Hari Kesehatan Mental Sedunia Bukan Hanya untuk Orang Dengan Gangguan Jiwa, Tapi Untuk Seluruh Umat Manusia - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Permepuan. Pixabay.com

Fitria Wulan sari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Oktober 2020

Sabtu, 10 Oktober 2020 18:34 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Hari Kesehatan Mental Sedunia Bukan Hanya untuk Orang Dengan Gangguan Jiwa, Tapi Untuk Seluruh Umat Manusia

    Tanggal 10 Oktober ditetapkan sebagai hari kesehatan mental sedunia. Hari ini seharus tidaknya hanya penting untuk mengurangi stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa, mengupayakan akses pelayanan kesehatan mental di tengah masyarakat, namun juga advokasi bahwasanya kesehatan mental merupakan kebutuhan seluruh umat manusia. Kesehatan mental yang sering dianggap kecil oleh banyak orang bahkan bisa menjadi penentu seseorang untuk mengakhiri hidupnya, untuk mengurangi kemungkinan terburuk tersebut mari bersikap lebih ramah pada diri kita.

    Dibaca : 777 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tanggal 10 Oktober merupakan tanggal yang dipilih oleh Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (WFMH) sebagai hari peringatan kesehatan mental sedunia. Perhari ini penulis rasa sudah banyak orang dan kelompok yang sadar pentingnya kesehatan mental, walaupun masih banyak pula orang yang abai tentang itu. Tulisan ini tidak akan bercerita tentang sejarah hari kesehatan mental sedunia, namun bercerita bagaimana hari ini menjadi penting untuk mengingatkan kita akan kebutuhan kita terhadap kesehatan mental.

    Berbeda dengan kesehatan dibidang lain, kesehatan mental merupakan bidang yang sering diabaikan dan disepelekan kehadirannya. Dikutip melalui tirto, Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hampir 1 miliar di dunia memiliki gangguan kesehatan mental, 3 juta orang meninggal setiap tahun akibat penggunaan alkohol yang berbahaya dan satu orang meninggal setiap 40 detik karena bunuh diri. Angka yang cukup besar untuk penyebab kematian manusia dan harusnya tidak perlu terjadi jika orang-orang ini memiliki akses terhadap layanan kesehatan mental, bisa jadi mereka masih hidup hingga saat ini.

    Bunuh diri seharusnya menjadi perhatian utama, karena itu adalah kehendak pribadi seseorang akibat segala rasa kecewa, frustasi, muak, sedih, hingga marah yang membuat mereka memutuskan untuk mengakhiri nyawa mereka sendiri. Di negara dengan mayoritas umat beragama, bunuh diri masih terus distigma karena dianggap melawan kehendak Tuhan. Namun orang-orang yang tetap mempertahan stigma ini tidak pernah mau membuka mata atas segala penderitaan yang dirasakan oleh orang yang telah bunuh diri atau memiliki niat untuk bunuh diri. Mereka menutup ruang untuk berempati pada orang-orang tersebut, sehingga bunuh diri dianggap menjadi jalan terakhir. Penulis tidak sedang berusaha membenarkan tindakan bunuh diri, tapi penulis berusaha menyadarkan pembaca bahwa mengecilkan dan menyepelekan niat orang untuk bunuh diri tidak menolong mereka dari keputusasaan. Mereka tidak butuh penghakiman kalian, mereka kadang hanya perlu didengar. Namun dengan masyarakat modern yang kompleks hari ini bunuh diri sering dianggap sebagai ajang untuk mendapatkan perhatian, sehingga membuat orang yang benar-benar memiliki niat bunuh diri bukannya mendapatkan bantuan malah mendapat ledekan dan cemoohan.

    Penulis pribadi merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), tentu bukan dengan diagnosa mandiri melalui alat pencarian otomatis google, namun telah mendapatkan diagnosa dan perawatan oleh psikiater selama 2 tahun. Saat ini penulis mengabdikan diri dalam sebuah kelompok kesehatan mental yang bergerak di universitas tempat penulis berkuliah. Dengan pemahaman atas kondisi kesehatan mental, saya sadar benar bahwa kesehatan mental merupakan kebutuhan setiap orang. Pada dasarnya setiap orang rentan terhadap gejala atau gangguan mental, tidak ada satu orang pun yang resisten. Tidak perduli tingkat pendidikan, status ekonomi, status sosial, agama, jenis kelamin, semua orang punya peluang yang sama mengalami gejala dan gangguan mental.

    Pada dasarnya penyebab gangguan mental bukan faktor tunggal, tapi merupakan multi faktor seperti secara genetik, pengalaman traumatis, stress, ekspektasi sosial, dan lain-lain. Dengan penyebab yang kompleks tersebut, bisa kita pastikan tidak ada satu orang pun dengan gangguan mental yang bisa disederhanakan penyebab gangguannya. Hasil pengamatan saya di lingkungan saya berada, orang yang abai terhadap kondisi kesehatan mentalnya sering kali berkemungkinan terganggu fungsinya sebagai manusia.

    Dimata saya, orang-orang ini seperti bom waktu yang tidak tau kapan meledak dan apa penyebab ledakannya. Bisa saja hal yang dianggap sepele oleh masyarakat seperti ledekan dan bercandaannya membuat mereka meledak. Pada hakikatnya setiap orang berbeda, tidak ada satu orang pun yang benar-benar sama sekalipun mereka kembar identik. Maka kekuatan setiap orang untuk menghadapi rasa sakit yang melukai jiwanya juga berbeda. Bisa jadi bagi sebagian orang diledek adalah hal yang sepele, tapi bisa jadi juga melukai jiwa mereka sangat dalam. Sehingga kita masih sangat perlu untuk lebih peduli pada jiwa kita.

    Mudah bagi kita untuk memutuskan ngakses layanan kesehatan jika kita terserang penyakit atau virus yang menyerang tubuh fisik kita. Tapi kita sering juga abai terhadap hal-hal yang menyerang jiwa kita. Padahal rasa sakit di jiwa kita bisa membuat kita sama lemahnya saat kita merasa sakit fisik. Hal-hal seperti gangguan tidur, gangguan makan, kesulitan berinteraksi sosial, hingga hilangnya motivasi berkemungkinan mengganggu fungsi kita sebagai seorang manusia. Ditambah lagi ditengah pandemi seperti saat ini, dengan beban pekerjaan dan tugas sekolah yang menumpuk, setiap orang berpeluang untuk mengalami stress dan depresi. Sehingga biasakan untuk beristirahat jika mental kalian kelelahan, tidak hanya ketika lelah tubuh fisik. Belajar beristirahat kalau semua terasa berat dan berubah menjadi beban. Jika beristirahat tidak cukup, belajar untuk meminta bantuan. Kalian bukan manusia super yang kuat menghadapi semua masalah, carilah teman yang mampu mendengarkan kalian tanpa menghakimi situasi kalian. Untuk kalian yang dimintai bantuan, berhentilah bertingkah seperti superhero dengan menghakimi dan menasehati teman kalian, cukup dengarkan mereka dan berempati terhadap situasi yang mereka hadapi.

    Dengan itu kalian menunjukan sedikit kepedulian kalian pada kesehatan jiwa kalian dan orang disekitar kalian. Ingatlah setelah hari ini atau setelah membaca tulisan ini, kalian harus lebih ramah terhadap diri kalian sendiri. Selamat hari kesehatan mental sedunia para pembaca!

    Ikuti tulisan menarik Fitria Wulan sari lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.