Manakala Pemimpin Diam Saja - Analisa - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 4 Juni 2021 05:58 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Manakala Pemimpin Diam Saja

    Dihadapkan pada situasi krusial, mengapa ada pemimpin organisasi yang memilih untuk diam saja? Ada beberapa kemungkinan alasannya: tidak berdaya untuk bertindak, secara diam-diam menyetujui perkembangan situasi itu, atau meskipun agak kurang setuju namun ia memilih diam karena melihat adanya keuntungan bagi dirinya.

    Dibaca : 677 kali

     

    Dalam organisasi apapun, besar maupun kecil, sederhana ataupun kompleks, tinggi atau rendah jenjangnya, salah satu kewajiban pemimpin ialah membuka mata dan telinga tajam-tajam, serta—ini yang lebih penting—membuka mata hati lebih tajam, serta berpikir, bersikap, berdoa, dan bertindak. Namun jarak waktu antara berbagai aksi tersebut bukanlah dalam hitungan jam, apa lagi hari hingga minggu dan bulan, melainkan dalam hitungan detik dan menit. Menghadapi situasi krusial yang berkembang cepat, seorang pemimpin tidak bisa merenung lama-lama untuk mengambil keputusan. Ia akan ketinggalan kereta.

    Jika pemimpin lelet, butuh waktu lama untuk loading data dan informasi, sementara situasi sudah bergerak lebih maju lagi, maka iapun tertinggal. Namun, persoalannya, bisa saja ia bukan terlambat memutuskan, bukan pula terlambat bersikap, melainkan memang sengaja memperlambat. Dua kemungkinan ini, lambat atau sengaja memperlambat, bisa jadi akan membuahkan hasil yang sama, namun pilihan itu menunjukkan siapa sesungguhnya pemimpin tersebut. Apakah ia kredibel, berintegritas baik, dan dapat diandalkan oleh mereka yang dipimpin? Atau, ia pemimpin yang gemar bersiasat untuk keuntungan dirinya.

    Nah, apakah pemimpin itu lambat membuat keputusan atau sengaja  memperlambat, orang-orang yang dipimpin akan melihat dirinya sedang dalam keadaan berdiam diri. Bawahannya bergerak cepat, ia tidak mengeluarkan pernyataan apapun. Diam, bergeming, tidak bersuara, tidak merespon keadaan. Mager atau rebahan, malah, sembari menyumpal telinga dengan ujung earphone yang dari dalamnya terdengar dendang terajanaaaa... Meskipun begitu, jangan lupa, mager itu juga tindakan—artinya ia memilih untuk diam sambil melihat-lihat perkembangan keadaan.

    Banyak orang kesal dengan sikap diamnya itu, tapi ia tidak peduli: ‘Emangnya kalian mau apa kalau saya diam saja?’ Biarpun orang-orang meneriakinya agar ia bersikap dan bertindak, pemimpin ini akan memilih diam seribu basa. Bila perlu, pura-pura mengerjakan yang lain. Kelirukah jika orang banyak kemudian menilainya sebagai membiarkan keadaan berjalan tanpa ia mencegah dan menghentikannya? Sayangnya, ia mungkin menikmati hal itu, menikmati bagaimana orang-orang meminta dirinya bertindak, sementara ia bisa memilih untuk bertindak diam.

    Dalam menghadapi situasi krusial, seorang pemimpin sebenarnya sudah memiliki bekal untuk bersikap dengan cepat: menyetujui atau menghentikan, sebab mestinya ia sudah memiliki acuan nilai-nilai yang ia pegang teguh. Jika situasi berkembang sesuai dengan nilai yang ia pegang, misalnya kebenaran dan keadilan, ia akan setuju. Jika situasi yang berkembang bertentangan dengan nilai tadi, ia akan mencegah dan menghentikannya tanpa harus berpikir njlimet.

    Namun, di luar dua sikap tadi, masih ada sikap yang ketiga, yaitu mendiamkan atau membiarkan keadaan berkembang tanpa ia ikut ambil peran. Ia menunggu kira-kira ke mana keadaan akan berjalan—menguntungkan atau merugikan dirinya. Dua sikap yang terdahulu, setuju atau menolak, menandakan ketegasan dan kejelasan sikap pemimpin, walaupun bisa saja pilihannya itu tidak disepakati oleh bawahannya ataupun orang banyak. Namun, sikap yang ketiga, membiarkan atau mendiamkan keadaan, jelas bukan sikap gentleman seorang pemimpin. Mengapa? Karena ia berusaha mengambil keuntungan dari situasi yang berkembang cepat tanpa ia harus bersikap setuju atau menolak secara terbuka.

    Sebagai pemimpin, ia gagal mencontohkan sikap ksatria yang layak ditiru oleh mereka yang dipimpin. Ia membiarkan orang lain mengambil keputusan, sikap, maupun tindakan yang tidak disetujui orang banyak karena alasan tertentu, dan ia sebagai pemimpin tidak mencegahnya. Ia membiarkan keadaan bergulir dan kemudian memetik keuntungan dari keputusan bawahannya. Ibaratnya, ia membiarkan bawahannya digebuki orang banyak, asalkan ia tetap terjaga citranya. Ia tidak peduli apa kata orang mengenai sikap diamnya, yang penting ia bisa mengantongi keuntungan tertentu.

    Diamnya seorang pemimpin ketika banyak orang meminta ia bersikap terhadap urusan tertentu dapat dipahami sebagai beberapa kemungkinan. Pertama, ia memang tidak berdaya untuk mencegah atau menghentikan tindakan orang-orang di bawahnya. Meskipun secara hierarkis ia orang tertinggi dalam organisasi, bisa saja ia tidak memiliki daya dan wibawa di mata bawahannya yang mungkin lebih trengginas dan cekatan dalam mewujudkan agenda mereka sendiri. Sebagai pemimpin, ia memiliki kelemahan yang dimanfaatkan betul oleh bawahannya atau kekuatan lain di dalam maupun di luar organisasi. Karena tak berdaya, ia kemudian diam saja.

    Kedua, walaupun pemimpin ini tidak setuju dengan gagasan dan langkah bawahannya, namun ia membiarkan hal itu terjadi, karena tindakan bawahannya itu ternyata menguntungkan dirinya. Ia melihat manfaat tertentu bagi kepentingannya. Secara lahiriah, ia mungkin saja menyatakan tidak setuju terhadap tindakan bawahannya, namun secara batiniah ia justru membiarkan tindakan itu dilakukan. Ia tidak berupaya mencegah dan apa lagi menghentikannya, sebab tindakan bawahannya itu mendatangkan keuntungan terkait kepentingannya sendiri.

    Ketiga, pemimpin membisu terhadap suatu urusan karena secara diam-diam ia menyetujui langkah yang diambil bawahannya. Ia tidak akan menyatakan persetujuan secara terbuka, sebab ini berpotensi memperburuk citranya di mata banyak orang. Dengan diam, ia membuat sibuk banyak orang untuk menyusun analisis ini dan itu, ia juga membuat kesal banyak orang, namun ia tidak peduli. Bahkan, mungkin ia menerima laporan perkembangan keadaan sembari minum teh hangat dan menyantap kudapan, sementara anak buahnya menjadi sasaran kritik.

    Karena pemimpinnya membisu, bawahan tidak akan segan meneruskan langkah-langkahnya. Bawahan yang cerdik juga tahu bahwa pemimpinnya senang tanpa  perlu memperlihatkan rasa senangnya. Pemimpin yang tidak ksatria semacam ini dapat kita jumpai di organisasi manapun pada jenjang apapun. Lantas bagaimana ia bisa terpilih untuk memimpin sebuah organisasi jika wataknya demikian? Tak lain karena ini sudah suratan takdir, inilah takdir historis yang sudah tidak bisa dibatalkan karena sudah terjadi. Orang banyak mengetahuinya setelah sederetan peristiwa terjadi. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.