Ingin Melupa Tapi Tak Kuasa - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi remaja galau. Pxhere.com

Regina Eka Meylani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 November 2021

Rabu, 10 November 2021 11:08 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Ingin Melupa Tapi Tak Kuasa

    Bismillahirrahmanirrahim Semoga cerpen ini bermanfaat bagi pembaca.

    Dibaca : 595 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ingin Melupa Tapi Tak Kuasa

    Diana adalah gadis berusia 17 tahun, dia selalu tampak ceria. Namun, tidak untuk akhir-akhir ini dia lebih sering tampak murung, selalu menyendiri, bahkan melamun. Hal itu terjadi setelah seorang laki-laki pertamanya yang dia cintai meninggalkannya untuk selamanya.

    Hujan. Kebanyakan orang menyukai hujan, tapi tak heran banyak juga yang membencinya karena hujan selalu menyimpan segenggam kenangan yang sulit tuk dilupakan. Diana adalah salah satu orang yang begitu menyukai hujan. Di mana ketika hujan turun, dia selalu bermain bersama buliran air yang menggelinding dengan ritme yang senada. Anehnya setiap kali Diana memanggil hujan, tak lama dia selalu datang dan segera menyapa. Memang terlihat ganjil, tapi ini benar adanya. Diana sering memanggilnya ketika dia merasa sedih karena menurutnya hujan adalah teman baginya.

    Sore itu gerimis. Diana melihat dari balik tirai jendela kamarnya.

    "gedebuk...gedebuk...gedebuk"suara deru kaki Diana menyusuri anak tangga, membuat mamanya kaget.

    "Diana pelan-pelan gan usah lari-lari ntar jatuh," timpal mamanya yang melihat Diana turun tergesa-gesa.

    "Iya Ma. Diana cuma mau bermain di luar, dia sudah menungguku," jawab Diana dengan lugu.

    "Diana, sudah berapa kali mama bilang, jangan sering bermain hujan ntar kamu sakit," tukas  mamanya.

    "Ma, hanya bermain bersamanya Diana merasa tenang, dia selalu paham akan perasaan Diana, dia mampu menyembuhkan rindu yang terus bergejolak ini, Ma," sahut Diana dengan menunduk.

    Diana melangkahkan kaki meninggalkan mamanya yang sudah tak bisa merayu agar Diana tetap berada di dalam rumah. Kalau sudah berkaitan dengan rindu mamanya sudah tak mampu untuk menahannya pastilah berhubungan dengan laki-laki pertama yang dia cintai selama ini.

    Di bawah buliran air hujan yang terus menghantam pipinya, dan mulai membasahi tubuhnya, Diana mulai berkeluh kesah terkait perasannya saat ini.

    "Hujan, hari ini aku sangat kecewa. Yah, tentu saja kau sudah tau pastinya masih dengan seseorang yang sama. Dia berbohong padaku, dia lupa akan janjinya, bahkan dia lupa akan hari istimewaku. Hujan, hari ini aku berulang tahun dan kau tahu, sekadar ucapan pun tak sampai padaku. Dia hanya menyibukkan diri dengan tumpukan kertas tak bernyawa," runtuh Diana sambil melompat-lompat dan membiarkan buliran air menghantam.

    Mamanya hanya menengok dari jendela, dia begitu tak tega melihat putrinya selalu menahan rindu dengan laki-laki yang dicintainya.

    Krek... Suara pintu terbuka dan Diana masuk ke dalam rumah.

    "Langsung mandi nak, sudah mama siapin air angetnya," kata mama Diana.

    "Iya Ma, makasih ya," sahut Diana.

    Setelah mandi Diana menghampiri mamanya yang sedang duduk di ruang tamu.

    "Diana, kita telpon papah yuk, siapa tahu papa lagi gak sibuk," tanya mamanya.

    Diana hanya merespon dengan anggukan, dia tahu pasti laki-laki pertama yang dia cintai itu sedang sibuk dengan tumpukan kertas kalau tidak sedang asik memijat-mijat tombol keyboard. Namun, tidak untuk sore itu.

    "Halo Diana, anakku selamat ulang tahun nak. Maafkan papa ya nak, papa gak nepatin janji. Sekali lagi papa minta maaf ya nak," kata papanya lewat sambungan telpon.

    Diana hanya diam.

    "Nak, papa punya kabar gembira lo. Kamu bener gak mau tahu?" tanya papanya.

    Diana masih tetap terdiam tak menggubris suara laki-laki yang begitu dia rindukan.

    "Yaudah deh papa bilang sama mama aja. Mah, Minggu depan papa dapat cuti Mah jadi lusa papah pulang," kata papanya dengan nada gembira.

    Dengan tanpa basa basi Diana langsung girang mendengar perkataan papanya.

    "Sungguh, ini sulit untuk dipercaya. Papa gak bohongin Diana kan? Papa bakal pulang lusa kan pa? Pokonya Diana tunggu di rumah," sahut Diana

    "Iya nak, iya. Papa janji," jawab papa Diana.

    ***

    Hari yang ditunggu pun tiba. Di mana hari ini laki yang paling Diana cintai akan pulang. Namun, setalh sekian lama menunggu, membuat Diana gelisah karena papanya belum samaoi di rumah.

    "Ma, coba telpon papa jadi pulang enggak kenapa sampai sekarang belum sampai," minta Diana dengan muka masamnya.

    "Iya nak bentar, mungkin papa sedang di pesawat," jawab mamanya untuk menenangkan.

    "Iya, Mah halo!" jawab seorang laki-laki dibalik sambungan telepon.

    "Ini Pah, anaka semata wayangmu ini rewel, kenapa papa belum sampai rumah?" tanya mama Diana dengan nada jailnya.

    "Maaf Diana, papa kena macet nak ini sedang di dalam taksi. Sebentar lagi papa sampai rumah kok," kata papanya.

    Setelah berbincang dengan papanya lewat telepon. Tiba-tiba hujan lebat turun.

    Di perjalanan papa Diana merasa sangat terburu-buru, dia tidak mau mengecewakan Diana. Bahkan dia meminta supir taksi untuk berjalan semaksimal mungkin untuk segera sampai di rumah. Karena hujan turun begitu deras penglihatan supir taksi terganggu, dia tidak bisa menghindari ada truk yang melintas di depannya.

    "Ciiiiiiiiiiiiiiiit........gedibrak," suara dentuman yang begitu keras bergumang.

    ***

    Di rumah Diana sednag duduk di sofa menunggu papanya pulang.

    "Prokkkk," foto keluarga yang dipasang di dinding jatuh, membuat Diana terkejut.

    "Eh, kok jatuh," kata Diana lirih.

    Mama Diana keluar dari kamarnnya sambil menangis.

    " Mah, kenapa mah?" tanya Diana dengan cemas.

    "Sudah cepat kita ke rumah sakit sekarang," jawab mamanya dengan isakan tangis.

    Diana hanya diam dan menuruti permintaan mamanya. Namun, sebenarnya dia bingung kenapa harus ke rumah sakit saat hujan seperti ini.

    "Mah, mama sakit?" tanya Diana terheran-heran.

    Mam Diana terdiam dan masih terbelenggu dengan isakan tangisnya.

    Sampai di rumah sakit Diana membuntuti mamanya, yang bisa dikatakan tergesa-gesa. Di belakang Diana masih tak paham apa yang sebenarnya terjadi. Yang membuatnya semakin penasaran dan membuat hatinya bergejolak msmnya berlari ke kamar jenazah, Diana semakin bingung dan takut. Kakinya mulai gemetar, badannya mulai rontok, dan dia semakin takut dengan semua lintasan yang ada di pikirannya.

    Langkah demi langkah mama Diana berhenti di satu titik dan menangis. Di sampingnya Diana semakin bingung, takut, dan entah harus apa. Dia memutuskan membuka kain penutup yang ada di depan matanya. Ketika mulai terbuka kain yang menutupi orang terbujur kaku, perasan hancur menerobos ruas-ruas di tubuh Diana. Dia mengenali orang itu.

    "Tidak, tidak, itu tidak mungkin," kata Diana berteriak.

    Berkali-kali dia mengusap wajah seseorang orang yang sudah terbujur kaku. Yah, benar itu papanya. Orang yang satu jam lalu bertelepon dengannya mengabari akan segera sampai rumah, orang yang selalu membuatnya rindu dan menunggu, tapi sekarang dia terbujur kaku.

    "Papaaaaa," teriak Diana dengan isakan tangis.

    ***

    Sejak saat itu, Diana yang begitu menyukai kehadiran hujan, Diana yang selalu bermain dengan hujan seketika mendadak benci dengannya, karena ketika hujan sumber kebahagiaannya hilang. 

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Regina Eka Meylani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.