Sapare Aude dan Rekonstruksi Kepemimpinan Diri - Analisis - www.indonesiana.id
x

ilustr: Sinode GKJ

apriadi apri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2021

Minggu, 1 Agustus 2021 14:32 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sapare Aude dan Rekonstruksi Kepemimpinan Diri

    Pernahkah anda diam dalam kelompok diskusi, musyawarah atau kepanitiaan? Barangkali karena malu atau takut mengeluarkan pendapat. Padahal dalam hati ingin sekali berbicara. Jangan terpenjara dengans semua itu. Sampaikan saja. Setidaknya anda telah memiliki keberanian mengemukakan isi pikiran. Keberanian dalam mengemukakan suatu gagasan inilah yang diapresiasi oleh Immanuel Kant. Dia mengatakan zaman pencerahan sebagai pembebasan manusia dari ketidakdewasaan yang ditimbulkannya sendiri.

    Dibaca : 440 kali

    Sapere Aude! Sapare Aude!

    Merupakan ungkapan yang begitu fenomenal pada masa abad pertengahan di Eropa. Pada saat filsuf-filsuf mulai bermunculan di sana, ungkapan diatas adalah penuturan dari Immanuel Kant. Menurut Kant, setiap individu harus berpikir secara mandiri. Jangan gampang terbawa arus yang ada. Jika punya argumentasi ataupun pendapat yang berbeda dengan kelompokmu.

    Penulis mengambil contoh yang sering terjadi di sekitar kita. Pernahkan anda diam dalam kelompok diskusi, musyawarah atau kepanitiaan? Barangkali entah itu karena malu, gagu, tidak berani atau takut dalam mengeluarkan pendapat. Padahal dalam hati anda ingin sekali berbicara dan mengeluarkan pendapat. Ada baiknya disampaikan. Tak masalah jika argumentasimu diakomodir atau tidak. Setidaknya anda telah memiliki keberanian untuk mengemukakan isi dari pikiran anda.
    Keberanian dalam mengemukakan suatu gagasan inilah yang diapresiasi oleh Immanuel Kant.

    Namun penulis disini tidaklah membahas tentang fenomena diskusi tadi namun tentang kepemimpinan pribadi, kepemimpinan diri sendiri dalam hal berfikir. Menurut Kant kunci dari pencerahan akal budi adalah berani berpikir bebas. ‘Sapere Aude! Milikilah keberanian untuk menggunakan pengertian anda sendiri.

    Melalui esai ini Kant juga mematahkan anggapan bahwa untuk menggunakan pikirannya sendiri, suatu individu harus lebih tahu dan pintar terlebih dahulu, bahwa untuk berpikir bebas dan merdeka anda tak perlu jadi dosen, ketua organisasi, kuliah Strata-2 diluar negeri, atau pintar filsafat terlebih dahulu. Socrates pernah bilang bahwa manusia adalah mereka yang mau berpikir.

    Diperlukan suatu keberanian lebih memang dalam mengimplementasikan doktrin ‘Sapere Aude’, apalagi jika doktrin ini dihadapkan pada individu yang terbiasa dalam budaya ator-ator jak kami bah ngikut mah (bahasa Melayu Kayong). Ya, bagaimana lagi ‘berani’ sudah merupakan harga mati. Pasalnya, keberanian merupakan hal yang fundamental untuk melakukan presure terhadap pemahaman yang dominan. Jangan anda pedulikan mereka yang diam dan mendiamkan ketika fenomena terjadi. Mereka yang tidak berani berpikir bebas dan merdeka, dan tergantung atau manut terhadap keputusan mayoritas, menurut Kant adalah seorang yang pemalas, minimal didalam pikiran anda terkonsep mind mapping dan cara berfikir yang berbeda dari orang lain.

    Beranilah menggunakan pemahaman sendiri, demikian makna seruan tersebut. Sebuah super imperatif yang pertama-tama tidak ditujukan kepada alamat yang spesifik. Sebuah ajaran filsafat yang diyakini bersumber dari Ibn Rusyd. Gagasan dasarnya adalah kemandirian sebagai akibat kesadaran akan kemampuan diri sendiri dan keyakinan baru bahwa kebenaran tidak berasal dari satu sumber. Masih ada dan cukup tersedia kebenaran yang lain.

    Bagi Kant, “ … bukan semata-mata kondisi intelektual di mana seseorang merasa terbebaskan untuk  berpikir dan bertindak, tetapi yang terpenting adalah pencerahan itu berarti kematangan berpikir dan sanggup melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain”

    Untuk kepentingan praktis di dunia kepemimpinan, terdapat beberapa hal yang penitng, yaitu
    Pertama kondisi intelektual di mana seseorang merasa terbebaskan dalam berpikir dan bertindak, Kedua, kematangan berpikir, dan kemandirian (termasuk di dalamnya segi-segi yang mengikutinya: keterampilan mengambil keputusan, mempertahankan keputusannya, dan mempertanggungjawabkan. Meski saat ini hal itu terasa umum dan sederhana, terutama dengan pendekatan manajemen, namun pada masanya ajaran itu ditemukan secara susah payah, dianjurkan secara sungguh-sungguh, dan menghasilkan perubahan yang signifikan: Revolusi Perancis!

    Bagi pemimpin masa kini, yang ingin mandiri dalam menjalankan keterampilan kepemimpinannya, anjuran ajaran ini masih relevan. Jangan malas untuk berfikir  

    Berpikirlah bebas! Sapare Aude!

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.