Nie Hoe Kong - Kapiten Tionghoa Saat Kerusuhan di Betawi yang Bernasib Buruk - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

cover buku Ni Hoe Kong

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 4 Agustus 2021 10:57 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Nie Hoe Kong - Kapiten Tionghoa Saat Kerusuhan di Betawi yang Bernasib Buruk

    Nie Hoe Kong ditudung sebagai penggerak kerusuhan Tionghoa di Batavia tahun 1740. Kerusuhan itu menimbulkan korban lebih dari 10 ribu orang Tionghoa. Pengadilan atas perkaranya berlarut-larut sampai tiga tahun. Meski dakwaan tidak bisa dibuktikan secara kuat, Nie Hoe Kong dinyatakan bersalah dan dibuang ke Ambon.

    Dibaca : 956 kali

    Judul: Ni Hoe Kong – Kapiten Tiong Hoa di Betawie Dalem Tahun 1740

    Judul Asli: Ni Hoe Kong – Kapitein der Chineezen te Batavia in 1740

    Penulis: B. Hoetink

    Penterjemah: Leim Koen Hian

    Tahun Terbit: 2007

    Penerbit: Masup Jakarta             

    Tebal: xxi + 170

    ISBN: 978-979-15706-2-6

     

    Saya membaca buku Ni Hoe Kang karya B. Hoetink setelah sebelumnya membaca buku “Geger Pacinan” karya Darajadi dan “Tionghoa di Batavia dan Huru Hara 1740” karya Vermeulen. Artinya, saya mempunyai bekal cukup untuk langsung membahas keterlibatan Kapitan Cina Bernama Ni(e) Hoe Kong dalam huru-hara Cina yang mengakibatkan terbunuhnya ribuan orang Cina di Batavia. Peran Nie Hoe Kong dalam kerusuhan ini menjadi sangat penting untuk menyimpulkan apakah kerusuhan tersebut memang direncanakan dengan baik, atau sebenarnya akibat dari reaksi berlebihan pihak Belanda dalam mengatasi kriminalitas di Batavia.

    Buku Darajadi fokus kepada pemberontakan orang Cina yang berkolaborasi dengan orang Jawa di pesisir utara Jawa. Utamanya di Jawa Tengah. Buku Darajadi hanya sedikit saja mengungkap kerusuhan di Batavia. Berbeda dengan buku Darajadi, buku karya Vermeulen memang membahas kerusuhan Batavia 1740. Vermeulen memberikan latar belakang yang sangat rinci yang menjadi penyebab kerusuhan, kerusuhannya itu sendiri, siapa (pihak Belanda) yang harus bertanggung jawab dan dampak yang ditimbulkan oleh kerusuhan tersebut.

    Baik Darajadi maupun Vermeulen menjelaskan bahwa penyebab kerusuhan adalah karena kemunduran ekonomi dan praktik korupsi para pejabat VOC dalam menerapkan aturan. Kemunduran ekonomi dan membanjirnya orang Tionghoa di Batavia menyebabkan Pemerintahan VOC mengambil tindakan represif kepada orang Tionghoa. VOC membatasi jumlah imigran, menerapkan pajak, mengirim orang Tionghoa ke Srilanka dan Tanjung Harapan di Afrika Selatan, dan sebagainya. Namun, semua aturan ini ternyata tidak dijalankan dengan baik oleh pemegang kekuasaan karena banyak imigran Tionghoa tetap masuk dengan cara menyogok.

    Kebijakan pemindahan orang Tionghoa keluar Batavia menimbulkan desas-desus bahwa mereka dibuang di laut. Kondisi yang semakin menekan orang Tionghoa menimbulkan kriminalitas di dalam kota. Imigran Tionghoa yang tidak mempunyai pekerjaan telah menimbulkan keresahan. Orang Tionghoa yang tidak bekerja mulai melakukan kegiatan kriminal. Mereka menyerang pos-pos keamanan VOC untuk membebaskan kawan-kawannya yang ditangkap. Puncaknya terjadi ketika 50 tentara VOC terbunuh oleh orang Tionghoa yang kebanyakan adalah buruh pabrik gula.

    Di saat yang sama, Valckinier mendengar bahwa di luar Batavia orang-orang Tionghoa telah mengkonsolidasi untuk menyerang kota. Situasi ini menyebabkan Gubernur Jenderal Vackenier memaklumatkan penggunaan kekerasan kepada orang Tionghoa. Perintah yang dikeluarkan oleh Valckenier pada tanggal 7 Oktober ini kemudian ditindaklanjuti secara membabibuta. Terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap orang Tionghoa. Diperkirakan lebih dari 10.000 orang Tionghoa tewas dalam tindakan represif ini.

    Dua buku terdahulu tersebut memberikan kepada saya informasi tentang kerusuhan tersebut dari sisi para pemberontak Cina yang mengobarkan perang di Jawa Tengah dan kajian dari sisi orang Belanda. Buku karya Hoetink ini membahas lebih detail tentang peran elite Cina, khususnya sang Kapitan Nie Hoe Kong dalam huru-hara tersebut. Hoetink menggunakan dokumen-dokumen Raad van Justitie untuk membangun pendapatnya tentang peran Nie Hoe Kong. Hoetink melampirkan dokumen-dokumen tersebut dalam buku ini.

    Apakah Nie Hoe Kong bersalah? Jika ya, peran seperti apa yang diembannya dalam kerusuhan tersebut? Atau sesungguhnya Nie Hoe Kong adalah korban dari persaingan politik antara Adrian Valckinier dengan Gustaaf Wilhelm Baron von Imhoff?

    Persidangan yang bertele-tele, diwarnai dengan tindakan kekerasan dalam pemeriksaan dan memakan waktu lebih dari 3 tahun. Nie Hoe Kong akhirnya diputus bersalah dan menerima hukuman pengasingan ke Ambon. Upayanya untuk dibuang ke Tiongkok ditolak. Nie Hoe Kong meninggal di pengasingan.

    Hoetink memberikan serba sedikit latar belakang kekacauan yang terjadi di Batavia pada tahun 1740. Ia menyatakan bahwa pemberontakan itu disebabkan karena aturan dari pemerintah VOC, terutama implementasi dari aturan tersebut (yang korup) (hal. 4). Akibat dari kerusuhan itu diperkirakan 10.000 orang Cina terbunuh. Pihak Belanda kemudian menuduh bahwa Nie Hoe Kong sebagai Kapiten Cina ikut serta menyiapkan pemberontakan tersebut.

    Nie Hoe Kong adalah anak dari Luitenant Nie Locko. Ia menggantikan posisi ayahnya sebagai Luitenant pada tahun 1733 dan 3 tahun kemudian dipromosikan menjadi Kapiten (hal. 2). Pada saat kerusuhan Cina di Batavia, Nie Hoe Kong masih menjabat sebagai Kapiten. Nie Hoe Kong adalah seorang Cina yang sangat kaya. Ia mempunyai beberapa perkebunan gula di luar Batavia. Namun saat ia menjabat sebagai Kapiten, perkebunannya itu disewakan kepada pihak lain. Ia tidak lagi aktif mengelola bisnisnya tersebut.

    Pihak Belanda menuduh Nie Hoe Kong sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap pemberontakan orang-orang Tionghoa. Orang-orang Tionghoa tentu tidak akan bergerak tanpa perintah sang Kapiten (hal. 45). Atau setidaknya ia mengetahui rencana pemberontakan tersebut. Alasan utamanya adalah bahwa teman dekatnya Ni Waijkong dan saudara lelaki Nie Hoe Kong yaitu Ni Liankong, ikut mengorganisir pemberontakan tersebut.

    Untuk mendukung tuduhan tersebut, pihak Belanda menyampaikan bahwa ada pengumuman di pabrik gula milih Nie Hoe Kong (sudah tidak dikelola langsung oleh Nie Hoe Kong) supaya memasang lampion di rumah-rumah orang Tionghoa menjelang kegiatan Sembahyang Rebutan. Pemasangan lampion ini dianggap oleh Belanda sebagai tanda supaya rumah-rumah yang ada lampionnya tidak diserang oleh para pemberontak. Nie Hoe Kong juga dituduh menyiapkan senjata baik yang sudah ada di rumahnya maupun yang akan datang melalui kapal dari Tiongkok. Tentang senjata yang ada di rumahnya, memang terbukti. Ditemukan beberapa pucuk senjata saat penggeledahan. Namun jumlahnya tidak seberapa untuk bisa dipakai melakukan pemberontakan. Sedangkan kapal yang membawa senjata dari Tiongkok tidak pernah terbukti.

    Nie Hoe Kong tidak pernah mau mengakui kesalahan-kesalahan yang dituduhkan kepadanya. Walaupun pemeriksaan perkaranya dilakukan dengan kekerasan. Pembelanya pun cukup berhasil mematahkan segala tuduhan yang dialamatkan kepada Nie Hoe Kong. Namun demikian Nie Hoe Kong tetap diputuskan bersalah dan dibuang ke Srilanka. Atas permintaanya, maka akhirnya Nie Hoe Kong dibuang ke Ambon.

    Kesimpulan Hoetink atas perkara ini sangatlah menarik. Hoetink menyebut kelemahan atau ketidakcakapan Nie Hoe Kong sebagai Kapitenlah yang membuat hidupnya penuh tragedi (hal. 96). Sedangkan Mona Lohanda lebih menyoroti sistem pengaturan penduduk di Batavia yang didasari kepada car acari untung dari VOC tanpa mau mengeluarkan biaya (keamanan). “Kalau disimak lebih dalam, kerusuhan tionghoa ini merupakan cerminan dari sistem management pemerintahan VOC yang melulu berorientasi kepada mencari keuntungan tanpa mengeluarkan biaya (hal. ix).

    Karena buku ini fokus kepada perkara Nie Hoe Kong, maka keresahan orang-orang Tionghoa akibat penangkapan dan pembuang ke Srilanka tidak terlalu dibahas. Orang-orang Tionghoa menjadi resah karena ada desas-desus yang menyatakan bahwa mereka yang ditangkap dan dibuang ke Srilanka sesungguhnya tidak pernah sampai ke sana. Mereka itu ditenggelamkan ke laut dalam perjalanan ke Srilanka. Desas-desus ini dianggap sebagai faktor penting oleh Vermeulen sehingga orang-orang Tiongha akhirnya memberontak. 612



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.