Akhirnya Indra Sjafri Catatkan Sejarah dalam Rapat Teknik AFC - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Indra Sjafri

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 10 November 2020 06:04 WIB

  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Akhirnya Indra Sjafri Catatkan Sejarah dalam Rapat Teknik AFC

    Sepak bola Indonesia harus bersyukur bahwa Indonesia memiliki wakil di AFC, sehingga selain PSSI akan cepat mengetahui keputusan teknis AFC, lewat Indra Sjafri, Indonesia juga dapat bersuara di AFC. Sebab, kini Indra bersama 14 orang lainnya berada di posisi strategis AFC dan menjadi orang Indonesia pertama yang duduk sebagai anggota Komite Teknik AFC. 

    Dibaca : 2.770 kali

    Membanggakan. Dalam sejarah sepak bola Asia, inilah kali perdana orang Indonesia bisa duduk dalam AFC Technical Committe Meeting. Dia adalah Indra Sjafri, Direktur Teknik PSSI yang kini juga didaulat duduk dalam AFC Technical Committe (2019-2023).

    Atas catatan sejarah ini, dalam obrolan santai melalui whatsapp dengan saya, Senin, 9/11, malam, Indra Sjafri menyebut bersyukur dan bangga, dapat duduk dalam AFC Technical Committe Meeting virtual yang berlangsung pada Senin, 9/11. Rapat ini dihadiri oleh seluruh anggota Komite Teknik AFC termasuk Ketua Komite Teknik AFC Kohzo Tashima, Direktur Teknik AFC, Andy Roxburg dan Sekjen AFC, Dato' Windsor John.

    Sumber: the-afc.comIndra juga mengungkap bahwa walau sekarang masih dalam suasana pandemi, namun sudah menjadi tanggung jawab kita untuk tetap memajukan sepak bola di Asia. Di batalkannya beberapa event di sepak bola tidak boleh kita jadikan sebagai penghalang untuk maju, karenanya dalam rapat tersebut juga dijadikan momentum bagi Indra. 

    Indra menyebut menjadi lebih tahu dan dapat berperan dalam mengambil keputusan teknis AFC dengan membawa kepentingan Indonesia dan kepentingan semua negara Asia. 

    Sumber: the - afc.comDari hasil rapat yang disebut Indra berjalan lancar, keputusannya sangat bagus untuk sepak bola  Indonesia ke depan. Hasil rapat pun membuahkan 5 lima keputusan penting, yaitu:

    A1. Pergantian Musim Liga Champions AFC (Proposal dari Asosiasi Sepak Bola Jepang).
    A2. Pertimbangan Ulang dari Pengakuan Pengalaman dan Kompetensi Saat ini (RECC).
    A3. Regulasi dan Panduan yang direvisi untuk piagam AFC Grassroots dan Youth Scheme AFC Elite.
    A4. Pembentukan Panel Pendidikan Pelatih AFC Baru, AFC Grassroots Panel dan AFC Youth Panel.
    A5. Kursus Pelatihan Khusus AFC untuk Asosiasi Anggota 2021.

    Atas keputusan tersebut, untuk kursus pelatih, Indra Sjafri menjelaskan bahwa AFC menekankan kepada anggotanya tidak boleh menurunkan standart sertifikat atau lisensi pelatih. 

    Karenanya, kualifikasi pelatih yang kompeten dibutuhkan untuk melindungi pemain, menjaga standart tim tetap tinggi, jadi dibutuhkan mereka yang memenuhi minimum syarat kualifikasi.

    Menurut Indra, Direktur Teknik AFC, Andy Roxburg juga menekankan bahwa selain pelatih kepala dan asisten pelatih yang harus memiliki lisensi yang mumpuni, kompenen kepelatihan lainnya seperti pelatih kiper dan fisik juga wajib mumpuni. 

    Jadi, standar kualifikasi menjadi prioritas. Meski sekarang banyak komponen yang masih diisi oleh individu berpengalaman, namun, pengalaman saja tidak cukup. Tetap butuh lisensi yang sesuai standart AFC. Dan Ini, berlaku untuk pelatih lokal maupun asing. 

    Untuk itu, khusus bagi pelatih asing yang akan mengampu klub di Indonesia seperti Liga 1, wajib memiliki sertifikat atau lisensi yang diakui oleh AFC seperti diatur pada pasal 31 tentang Dokumen Pendaftaran Ofisial yang menyatakan bahwa pelatih kepala harus mempunyai lisensi AFC "A" Coaching, UEFA A License atau yang setara serta mendapatkan pengakuan dari AFC dengan dibuktikan dokumen RECC (Recognition of Experience and Current Competence).

    Sekali lagi, sepak bola Indonesia harus bersyukur bahwa Indonesia memiliki wakil di AFC, sehingga selain PSSI akan cepat mengetahui keputusan teknis AFC, lewat Indra Sjafri, Indonesia juga dapat bersuara di AFC.

    Sebab, kini Indra bersama 14 orang lainnya berada di posisi strategis AFC dan menjadi orang Indonesia pertama yang duduk sebagai anggota Komite Teknik AFC. 

    Semoga, dari hasil rapat ini, khususnya menyoal lisensi kepelatihan di Indonesia, mengingat pondasi sepak bola nasional adalah sepak bola akar rumput, maka PSSI melalui Asprov, Askab, dan Askot dapat menggenjot dan menambah kuantitas dan kualitas kursus kepelatihan di Indonesia untuk para pelatih sesuai kualifikasi dan standar sepak bola akar rumput hingga Liga 1.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Supartono JW

    Sabtu, 6 Februari 2021 21:14 WIB

    Sepak Bola Akar Rumput Tak Bertuan, Orang Tua Cerdas dan Bijak Memilih Kompetisi

    Dibaca : 970 kali

    Bila anak Bapak dan Ibu, passionnya bukan sepak bola, terdeteksi tak memiliki Teknik, Intelegensi, Personaliti, dan Speed (TIPS) sebagai pesepak bola, jangan paksakan anak menggeluti sepak bola. Jadikan sepak bola olah raga hobi, dan biarkan anak berkembang sesuai.passion untuk kehidupannya kelak. Jangan anak di antar untuk bermimpi menjadi pemain timnas, bila di SSBnya saja tak masuk standar TIPS pemain. Jadilah orang tua yang bijak. Bila Bapak dan Ibu, menyadari bahwa anaknya ternyata passionnya di sepak bola dan memiliki TIPS yang memenuhi standar, jangan ambisi, jangan egois, jangan menyakiti SSB yang telah membina anaknya terlebih dahulu, dan penjadi petualang, masuk di berbagai tim yang mengimingi gratisan pun jumawa karena merasa anaknya hebat. Ini justru menjatuhkan kecerdasan dan personaliti anak, attitude anak. Hingga malah akan dikucilkan oleh berbagai pihak. Ingat, timnas itu hanya butuh 11 pemain, line-up 18 pemain atau didaftarkan  23 pemain atau 30 pemain dalam sebuah event. Kembali ke masalah ada operator kompetisi baru dari pihak swasta yang dihelat baik oleh pemain baru maupun dari Klub Liga 1, kepada para orang tua, lihatlah latar belakangnya, visi-misi dan tujuannya, lihat anggarannya. Kepada publik sepak bola nasional, hingga artikel ini saya tulis, inilah fakta sepak bola di Indonesia yang terus dibiarkan kusut. Menyedihkan.