Santri Siap Siaga Hadapi Digitalisasi - Analisis - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Rabu, 27 Oktober 2021 21:17 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Santri Siap Siaga Hadapi Digitalisasi

    INDONESIA merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim terbanyak di dunia. Tak heran, negeri ini memiliki banyak sekolah keagamaan. Salah satunya adalah pesantren.

    Dibaca : 271 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dikutip dari data terkini di ditpdpontren.kemenag.go.id, terdapat 27.722 pesantren dengan 4.175.531 santri di seluruh Indonesia. Mereka memiliki potensi yang luar biasa dalam pembangunan sumberdaya manusia. Karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas para santri.

    Salah satu program yang sedang digalakkan pemerintah adalah digitalisasi di pesantren. Ketika memperingati Hari Santri Nasional dan Peluncuran Logo Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) pada  22 Oktober 2021, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan  pentingnya transformasi digital.

    "Kita harus terus mendorong usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah kita untuk go digital. Masuk ke toko online, masuk ke marketplace, masuk ke e-commerce, dan bisa masuk ke supply chain nasional maupun global, dan menjadi pemain utama dalam pertumbuhan industri halal tingkat global," kata Presiden.

    Sebelumnya, saat memberi Pengarahan kepada Peserta PPSA XXIII Lembaga Ketahanan Nasional pada tanggal 13 Oktober 2021, Presiden Jokowi  meminta agar pembelajaran terkait digital harus ditingkatkan.

    “Bahasa itu bukan hanya Bahasa Inggris saja, bahasa coding ini lebih penting lagi kedepannya. Karena kedepan ini akan banyak pekerjaan-pekerjaan yang hilang, tapi juga akan muncul jenis pekerjaan baru” ujar Jokowi.

    Jokowi juga berharap semua orang dapat mempersiapkan diri menghadapi perubahan tersebut “Oleh karena itu, kita sendiri dan anak-anak kita harus disiapkan untuk siap belajar, siap menghadapi perubahan.”

    Kementerian Agama yang membawahi pesantren juga memiliki Program Kemandirian Pesantren. Dalam hal ini, pesantren mandiri memiliki sumber daya ekonomi yang kuat dan berkelanjutan sehingga dapat menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat dengan optimal.

    Salah satu cara untuk menciptakan pesantren mandiri adalah dengan mendorong lembaga pendidikan ini untuk mempercepat proses digitalisasi usaha.

    Pesantren harus mampu menyelaraskan pengelolaan bisnis yang profit oriented tapi tidak menghilangkan karakter pesantren yang sosial oriented.

    Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyatakan akan terus  peran pesantren sebagai institusi pemberdayaan masyarakat.

    "Pesantren tidak hanya berkontribusi dalam penguatan literasi keagamaan, tapi juga ikut membantu mengembangkan ekonomi masyarakatnya," ujar Menteri,18 Oktober 2021.

     

    Santri Kreatif

    Program kemandirian pesantren tentu butuh peran dan dukungan banyak pihak. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Republik Indonesia, Sandiaga Uno meluncurkan program Santri Digitalpreneur Indonesia pada tanggal 14 September 2021.

    Program ini bertujuan melatih dan mendampingi santri untuk mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif dengan melibatkan para pelaku industri sebagai mentor pembimbing. Program ini terbagi menjadi tiga jenis pelatihan, yaitu 2D Animation, Creative Audio Production dan 3D Animation.

    Program 2D Animation merupakan pelatihan pembuatan animasi dua dimensi dengan menggunakan software Adobe Photoshop dan Adobe After Effects. 

    Creative Audio Production merupakan pelatihan konten berbasis audio dengan menggunakan software Cubase SL. Pada program ini, santri mendapat materi Audio PreProduction, Production hingga tahap post production.

    Sedangkan 3D Animation merupakan pelatihan membuat animasi tiga dimensi dengan menggunakan software Blender.

    "Dalam era digital seperti ini, berdakwah tidak perlu dilakukan secara konvensional karena digitalisasi telah menyediakan informasi yang bisa dilakukan melalui konten digital,” kata Sandiaga.

    Para santri diharapkan memahami teknologi dan digitalisasi. "Menjadi pandemic winner tanpa mengurangi esensi dari syiar dan dakwah itu sendiri," lanjutnya

     

    Sokongan BUMN

    Digitalisasi pada pesantren diharapkan akan mewujudkan santri modern yang tetap menjunjung tinggi akhlakul karimah, mampu bersaing di industri kreatif dan digital. Mereka juga mampu menjadi produsen informasi dan literasi atau penggerak konten-konten dan produk bermutu dengan tetap bernilai agama serta memiliki integritas tinggi dalam menghasilkan karya.

    Dukungan terhadap digitalisasi pesantren mendapatkan sokongan dari BUMN. Antara lain dari Telkom yang meluncurkan program Pesantren Go Digital dan 1000 Santri Digital.

    Pesantren Go Digital adalah program yang dibuat untuk memberikan solusi dalam bidang digitalisasi, baik untuk proses belajar mengajar, untuk proses bisnis di lingkungan pesantren ataupun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pesantren.

    Sedangkan 1000 Santri Digital adalah program belajar keahlian digital kepada seluruh santri pondok pesantren melalui praktik dan studi kasus. Dengan begitu, mereka siap masuk ke industri dan dunia kerja maupun berkembang menjadi santri digital yang inovatif dan memiliki karya.

    Dikutip dari laman Telkom, dengan program Pesantren Go Digital, maka pesantren akan mendapatkan layanan website builder sebagai wadah informasi. Selain itu, sebagai wadah untuk mengajar atau belajar secara digital sehingga lebih mudah dan cepat

    Go Digital juga menyediakan wadah untuk mengelola UMKM di e-commerce sehingga dapat menjangkau lebih banyak pembeli.

    Tak kalah penting adalah kartu Financial Technology (Fintech) sebagai alat pembayaran digital. Cara ini memudahkan orang tua dalam melakukan top up dan monitoring terhadap transaksi dan saldo santri.

    Sedangkan dengan program 1000 Santri Digital, maka santri akan dilatih menjadi Engineer dan Software Development (Hacker), Desainer dan Ahli User Experience (Hipster), Ahli Marketing dan Bisnis (Hustler), dan Pembimbing Spiritual seperti Ustadz/ Dai (Preacher).

     

    Percontohan Pesantren Go Digital

    Beberapa pesantren telah menerapkan konsep digitalisasi. Pondok Pesantren Cendekia Amanah  menjadi salah satu pilot project pesantren digital di Indonesia.

    Salah satu implementasi pilot project Pesantren Go Digital adalah kartu santri. Dengan kartu tersebut nantinya akan memudahkan para santri maupun wali santri untuk bertransaksi di pesantren.

    Kartu digital ini terintegrasi dengan QR Code dan Barcode, sehingga bisa digunakan untuk transaksi, dan mengurus administrasi santri.

    Telkom Indonesia juga mengimplementasikan studio digital di Pesantren Cendekia Amanah. Studio digital ini memberikan konten-konten digital yang informatif dan edukatif dari pesantren untuk masyarakat.

    Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok, KH M Cholil Nafis merasakan manfaat digitalisasi. “Melalui digital ini semua bisa diperbaiki, berkenaan dengan keuangan orang bisa bayar langsung via digital, dan laporan keuangan juga. Bahkan anaknya jajan di mana dan belanja  dimanapun bisa diakses,” jelas Kiai Cholil yang juga salah satu Ketua MUI Pusat.

    Pesantren juga memiliki podcast di studio digital yang nantinya akan menjadi sarana untuk berdakwah.

    Contoh lainnya adalah Pondok Pesantren Al-Mizan, di Jatiwangi, Majalengka, Jabar. Telkom Indonesia memberikan bantuan berupa laboratorium komputer bagi para santri, rumah Kreatif Pesantren dan dukungan SDM untuk pengembangan program digital yang mendukung UMKM berbasis pesantren.

    Al-Mizan mengelola lembaga Pendidikan dari TK hingga SMK, Unit usaha Mizan Mart, dan membina 50 UMKM berbasis pesantren.

    Dewan Pembina Yayasan Mizan, KH. Maman Imanulhaq mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk kehadiran negara dalam mendorong pesantren agar bersaing dalam sistem pengajaran, serta manajemen ekonomi keumatan.

     

    Dampak Digitalisasi Pada Pesantren

    Program digitalisasi pesantren memiliki banyak dampak positif. Antara lain, digitalisasi akan memudahkan pesantren dalam memproses pengolahan data mulai dari administrasi hingga transaksi.

    Digitalisasi akan membuka peluang untuk masyarakat sekitar lingkungan pesantren untuk membuka UMKM dan berkolaborasi dalam mengembangkan bisnisnya. Dengan demikian, maka akan terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi di lingkungan pesantren dan UMKM.

    Digitalisasi juga akan menciptakan peluang baru dari setiap aktivitas digital, baik dari dalam dan luar lingkungan pesantren atau pun komunitas untuk kolaborasi.

    Melalui program ini, terjadi  pembinaan untuk para santri, asatidz, manajemen pesantren untuk terus mengembangkan kompetensi keahlian digital.

    Aktivitas pertukaran informasi, data, komunikasi, dan interaksi baik di dalam maupun luar lingkungan pesantren menjadi juga semakin cepat dan mudah.

    Dengan adanya program digitalisasi, para santri akan mampu memasuki Era Industri 4.0. ****

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.077 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.