Semoga Timnas Garuda U-23 Menjadi David yang Unggul atas Goliath Timnas Australia U-23 - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Timnas U-23

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 26 Oktober 2021 15:05 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Semoga Timnas Garuda U-23 Menjadi David yang Unggul atas Goliath Timnas Australia U-23

    Ayo Garuda, jadikan kisah David dan Goliath spirit serta tuah STy sebagai pengikatnya demi mampu mengimbangi bahkan membalikkan prediksi, timnas Garuda mampu menjadi David yang menyingkirkan Goliath Australia. Konsentrasi penuh di barisan pertahanan, peragakan sistem bertahan kolektif, lalu pakai jurus sengatan lebah yang mematikan saat melakukan serangan balik dengan transisi bertahan dan menyerang yang cerdas dan konsisten.

    Dibaca : 588 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Laga leg pertama timnas Indonesia U-23 versus timnas Australia U-23 dalam Kualifikasi AFC Cup U-23 2022 Grup G yang akan dihelat di Republikan Central Stadium, Dushanbe, Tajikistan pada Selasa (26/10/2021), pukul 19.00 WIB, bisa saya ibaratkan pertarungan antara David dan Goliath.

    David dan Goliath

    David dan Goliath adalah kisah melegenda di dunia yang mewakili pertarungan antara si lemah dan raksasa. Namun, ternyata secara tak terduga dan ajaib, David mampu menang. Seharusnya dia tidak Menang. Kisah David yang lemah dan mampu menang melawan raksasa ini, memberikan teladan bahwa rintangan, kelemahan, kesukaran, penderitaan, hingga hal yang nampaknya mustahil, tidak mungkin, akan menjadi mungkin dan akan indah hasilnya karena mampu melewati hadangan dengan pikiran dan tindakan yang cerdas, berjuang pantang menyerah.

    Kisah David dan Goliath ini, dapat menjadi spirit bagi anak-anak asuhan Shin Tae-yong (STy) saat meladeni tim berjuluk Olyroos yang kokoh di posisi 34 ranking terbaru FIFA (21/10/2021) berbeda 131 digit dari timnas Indonesia yang duduk di ranking 165.

    Ibarat Goliath, Australia sudah pasti bukan lawan mudah bagi Indonesia. Olyroos U-23, meski dihuni generasi baru, tetap berisi skuat mumpuni di bawah asuhan Trevor Morgan. 21 pemain yang dibawa Morgan di Olyroos tetap berstandar kualitas mumpuni.

    Dari 21 nama, beberapa pemain telah menimba ilmu di klub-klub Eropa, seperti Lachlan Brook (Brentford B/Inggris), Jordan Courtney-Perkins (Radkow Czestochowa/Polandia), Jacob Italiano (Borussia Monchengladbach II/Jerman), Marc Tokich (Mjallby Aif/Swedia), serta Fabian Monge (Xanthi FC/Yunani). Selain mereka, mayoritas pemain lain pun telah mendapatkan jam terbang yang cukup di Liga Australia, A-League musim ini.

    Dengan fakta ranking FIFA dan dihuni pemain yang mumpuni serta prestasinya yang menjadi langganan Piala Dunia dan Olimpiade, maka jelas bahwa timnas Australia adalah Goliath bagi timnas Indonesia.= Sebaliknya timnas Indonesia saya ibaratkan sebagai David dengan fakta dan data serta sejarah prestasi timnas yang memang bak bumi dan langit dengan Australia.

    Menariknya lagi, demi lolos Kualifikasi, Indonesia harus mengalami nasib harus duel dengan satu-satunya lawan di Grup G karena peserta lain mengundurkan diri dengan alasan masing-masing.

    Tantangan pun semakin bertambah rumit. Bukan saja pasukan STy harus meladeni Si Goliath yang juga unggul postur di segala lini, laga pun tersaji di lapangan sintetis yang butuh kesiapan tersendiri. Lengkaplah rintangan itu. Selain keberadaan lawan, lapangan pun harus pula dapat dijinakkan.

    Perigatan, Indonesia tak mudah= Sebelum pertarungan antara David dan Goliath terjadi, ada perbedaan mencolok dalam persiapan tim. Timnas Australia nampak santai dan bahkan menurunkan skuat baru yang digadang sebagai skuat masa depan. Mereka juga tak nampak melakukan laga uji coba, TC pun di negara yang suhunya berbeda dengan Tajikiatan. Serta sangat percaya diri karena mereka sudah merasa Goliath.

    Sementara, kesadaran sebagai tim yang diibaratkan David, STy pun lebih cepat melakukan persiapan. Datang lebih awal ke Tajikistan. Melakukan dua kali uji coba. Hal ini dilakukan sebagai upaya bahwa meski lawannya berat dan berbeda kelas, hal yang mustahil bisa saja menjadi mungkin. Yaitu, dengan perjuangan, David saja mampu mengalahkan Goliath.

    Kendati dalam dua laga uji coba penggawa Garuda mampu menggulung lawan-lawannya, mereka bukan Australia. Tetapi setidaknya, ada gambaran sekaligus peringatan bagi Australia bahwa Bagas dan kawan-kawan, bukan lawan yang mudah bagi Australia.

    Tuah STy

    Meskipun Indonesia saya ibaratkan David, namun karena keberadaan STy, maka STy diharapkan akan menjadi tuah, mendatangkan keuntungan bagi Indonesia dan akan menjadi pertaruhan rekor STy yang selalu menang melawan Australia baik saat aktif menjadi pemain maupun ketika menjadi pelatih.= Sebelumnya, STy tercatat telah empat kali bertanding melawan Australia, dua kali saat menjadi pemain dan dua kali ketika menangani tim dan hasilnya selalu menang. Saat menjadi pemain, bersama timnas Korsel U-23 di tahun 1992, Shin Tae-yong dua kali bertanding vs Australia U-23. Laga pertama 3 Mei 1992, timnas Korsel U-23 unggul 2-1, laga kedua kembali menang 2-1.

    Saat STy menjadi pelatih Korsel U-23 23 tahun kemudian, STy juga memenangi dua laga dengan skor 2-1 dan 2-0 pada 9 dan 12 Oktober 2015.= Kini STy tidak bersama timnas Korsel, pun sedang tak mengasuh timnas Korsel yang ranking FIFAnya pun satu digit di bawah Australia, yaitu ranking 35 dunia, namun mengasuh anak-anak Garuda yang sedang meretas asa bangkit sepak bolanya, setelah menjelang usia PSSI dekat 100 tahun (8 tahun lagi) dan terpuruk di ranking 165 dunia.

    Mengukur diri adalah hal yang realistis. Tetapi spirit kisah David versus Goliath dapat menjadi inspirasi bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin, tidak ada hal yang mustahil bila segala sesuatunya diperjuangkan dengan segenap jiwa dan raga. Pikiran dan mental pantang menyerah sebelum dan selama bertanding hingga titik darah penghabisan.

    Ayo Garuda, jadikan kisah David dan Goliath spirit serta tuah STy sebagai pengikatnya demi mampu mengimbangi bahkan membalikkan prediksi, timnas Garuda mampu menjadi David yang menyingkirkan Goliath Australia.

    Konsentrasi penuh di barisan pertahanan, peragakan sistem bertahan kolektif, lalu pakai jurus sengatan lebah yang mematikan saat melakukan serangan balik dengan transisi bertahan dan menyerang yang cerdas dan konsisten. Tidak ada yang mustahil. Aamiin.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.