusioner dalam pembelajaran sejarah. Kita bisa memulainya dari langkah-langkah kecil saat ini. Kita mulai dari mengeksplorasi sumber-sumber belajar baru dalam pembelajaran sejarah, tidak hanya terpaku pada buku cetak dari pemerintah karena banyak buku-buku sejarah umum baik berbahasa Indonesia ataupun Inggris bisa dijadikan rujukan.

    Kita mulai dengan membuat beragam media pembelajaran sejarah bagi siswa baik tulisan. video belajar, infografis, komik, dll. Kita mulai tidak terpatok pada sebuah narasi sejarah tunggal pada peristiwa-peristiwa sejarah yang sifatnya kontroversial. Kita harus melihat peristiwa-peristiwa sejarah yang kontroversial secara terbuka, melihat dari banyak sisi, serta menganalisa dengan cara berpikir sinkronik apakah peristiwa tersebut terjadi sebagai akumulasi berbagai masalah sosial yang timbul atau ada faktor-faktor sosial lain yang berperan dalam terciptanya peristiwa tersebut.

    Tak lupa terdapat satu langkah yang saya rasa penting yaitu kita harus mendorong siswa untuk memahami suatu bacaan serta bertanya jika ada hal yang mengganjal atau tidak dipahami. Kemampuan bertanya ini bisa menjadi kunci dari penguasaan kemampuan-kemampuan praktikal dari belajar sejarah seperti yang disampaikan oleh John Tosh dalam bukunya Why History Matters. Jangan sampai kita sebagai guru malah tidak mempedulikan berbagai pertanyaan yang diajukan oleh siswa dan bahkan “mengomeli” siswa tersebut karena banyak nanya.

    Tatkala siswa mengajukan banyak pertanyaan meskipun terdapat pernyataan yang bisa saja nyeleneh, itu artinya siswa sedang mengeksplorasi pemahaman dari apa yang sudah disampaikan oleh gurunya atau dari apa yang sudah ia baca lewat buku/media lainnya. Melalui pertanyaan-pertanyaan dari siswa tersebut seharusnya kita bisa membangun sebuah diskusi bersama yang harmonis dalam pembelajaran sejarah sehingga nantinya siswa akan memiliki pemahaman yang lebih luas serta kemampuan berpikirnya semakin terasah dan peka dalam melihat berbagai fenomena di kehidupan.

    Masih banyak lagi sebenarnya langkah-langkah yang bisa kita mulai bersama guna mendorong perubahan revolusioner dalam pembelajaran sejarah di Indonesia tapi langkah-langkah tersebut tidak hanya harus terucap secara teori tapi harus direalisasikan secara nyata dari sekarang oleh guru-guru sejarah.

    Sebagai penutup, upaya refleksi diatas tentunya baru akan berjalan jika kita sadar bahwa menjadi guru sejarah bukan sekadar pekerjaan, tapi menjadi guru sejarah semestinya juga kita anggap sebagai sebuah hobi. Ketika kita memposisikan bahwa menjadi guru sejarah juga merupakan sebuah hobi yang harus dinikmati dan disenangi, maka kita akan berupaya seoptimal mungkin memberikan pembelajaran yang kreatif, inovatif serta mendorong kemampuan berpikir nalar kritis siswa disekolah.

    Namun, ketika kita menganggap profesi kita sebagai guru sejarah hanyalah sebuah pekerjaan, berarti kita sama saja hanya menggugurkan kewajiban kita dalam mengajar, yang penting adalah gaji dan tunjangan kita masuk rutin dan tepat waktu.

                                                          M. Bagus Aprilianto (Guru Sejarah SMAN 52 Jakarta)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.