Penguatan Puskesmas adalah Salah Satu Kunci Menghadapi Pandemi Covid-19 - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Petugas kesehatan mendatangi rumah warga untuk melakukan tes swab

CISDI ID

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 September 2020

Jumat, 6 November 2020 10:01 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Penguatan Puskesmas adalah Salah Satu Kunci Menghadapi Pandemi Covid-19

    Persoalan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia masih berkutat pada rendahnya kapasitas tes (testing) dan lacak (tracing). Tren penurunan kasus harian sejak 27 Oktober 2020 bisa dipahami terjadi karena menurunnya jumlah pengetesan. Positivity rate harian Indonesia tetap bertahan di angka sepuluh persen. Penguatan puskesmas adalah poin penting mencegah penyebaran COVID-19 semakin meluas.

    Dibaca : 1.323 kali

    Tenaga kesehatan puskesmas memiliki peran penting dalam penanganan pandemi, salah satunya melalui upaya surveilans. (Sumber gambar: Dok. Kominfo)

    Persoalan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia masih berkutat pada rendahnya kapasitas tes (testing) dan lacak (tracing). Tren penurunan kasus harian sejak 27 Oktober 2020 bisa dipahami terjadi karena menurunnya jumlah pengetesan. Positivity rate harian Indonesia tetap bertahan di angka sepuluh persen. Dari peringkat 20 besar negara dengan total kasus terbanyak di dunia, Indonesia adalah negara dengan tingkat pengetesan per jumlah populasi terendah.

    Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat primer merupakan kunci dari penanganan pandemi. Kurang lebih demikian, pernyataan dr. Mustakim, M.Kes., SpDLP, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Puskesmas Indonesia (PPDPI), pada Obrolan Kawal Edisi 10 yang tayang pada Sabtu, 24/10, di kanal YouTube CISDI TV. Puskesmas memiliki peran strategis mencari dan melacak kasus, memantau kasus probable, dan mengonfirmasi mereka yang melakukan isolasi mandiri, serta membina komunitas di wilayah kerjan masing-masing. Presiden Joko Widodo bahkan meminta puskesmas diperkuat sebagai ujung tombak pengetesan dan pelacakan kasus COVID-19.

    Diah Saminarsih, Penasihat Senior untuk Urusan Gender dan Pemuda untuk Dirjen WHO, menyebut puskesmas memiliki potensi besar menangani wabah. Puskesmas memiliki jalur komunikasi langsung ke Dinas Kesehatan, jejaring untuk upaya surveilans, serta dekat dengan masyarakat.

    COVID-19 response yang paling ideal adalah ketika dilakukan dekat dengan masyarakat, jadi tidak perlu menunggu seseorang dirujuk ke rumah sakit. Masalahnya diselesaikan saat itu juga di tingkat komunitas, di tingkat puskesmas.” Di akhir pernyatannya, Diah menekankan kembali urgensi kecepatan penelusuran dan pengetesan untuk meminimalkanv potensi penyebaran virus.

    Lantas, dr. Mustakim menyatakan hal serupa. Ketua PPDPI ini menyayangkan sikap sebagian masyarakat yang tidak mempercayai puskesmas. “Penanganan Covid itu sebenarnya bisa dituntaskan di layanan primer, sebelum mengalami suatu komplikasi yang lebih berat (sehingga) harus dirujuk ke tingkat lanjut.” Sesuai instruksi pemerintah, orang tanpa gejala atau bergejala minim perlu melakukan isolasi mandiri di rumah setelah berkoordinasi dengan petugas kesehatan dan gugus tugas setempat.

    Melalui program Pencerah Nusantara yang terselenggara di delapan titik di wilayah Jakarta dan Bandung, CISDI berusaha meningkatkan COVID-19 response. Salah satu relawan Pencerah Nusantara, Anita Siti Fatonah, menceritakan Puskesmas Andir, Kota Bandung, melibatkan masyarakat luas melaksanakan surveilans. “Kalau orang Puskesmas yang telepon (untuk survelains), masyarakatnya udah pada takut,” ujar Anita menjelaskan kesulitan yang dihadapi puskesmas. Menurut Anita, inilah pentingnya melibatkan masyarakat agar stigma dan resistensi masyarakat lainnya bisa berkurang.

    Pemasalahan lain yang dihadapi oleh para pelacak kasus adalah standar ukuran kontak erat serta delay notifikasi penemuan kasus baru. Koordinator Tim Data KawalCOVID-19 Ronald Bessie mengatakan, “(ketentuan) kontak erat ini agak ambigu, misalnya 15 menit ngobrol berdekatan.” Kebanyakan orang akan lupa durasi mereka berbicara dengan orang lain, apabila kejadiannya sudah beberapa hari lalu sehingga tidak bisa memberikan data akurat. Adanya delay antara waktu pengetesan dengan keluarnya hasil tes ikut mempersulit penelusuran. Semakin lama seseorang menunggu hasil tes keluar, semakin banyak orang yang melakukan kontak erat dengan dirinya dan semakin tinggi potensi virus menyebar ke banyak orang.

    Sebagai penutup diskusi, Diah mengingatkan intervensi dalam pandemi dibagi menjadi dua macam yaitu treatment dan non-pharmaceutical. Keduanya harus dijalankan berbarengan dan sama kuat. Intervensi non-pharmaceutical atau public health penting untuk mengurangi stigma dan resistensi dari masyarakat. Pemerintah perlu melakukan komunikasi krisis dengan baik agar tidak timbul lebih banyak kebingungan. Mereka juga perlu memperbanyak upaya pengetesan dan pelacakan.

     

    Tentang Obrolan Kawal

    Obrolan Kawal adalah diskusi interaktif terkait penanganan COVID-19 mingguan yang dilaksanakan setiap Sabtu malam dan disiarkan secara daring yang diinisasi oleh KawalCovid19, CISDI, dan Kekini Ruang Bersama. Peserta diskusi dapat mengikuti acara ini melalui kanal YouTube CISDI TV ataupun aplikasi Zoom dengan mendaftarkan diri terlebih dulu.

     

    Tentang CISDI

    Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) adalah think tank yang mendorong penerapan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya, setara, dan sejahtera dengan paradigma sehat. CISDI melaksanakan advokasi, riset, dan manajemen program untuk mewujudkan tata kelola, pembiayaan, sumber daya manusia, dan layanan kesehatan yang transparan, adekuat, dan merata.

     

    Penulis

    Ardiani Hanifa Audwina

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.