Dibalik Cinta Dan Kematian Hanyalah Rindu - Fiksi - www.indonesiana.id
x

ilustr: ArtPics

Mega Mahliani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 November 2021

Minggu, 21 November 2021 08:31 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Dibalik Cinta Dan Kematian Hanyalah Rindu

    Sebuah cerpen yang di dedikasihkan untuk seseorang yang kami rindukan.

    Dibaca : 409 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Rindu. 
    Kata itu tak cukup untuk menggambarkan kegundahan yang kurasakan. Saat sebuah foto terpampang pada layar snap chat seseorang. Tidak. Dia bukan orang lain. Melainkan salah satu belahan jiwa dari malaikat yang telah pergi meninggalkan kita. Ya, kita. 
    Hanya emotikon sedih yang dapat kuketik dalam layar handphoneku, untuk membalas snap chat tersebut. Foto yang mengiris hati. 
    Seorang buah hati. Anak balita dua tahun. Duduk diatas pembaringan terakhir dari seorang yang dulu merangkulnya, menggendongnya, meninabobokannya, bahkan rela bermandikan air seninya.
    Tapi tidak.
    Bukan hanya balita itu saja yang telah membasahi tubuh yang mulia itu dengan air seni yang masih suci. Bahkan aku. Dan ibu dari bocah dua tahun itu. Serta dua orang anak laki-laki yang tengah beranjak dewasa. 
    Air mata ini tak berhenti menetes. Tatkala mengingat tangan lembut kurusnya, yang menggendong tubuh rapuhku. Senyum manisnya yang menenangkanku kala aku manangis dengan tantrum. 
    Dalam foto. Bocah perempuan itu mencium mesra nisan bernamakan beliau. Bahkan terlihat begitu khusuk. Seolah tengah bercengkrama dengan pemilik nisan itu. Bocah dua tahun. Bocah yang masih sangat suci. 
    "Tadi siang. Waktu aku mau membersihkan makam mama. Neng, tiba-tiba naik keatas pusaran. Dan menatapnya lama dengan diam."
    Chat yang datang, akan balasan dari emot sedihku tadi. 
    "Aku menyuruhnya turun. Tapi dia gak mau. Malah tanganku dipukulnya saat aku mau menggendongnya. Dan tiba-tiba saja, dia bersujud diatas nisannya. Dan lalu menciumnya."
    Chatnya lagi tanpa menunggu balasan dariku. 
    "Aku tersentak. Air mataku jatuh dengan tiba-tiba. Ternyata Neng masih merindukannya."
    Sumpah.
    Aku tak bisa menggerakan jempolku lagi untuk membalas chat itu. Rasa sesak memenuhi dadaku. Hantaman menghujam jantungku. Dan hampir tak dapat kurasakan denyutnya lagi. Hanya lubang besar yang terasa menganga dalam ruang hatiku. 
    'Sungguh. Bukan hanya dia yang merindukannya. Aku pun begitu menginginkan pelukannya kembali. Ingin mendengar merdunya suara dari tawaannya. Dan melihat kembali wajah yang riang bersinar dari muka polosnya,' batinku bergemuruh sendiri. 
    "Teh, kamu masih disana?"
    Chat yang masuk membuatku kembali tersadar. 
    "Kamu, online. Tapi kok gak balas chatku?" tulisnya lagi. 
    Entah, entah apa yang harus kutulis. Rasanya jari ini kehilangan kekuatannya. 
    Tiba-tiba handphoneku berdering dengan sebuah panggilan. Ternyata dia tak sabar ingin berkeluh-kesah padaku. Aku menekan tombol merah. Menolak panggilannya. 
    "Kok ditolak?" Tulisnya lagi dengan cepat saat kumatikan panggilan darinya. 
    "Maaf, Teteh gak bisa ngomong." Balasku lewat chat. 
    "Teteh nangis?"
    "Enggak."
    "Bener ya. Teteh nggak boleh nangis. Ingat kata paman. Kita boleh sedih. Kita boleh nangis. Tapi jangan sampai air mata kita menetes pada tubuh almarhumah. Karena itu akan memberatkannya."
    Benar. Saat itu. Aku tak kuasa menahan tangisku. Bahkan, kabar yang mengejutkan membuatku mati rasa. 
    "Teh, sabar ya. Kuatkan diri. Tolong kamu kesini sekarang. Sama suami kamu, anak kamu juga. Kalau bisa secepetnya."
    Seorang bibi menelponku dengan tiba-tiba pada pukul delapan malam.
    "Ada apa, bi? Ko kayak yang gawat gitu?" jawabku saat itu dengan kening yang melipat. 
    "Mama, pergi Teh. Mama meninggal."
    Diam. Aku terdiam sejenak, "Mama apa? Mama siapa?"
    "Mama," jawabnya lagi menegaskan. 
    Syok. Tak mampu berucap lagi. Bahkan tanganku kehilangan kekuatan genggamannya. Handphoneku terjatuh, dan mati. 
    Aku pun tersunggur. Air mata tak terbendung. Aku menangis sejadi-jadinya.
    "Sudah, jangan menangis. Kita pergi sekarang." Rupanya suamiku pun telah mengetahui kabar itu. Dengan cepat dia mengeluarkan sepada motornya, mendandani anak kami dengan jaket tebal dan menutup kepalanya dengan kerudung. Lalu suamiku lekas melajukan motornya dengan kami bertiga diatas motor itu, menerobos dinginnya malam. 
    Saat kami tiba di rumah duka. Semua orang tengah menggulung. Dibalut kesedihan. Serta hujan air mata. Dan aku..... 
    "Tuh 'kan, Teteh nangis ya? Hampir tiga puluh menit Teteh on tanpa mengetik sesuatu."
    Chat yang datang lagi, dengan bunyi yang cukup nyaring, membuatku terlepas dari lamunanku pada masa itu. 
    "Akh enggak ko, Dek." balasku. 
    "Bohong."
    Bagaimana mungkin aku tidak menangis mengenang almarhum? Terlebih beliaulah kasih pertamaku. 
    "Mama pasti di Surga, Teh." tulisnya lagi.
    "Pasti. Mama orang baik. Mama orang yang penuh akan keikhlasan. Mama orang yang paling dirindukan Alloh."
    Air mataku berlinang tatkala menulis pesan itu. 
    Ya, mama perempuan terhebat dan terikhlas di dunia yang pernah hidup denganku.
    Masa remajanya, beliau habiskan untuk membesarkanku. Benar, masa remaja. Aku yang tidak tahu sosok ibu, dan beliau yang memberiku pengetahuan akan arti seorang ibu. Dan beliau adalah adik dari ayahku. Beliau yang pertama kali menggendongku saat usiaku percis dengan usia cucunya saat beliau pergi. Itu kata orang-orang. Dan aku merepotkannya seumur hidupnya. Bahkan sampai beliau mendapatkan jodohnya dengan syarat harus mencintaiku, selayaknya dia mencitai beliau. 
    Banyak laki-laki yang datang padanya. Semasa gadis, dia perempuan yang begitu menarik dan lugu. Wajah ayunya begitu mempesona kaun adam. Bahkan tubuh yang tidak terlalu tinggi, dengan rambut hitam legam sebahu, dan pipi yang sedikit cabi. Membuat penampilannya sempurna bak boneka yang menggemaskan. Semua pria yang mendekatinya hampir tidak ada yang lolos dengan syarat yang beliau berikan. Dan hanya satu, yang kini menjadi sosok ayah pula bagiku.  Meskipun ayah kandungku masih tepat berada disisiku. 
    Tak banyak gambaran yang kuingat kala beliau merangkulku dan menimbangku saat aku masih bayi. Tapi ingatanku sangat jelas tentang beliau yang menjadi sosok ibu bagiku. Saat dimana aku mulai memiliki ingatan. Saat aku terkena penyakit Types. Saat aku dirawat di rumah sakit. Dengan selang influs yang menancap pada tangan kiriku. 
    Saat itu usiaku lima tahun. Aku dirawat di sebuah rumah sakit, dengan nenek, kakek, ayah, dan ibu yang menjadi istri ayahku, serta beliau. Ya, ibu. Perempuan itu memang ibuku. Tapi, dia bukan perempuan yang mengandung dan melahirkanku. Akh, aku merasa hebat. Karena aku mempunyai dua figur seorang ibu. Mereka bergantian menjagaku. Mengingat perkerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Entah berapa lama aku dirawat disana. 
    Namun, satu yang menjadi kisah yang begitu mengharukan akan beliau. 
    "Mama..., aku mau ke mama..." Tangisku pada saat itu, merengek meminta kehadiran seorang ibu. 
    Tak henti-hentinya aku merengek meminta kehadirannya. 
    "Iya, sabar. Nanti sore mama datang," kata ibu yang selalu ada di sampingku di waktu pagi sampai siang. 
    "Nggak mau...., aku maunya sekarang...."
    Tak pernah ada yang bisa menghentikan tangisku. Begitu pun dengan ibu. Aku terbiasa menangis dengan tantrum dan sejadi-jadinya. Bahkan, aku cenderung memberontak. Sampai ibu selalu memanggil suster untuk membetulkan influsanku yang selalu terlepas atau penuh akan darah. Karena aku yang selalu mengamuk. 
    "Iya, sabar ya."
    Sampai waktu tengah hari, kakeklah yang menggantikan ibu. Dan selalu datang pula nenek, disusul oleh ayah. Dan pada sorenyala, seorang yang paling kuharapakan baru datang. 
    "Mama.... " Teriakku saat kulihat kehadirannya dari balik pintu. 
    Rambut lurus sebahunya yang mulai lepek. Wajah pucat yang mengisyaratkan kelelahan. Serta kameja putih yang mulai kucel. Selalu penampakan itulah yang kudapatkan kala beliau menjengukku. Ya, beliau baru pulang selepas selesai kerjanya. Beliau bekerja sebagai buruh pabrik. 
    Beliau menghampiriku dengan senyuman. Menenteng kantong plastik berisikan makanan favoritku. 
    "Duh, anak Mama. Sini Mama gendong," ucapnya kala melihat aku kecil yang begitu bersemangat dengan kehadirannya. 
    Mama duduk diatas ranjang rawatku. Lalu mengangkatku pada pangkuannya. 
    "Lho, ini kenapa?" tanyanya saat melihat selang influsku bernodakan merah pada sisi selang. Serta sebuah kasa yang menempel, menutupi luka gores. 
    "Itu, dia berontak. Manggil-manggil kamu terus," jawab ayahku. 
    "Lho, ko sampai gini sih Kak?"
    "Ya dianya ngamuk. Nggak bisa ditenangin. Si ibu sampe kewalahan. Dari pagi dia gitu. Bahkan sampe influsnya copot pula. Tuh yang di tutup perban. Itu luka robek, akibat jarum influs yang copot karena ketarik."
    "Oh ya ampun, Kak. Masa kakak ipar nggak bisa tenangin sih."
    "Si ibu udah coba. Malah dia kena jambak. Suster yang bantuin aja sampe geleng-geleng kepala."
    Ya, begitulah suasana di sore hari. Selalu ramai, karena ada ayah, kakek, nenek dan mama. Tapi saat menjelang malam. Suasana mencengang selalu menghantuiku. Mama dan nenek harus pulang, begitu pun dengan ayah. Itu karena pekerjaan mereka di esok hari. Dan aku di temani oleh kakek. Karena kakek seorang petani. Jadwalnya lebih fleksibel. Dan di pagi harinya, ibu kembali hadir, untuk menggantikan kakek. Begitulah seterusnya. 
    "Nggak mau..., aku mau ikut sama mama...." rengekku lagi, saat waktunya bagi mama pulang. 
    "Sekarang belum bisa, kamu masih harus disini," kata mamaku. 
    "Nggak mau...." aku terus melanjutkan tangisku, dan berteriak sekencangnya. Sampai wajah mama yang telah begitu pucat, menunjukan kesabarannya. Beliau menggendongku. Dan terus mengayunku. Dengan lebut, dengan penuh kasih. Sampai aku tertidur pulas. Barulah beliau tega untuk meninggalkanku. 
    Waktu terus berlalu. Sampai dewasa ini. Kasihnya tak berubah. Teringat saat aku pertama kali berjalan dengannya dengan seorang laki-laki yang akan menjadi ayah keduaku. Sampai hari pernikahannya, yang telah kurusak dengan tangisku lagi. Ya, aku memang suka menangis. Bahkan perangaiku membuat semua orang jengkel. Tapi mungkin tidak dengan beliau. Beliau masih sabar, menggendongku, walau pakaian pengantinnya basah kuyup karena air mataku. Tapi bandelku saat itu, karena satu alasan. Aku tidak mau mamaku ada yang merebut. Saking aku yang tak mau melepaskan beliau.  Dalam rumah tangga yang baru beliau bina, aku masih menjadi benalu. Tapi rupanya, baginya aku adalah anugrah.

    Beliau membawaku bersamanya, mengarungi rumah tangganya.
    Hingga mama mulai mengandung anak pertamanya. Dan itu memicu rasa cemburuku lagi. Perangaiku kembali memburuk. Tapi, seiring waktu. Aku mulai bersahabat dengan anak pertamanya . Yang juga seorang perempuan. Hebatnya, beliau tidak pernah menyingkirkan aku dalam belaian kasih sayangnya. Sampai aku yang beranjak dewasa, dan mama yang telah melahirkan tiga orang anak. Dua diantaranya laki-laki. Tidak sedikit pun menyingkirkan aku dalam hidupnya. 
    Saat ini, aku kehilangannya. Dan entah kenapa, rasanya aku yang telah disingkirkan oleh waktu. Ada rasa penyesalan yang begitu dahsyat dalam jiwaku. Tatkala beliau pergi. 
    Dikehamilannya yang terakhir, beliau terkena penyakit. Sebuah benjolan mendarat di dadanya. Beliau tidak mau melakukan pengangkatan pada benjolannya. Beliau lebih memilih mengkomsumsi obat penghancur. Namun, seiring waktu. Dengan adanya benjolan itu. Tubuh beliau pun semakin melemah. Terlebih, beliau memang memiliki penyakit asma. Kesehatannya semakin terganggu. Tubuhnya semakin mengurus. Dan rambutnya semakin menipis. Serta gigi yang mulai tanggal satu persatu. Beliau terlihat lebih tua dari usianya. 
    Tiga tahun aku meninggalkan beliau. Masa SMAku, kuselesaikan bersama orang tuaku. Dan aku kembali lagi padanya, saat aku tengah mencari pekerjaan. Dan mendapatkanya. Disana aku tidak tinggal bersama beliau. Melainkan di rumah nenek dan kakek yang juga ikut membesarkanku. Maklum, aku cucu pertama dari keluarga besarku. Selama itu, waktuku bersama mama tidak sesering dulu. Karena kesibukanku bekerja di sebuah pabrik. Dan duniaku yang mulai berubah. Tak sedekat dulu.
    Hingga saatnya aku menikah. Aku kembali kepada orang tuaku. Dan melakukan resepsi disana. Tentu beliau hadir dengan restunya.
    Hingga duniaku teralihkan. Aku yang mengarungi biduk rumah tanggaku. Membuatku semakin renggang terhadapnya. Berkomunikasi pun hanya sesekali. Sampai kabar itu datang. Dan hancur. Hancur. Hancur berkeping-keping. 
    Dunia kecilku ada bersamanya. Tapi, aku sangat tidak melibatkan beliau di dunia dewasaku. Itulah, itulah penyebab betapa aku menderita telah ditinggalkan beliau. Penyesalan yang tiada henti menyelubungi perasaanku. Rasa tidak mampu membalas apa-apa menjadi beban dalam batinku. 
    "Ma, maafkan aku yang sedikit melupakanmu. Maafkan aku yang tidak bisa merawatmu kala engkau sakit. Maafkan aku yang menggores luka dengan renggangnya waktu. Maafkan aku, ma. Maafkan aku."
    Merintih pun rasanya percuma. Mengulang waktu tidak bisa kulakuan. Hanya pintaku pada-Mu Ya Rob. 
    Dalam renunganku yang berbalut air mata dan penyesalan. Handphoneku kembali berdering nyaring. Jantungku berdetak kuat, seiring suara nyaring itu mengagetkanku. 
    Sebuah panggilan. Aku pun mengangkatnya. 
    "Perasaanku nggak nyaman." Suara dibalik telpon itu berbicara tanpa salam. 
    "Apaan?" jawabku dengan menahan suara parauku. 
    "Tuh 'kan bener, Teteh nangis." Tebakannya memang selalu tepat. 
    "Adikku yang satu ini. Tahu aja." Sedikit terhibur, dengan pekanya sang adik. 
    Ya, dia mamang adik tercantikku. Rasa persaudaraan kami begitu erat. Berkat mama. 
    "Teteh tuh nggak boleh sering sedih-sedihnya. Nanti mama marah sama aku."
    "Lho, ko marah sama kamu?"
    "Ya, karena Teteh manja. Teteh suka banget ngerengek sama mama, dan itu selalu membuat mama kesal dan balik memarahiku," ketusnya.
    Aku tertawa geli, "akh kamu, ada-ada aja."
    "Emang bener, ko."
    "Iya, iya."
    Hatiku kembali mengenang kebersamaan kami di masa lampau. Memang, mama tidak pernah memarahiku. Kalau pun beliau merasa kesal atau jengkel. Marahnya selalu pada adik kecilku itu. Dan itu, selalu menjadi pemicu kecemburuannya. 
    Beberapa waktu terdiam. Hening. Tak terasa air mata kembali menetes. Helaan napas yang cukup keras untuk menyeka tangisan, terdengar jelas di balik telpon yang masih terhubung. 
    "Lah, Teteh masih nangis?" tanyanya dengan cepat. 
    "Emh, enggak." bantahku. 
    "Mama, seorang yang hebat, Teh. Teteh pasti jauh lebih tahu itu. Teteh anak pertamanya. Teteh anugrah pertamanya, jauh sebelum aku. Mama enggak akan susah disana. Mama pasti sangat bahagia. Malah mama pasti di Surga. Di tengah-tengah taman yang luas, berhias bunga-bunga indah, dengan kupu-kupu cantik."
    Benar. Mama, sangat menyukai bunga. Bahkan sebelum akhir hayatnya, beliau sedang suka-sukanya merawat bunga-bunga cantik di pelataran rumah. Bahkan aku membawanya satu untuk kujaga.   Sebagai pengingat. Betapa cantiknya hati beliau. Menjagaku dengan ikhlas, memberi kasih sayangnya tanpa pamrih. Bahkan untuk aku yang tidak terlahir dari rahimnya. Begitu hebatnya beliau sebagai perempuan. Tiada perempuan yang seikhlas, sesuci dan semurni beliau. Yang telah suka rela memberikan sepenuh hati dan cintanya. 
    **** 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Aurelia Pratama

    10 jam lalu

    Kannivaloi

    Dibaca : 31 kali