Air, Teologi, dan Masa Depan Bumi - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Era Sofiyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 17 Maret 2021 13:13 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Air, Teologi, dan Masa Depan Bumi

    Saat Majapahit memperluas lahan pertaniannya, mereka mampu mengirim beras ke daerah-daerah di bagian timur Nusantara untuk ditukar dengan rempah-rempah, yang kemudian mereka jual ke China. Menguasai jantung perdagangan laut dan piawai menerapkan teknologi pengairan untuk pertanian, maka lengkaplah kejayaan Majapahit. Produktivitas meningkat dan terjadi surplus.

    Dibaca : 827 kali

    Gemah Ripah, Loh Jinawi

    Dari seorang Raden Wijaya kita diajak mengharum-lestarikan sejarah. Ia mewariskan Trowulan, sebuah “kota” di Mojokerto, Jawa Timur, yang tersohor sebagai pusat kerajaan Majapahit. Dari tanah pemberian Jayakatwang (Raja Kediri), raja Majapahit pertama ini mampu memegang kendali monopoli perdagangan.

    Dalam berita Ying-yai Sheng-lan (1416) diungkapkan bahwa pelabuhan Canggu hampir tidak pernah sepi dari duyunan orang yang hendak datang ke ibu kota Majapahit, yang jaraknya satu setengah hari berjalan kaki. Mereka datang dari berbagai daerah. Dalam kisah lainnya, disebutkan pula adanya kedatangan bangsawan asal Persia lengkap beserta unta-unta mereka.

    Tidak cukup sampai disitu, kerajaan ini pun memperluas lahan pertaniannya. Mereka mampu mengirim beras ke daerah-daerah di bagian timur Nusantara untuk ditukar dengan rempah-rempah, yang kemudian mereka jual ke China.

    Menguasai jantung perdagangan laut dan piawai menerapkan teknologi pengairan untuk pertanian, maka lengkaplah kejayaan Majapahit. Produktivitas meningkat dan terjadi surplus.

    Semua kemakmuran tersebut, tidak lepas dari kepiawaian Majapahit membangun sistem pengairan. Konsep masyarakat hidrolik, menunjukkan suatu fakta, bahwa justru di daerah inti Majapahit telah dibangun suatu sistem irigasi yang kompleks dan luas yang pada gilirannya menjadi pusat peradaban. Mereka membangun waduk, kolam buatan serta kanal, yang tidak saja mampu mengairi areal pertanian, tapi juga berfungsi mengendalikan banjir saat kali Brantas meluap.

    Begitu pentingnya air dalam denyut kehidupan manusia, sehingga dalam kisah pewayangan air digambarkan sebagai ilmu pengetahuan yang dalam, yakni ilmu kesempurnaan kehidupan dimana ilmu merupakan penghilang dahaga disaat manusia mengalami kelelahan ketika meniti jalan kehidupan. Dalam lakon Dewa Ruci misalkan, air digambarkan sebagai ilmu kesempurnaan dan belum ada yang menyangkal bahwa tanpa air manusia dapat bertahan hidup.

    Pun, masyarakat Hindu percaya bahwa air hidup (tirta amerta) dapat digunakan sebagai alat upacara pembersihan diri dan upacara-upacara dalam bentuk tirta (air suci).

    Sementara dalam teologi Islam, air digambarkan telah ada sebelum langit dan bumi diciptakan bahkan sebelum segala yang ada di dunia ini masih belum ada. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa terdapat tiga diatara ciptaan Allah yang paling tua yaitu singgasana Tuhan atau arsy, buku rahasia kejadian yang disebut lauhul mahfud, dan air atau dalam bahasa Arab disebut maaun.

    Air sebagai karunia Tuhan yang indah yang bahkan dipercaya tidak akan ada kehidupan tanpa air. Ketamakan, kelalaian, kesewenangan, dan kecerobohan manusialah yang menyebabkan ketidakseimbangan siklus air sehingga mengakibatkan air berubah menjadi bencana seperti terjadi dewasa ini.

    Oleh karenanya, untuk memulihkan alam, manusia harus memiliki cinta kasih terhadap bumi dan ketulusan untuk merawatnya.

    Dr. Masaru Emoto, seorang peneliti dari Hado Institute di Tokyo, Jepang dalam bukunya The Hidden Massage in Water, mengungkapkan bahwa air yang didekatkan kepada hal yang positif, baik berupa perbuatan, kata-kata, suara, maka air tersebut juga akan meiliki kandungan yang positif. Begitu pula sebaliknya, apabila air kita dekatkan kepada hal yang negatif, baik itu berupa perbuatan, suara, tulisan, atau benda, maka Kristal air tersebut juga akan berubah menjadi buruk.

    Benar, perubahan besar memang harus dimulai dari yang kecil, dan yang terkecil harus diawali dari diri sendiri. Jadi, kita tak boleh memandang rendah hal-hal kecil dan meremehkan satu tindakan kecil. Kita dapat melihat ketika satu tangan bergerak, ribuan tangan akan mengikuti; satu mata memandang, ribuan mata turut melihat.

    Sayangi alam, maka alam akan menyayangi kita.

     

    #HariAirDuniaXXIX2021

    #MengelolaAirUntukNegeri

    #SigapMembangunNegeri



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.