Ketika Celeng Diseruduk Banteng - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Adjat R. Sudradjat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 26 Oktober 2021 14:50 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Ketika Celeng Diseruduk Banteng

    Sesaat Seknas Ganjar Indonesia dideklarasikan, ketua DPD PDIP Jawa tengah, Bambang Pacul Wuryanto melontarkan sebutan "celeng" terhadap kader dan relawan yang mengusung Gubernur Jawa Tengah untuk maju dalam Pilpres 2024 mendatang. Menariknya, sebutan itu justru membuat relawan Ganjar makin solid dan masif. Ini berbarengan dengan nama Ganjar yang makin terkerek dalam poling-pling elektabilitas.

    Dibaca : 1.340 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    "Adagium di PDIP itu yang di luar barisan bukan banteng, itu namanya celeng. Jadi apapun alasan itu yang deklarasi, kalau di luar barisan ya celeng." 

    Statemen di atas diungkapkan ketua DPD PDIP Jawa Tengah, Bambang "Pacul" Wuryanto, menanggapi kader partai "Wong Cilik" yang beberapa waktu lalu mendeklarasikan Seknas Relawan Sahabat Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, sebagai calon presiden yang akan maju di Pilpres 2024.

    Bambang "Pacul", yang juga menjabat ketua DPP PDIP bidang Badan pemenangan pemilu, lebih lanjut menegaskan, bahwa PDIP adalah partai yang merupakan barisan yang mengikuti satu arahan dari pimpinan. Seluruh kader wajib mengikuti aturan dari ketua umum.

    Bukan hanya sekali itu saja, Bambang menunjukkan sikap penolakan terhadap pihak yang memberikan dukungan kepada Ganjar Pranowo untuk maju dalam Pilpres mendatang.

    Bahkan sebelumnya, ketika diselenggarakan acara temu kader PDIP di Semarang yang dihadiri Puan Maharani, alasan Bambang tidak mengundang Ganjar dalam acara PDIP di Semarang, Sabtu (22/5/2021), karena langkah Gubernur Jawa Tengah tersebut dianggap berseberangan dalam perihal pencapresan dengan PDI-P.

    Politikus senior PDIP yang satu ini, selama ini memang dikenal dekat dengan Puan Maharani, putri ketua umum DPP PDIP, Megawati. Bisa jadi sikapnya yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaan terhadap Ganjar pun dipicu oleh para kader akar rumput PDIP yang tidak loyal terhadap ketua DPD PDIP Jawa Tengah ini yang ingin mengorbitkan ketua DPR RI sebagai capres jagoannya, tapi mereka malah justru beramai-ramai memberi dukungan kepada Ganjar.

    Sebutan "celeng" terhadap kader yang dianggap mbalelo, alias membangkang komando pucuk pimpinan partai berlogo kepala banteng dengan moncong putih ini tidak menyurutkan semangat "celeng-celeng" dalam menghimpun dukungan terhadap Gubernur Jawa Tengah ini. 

    Sebagaimana celeng, atau tepatnya babi hutan yang memiliki kebiasaan hidupnya bergerombol di habitatnya, dan bersatu padu manakala berhadapan dengan predatornya, demikian juga halnya dengan para "Celeng" yang ditabalkan Bambang "Pacul" Wuryanto terhadap relawan Sahabat Ganjar, dalam kenyataannya justru semakin masif saja mendapatkan dukungan "Celeng-celeng" dari berbagai penjuru tanah air dengan sukarela untuk ikut memberikan support kepada Ganjar Pranowo.

    Salah satu buktinya adalah hasil survei yang dilakukan Litbang Kompas baru-baru ini. Tren positif dan signifikan begitu jelas. Gubernur Jawa Tengah ini mampu menyamakan posisi di peringkat pertama bersama Prabowo Subianto. "Celeng-celeng" yang mengatasnamakan Seknas Ganjar Indonesia (SGI) itu kian hari semakin menampakkan diri ke permukaan. 

    Bahkan hanya dalam hitungan hari, elektabilitas Ganjar Kian moncer saja, melesat naik meninggalkan Prabowo dan Anies Baswedan yang menguntit di belakangnya. Sebagaimana yang dirilis lembaga survei Poltracking baru-baru ini.

    Dalam pertanyaan terbuka capres 2024, nama-nama yang terekam antara lain, Ganjar Pranowo (18,2 persen), Prabowo Subianto (17,1 persen), Anies Baswedan (10,2 persen),” kata Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda di Jakarta, Senin (25/10/2021).

    Sementara nama lainnya, yakni Ridwan Kamil (2,4 persen), Khofifah Indar Parawansa (2,1 persen), Sandiaga Salahuddin Uno (1,7 persen), Puan Maharani (1,5 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (1,3 persen), Airlangga Hartarto (0,5 persen), Gatot Nurmantyo (0,4 persen), Andika Perkasa (0,3 persen), Mahfud MD (0,3 persen), Erick Thohir (0,2 persen) dan Muhaimin Iskandar (0,2 persen).

    Coba bandingkan dengan elektabilitas Puan Maharani yang dijagokan Bambang Pacul Wuryanto yang cuma 1,5 persen.

    Terlebih lagi sebagaimana sejarah telah membuktikan, bangsa ini mudah sekali trenyuh terhadap sesamanya yang teraniaya. Contohnya SBY ketika pertama kali maju dalam Pilpres. Saat itu playing victim yang diperankannya sebagai yang dikucilkan Megawati, ternyata mendapat simpati yang sedemikian masifnya, dan pada akhirnya SBY tampil sebagai pemenangnya.

    Demikian juga halnya dengan yang menimpa Ganjar Pranowo sekarang ini. Tidak menutup kemungkinan pada Pilpres 2024 mendatang, akan bernasib sama seperti SBY pada 2004 lalu.

    Bukankah sejarah seringkali terulang? ***



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.