Peluang Besar Pertambangan RI dan Gugatan Uni Eropa Soal Biji NIkel - Pilihan - www.indonesiana.id
x

sumber foto: pediailmu.com

Chika Lestari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

Senin, 1 Maret 2021 06:49 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Peluang Besar Pertambangan RI dan Gugatan Uni Eropa Soal Biji NIkel

    Pemerintah optimistis ekonomi Indonesia akan meningkat dengan berporos pada industri pertambangan. Namun, terdapat penghalang yang harus dihadapi oleh negeri ini yaitu gugatan dari Uni Eropa soal kebijakan pemerintah melarang ekspo biji nikel. Menurut anda, sudah benarkah langkah pemerintah dalam melindungi sumber daya alamnya dan agar lebih mandiri dalam mengolah SDA?

    Dibaca : 599 kali

    Indonesia akan makmur! Apakah ini mimpi di siang bolong?

    Bukan. Para petinggi negara sudah menunjukkan rasa optimismenya. 

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto pada Selasa, 23/2, lalu, lewat akun Instagramnya, mengungkapkan ekonomi Indonesia memiliki masa depan yang cerah. Meskipun coronavirus masih singgah di dunia, upaya pemulihan ekonomi negeri sudah berada di jalur yang benar. 

    Airlangga menjelaskan investasi Indonesia mengalami peningkatan sebesar Rp 826,3 triliun di era pandemi ini. Belum lagi beberapa lembaga dunia juga meramalkan pertumbuhan ekonomi RI akan positif 4,4 persen hingga 4,8 persen. Namun pemerintah rupanya memiliki target sebesar 5 persen. 

    Sama seperti sang Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Luthfi menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan investasi yang besar khususnya di sektor hulu. Mari melihat dan belajar dari Morowali.

    Begitulah kira-kira penjelasan dari Luthfi. Dunia tahu bawa Sulawesi Tengah menjadi surganya nikel yang dapat dimanfaatkan menjadi komponen kendaraan listrik. Di Morowali, produksi nikel olahan sudah berjalan. Melalui konferensi pers virtual pada Kamis, 25/2, lalu, Luthfi menjelaskan adanya industri tambang nikel di wilayah tersebut membawa Indonesia bisa menempati urutan kedua sebagai negara terbesar yang menjual stainless steel ke dunia. 

    Jangan sampai tertinggal. Jangan selalu menutup mata. Bertahun-tahun lamanya negeri ini hanya dapat mengekspor bahan mentah saja. “Kita sekarang sudah jual besi baja dan otomotif yang ini adalah basis dari investasi. Jadi diverifikasi itu akan berjalan sesuai dengan terjadinya investasi dan industrialisasi,” ungkap Luthfi. 

    Terdapat 14 titik industri baru dimana sebagian besar berada di luar Pulau Jawa. Luthfi membeberkan nilai investasi di industri baru tersebut yang paling kecil adalah lebih dari US$ 5 miliar. 

    Optimisme dari pejabat negara tentu menular hingga ke masyarakat Indonesia. Dan pastinya kita menantikan ekonomi negeri yang cerah. 

    Namun di balik berita baik, sudah pasti ada berita tidak baik yang harus diperhatikan juga. Satu masalah yang perlu publik ketahui sebagai bukti bahwa pemerintah mempertahankan misinya untuk memajukan perekonomian nasional. 

    Perdebatan antara Uni Eropa (UE) dan Indonesia masih menjadi topik yang hangat. Perdebatan ini muncul dikarenakan UE merasa keberatan dengan regulasi pemerintah mengenai larangan ekspor bijih nikel yang diberlakukan sejak awal tahun 2020 lalu.

    Gugatan dari UE diajukan kepada WTO yang memiliki peran sebagai wasit perdagangan antar negara. Proses konsultasi yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah antara UE dan Indonesia telah dilaksanakan pada Januari 2021 di Sekretariat WTO di Jenewa.

    Di setiap kehidupan pahlawan super, akan ada musuh-musuh baru yang bermunculan. Itulah Indonesia. Bagi Airlangga, kita sudah berada di jalur yang benar. Namun bagi beberapa pihak justru sebaliknya. Pemerintah Indonesia tidak takut atas gugatan tersebut. Mereka akan menjadi barisan pertama untuk melindungi sumber daya nikel dan hak negara untuk bisa mengolahnya. Sebagai warga negara yang cinta pada bangsanya, tentu kita juga harusnya mendukung upaya yang dilakukan pemerintah. 

    Sudah benarkah langkah pemerintah untuk melindungi SDA dan menggenjot Indonesia lebih mandiri dalam mengolah SDA?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.