Thailand Libatkan 1 Juta Kader Tangani Pandemi; Bagaimana dengan Indonesia?

Rabu, 16 Desember 2020 18:51 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Indonesia harus belajar dari Thailand yang bisa melibatkan 1 juta kader desa dalam mencegah penyebaran Covid-19. Meskipun sudah ada beberapa Puskesmas yang berinisiasi melakukan kerja sama dengan kader masyarakat, namun pelaksanaannya belum optimal. Dibutuhkan dukungan pemerintah, baik dalam bentuk insentif maupun program pembinaan, agar kader masyarakat dapat melakukan surveilans berbasis masyarakat yang berkualitas.

Tim Pencerah Nusantara bersama kader Keluharan Kebon Bawang melakukan edukasi 3M kepada masyarakat. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

 

Indonesia perlu belajar dari penanganan Covid-19 di Thailand yang berhasil melibatkan 1 juta kader desa atau village health volunteer. Di bawah dinas kesehatan, kader desa sudah terbiasa membantu melakukan promosi kesehatan di lingkungan terdekatnya. Mereka berperan sebagai mata dan telinga dari sistem kesehatan di komunitas.

Pemerintah Thailand juga berkolaborasi dengan semua pihak di sistem kesehatan, baik dari praktisi kesehatan masyarakat, dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Belajar dari kejadian wabah SARS dan MERS, Thailang mengembangkan basis kesehatan masyarakat yang kuat.

Selama sembilan bulan, Indonesia tidak menangani pandemi dengan optimal, salah satunya karena terbatasnya pelibatan kader. Untuk mengejar ketinggalan tracing misalnya, Indonesia dapat melakukannya dengan merekrut contact tracer tambahan serta membangun surveilans berbasis masyarakat dengan melibatkan kader setempat. Inilah yang sudah dilakukan oleh sebagian Puskesmas di DKI Jakarta dan Bandung. Tetapi, ada banyak tantangan yang dihadapi ketika melibatkan kader dalam penanganan pandemi.

Kader di Kelurahan Kebon Bawang, Kecamatan Tanjung Priok dilibatkan dalam berbagai kegiatan untuk membantu penanganan pandemi. Dari melakukan pengecekan data, edukasi 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) kepada warga, monitoring sarana cuci tangan yang perlahan berkurang jumlahnya, menempelkan sticker wajib masker di setiap rumah makan dan tempat perbelanjaan, hingga memutar audio himbauan 3M di masjid dan mushola. Kader pun memiliki beragam latar belakang, ada yang merupakan kader dasawisma, PKK, dan juru pemantau jentik (jumantik).

Dulu, kader pernah terlibat dalam tracing. Namun, karena pernah ada kasus kebocoran data pasien konfirmasi positif Covid-19 oleh kader, Puskesmas Tanjung Priok enggan untuk melibatkan kader kembali untuk melakukan tracing.

Di sisi lain, kader memiliki beberapa kelebihan dibanding contact tracer. Pertama, kader berdomisili di wilayah tersebut dan bisa melakukan surveilans 1 x 24 jam, sedangkan contact tracer hanya bertugas pada jam kerja yaitu pukul 07.30 hingga 16.00.

Kedua, kader biasanya sudah dipercaya oleh masyarakat sehingga akan lebih mudah mendapatkan informasi ketika melakukan tracing. Sebaliknya, masyarakat seringkali tidak nyaman membuka informasi kepada contact tracer sehingga menghambat penelusuran.

Permasalahan lain yang dihadapi kader adalah insentif yang tidak setara dari pemerintah. Untuk kader dasawisma, misalnya, dibayar Rp1.500.000 per 3 bulan, kader jumantik sebanyak Rp500.000 per bulan, sementara kader PKK tingkat RW tidak dibayar. Padahal, ketiga kelompok kader tersebut melakukan kegiatan yang sama selama pandemi. Pemerintah harusnya mengalokasikan dana lebih untuk meningkatkan insentif kepada kader. Pelibatan kader dan terwujudnya surveilans berbasis masyarakat yang berkualitas masih menjadi PR bagi Pemerintah Indonesia.

 

Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

Pencerah Nusantara adalah inovasi mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012. Pencerah Nusantara menekankan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) oleh tim pemuda multi-profesi. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir menguatkan puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung menghadapi pandemi COVID-19 selama periode 6 bulan masa penempatan. Model Pencerah Nusantara menekankan peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi, pemantauan dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Sejak 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai program serupa bernama Nusantara Sehat.

 

Penulis

Anditha Nur Nina (Sarjana Kesehatan Masyarakat)

Pencerah Nusantara Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua