Jurus Ampuh Pembelajaran di Era Pandemi - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Juni Hidayati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Rabu, 24 November 2021 20:49 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Jurus Ampuh Pembelajaran di Era Pandemi


    Dibaca : 50 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Penilaian dan evaluasi pada pembelajaran di era pandemic sangat menyusahkan guru.  Guru dituntut dapat memberikan nilai yang objektif.   Penilaian yang dilakukan guru meliputi tiga aspek, antara lain:  aspek pengetahuan, aspek ketrampilan, dan aspek sikap dan perilaku.  Pada saat kegiatan pembelajaran aplikasi yang kami gunakan adalah google class room.  Aplikasi ini memudahkan kami untuk mengajar secara on line.  Permasalahan dimulai dari kemampuan siswa menggunakan aplikasi google class room.  Beberapa siswa kesulitan untuk menggunggah dan mengirim tugas.  Beberapa siswa beralasan tidak punya kuota untuk mengirimkan hasil tugasnya.
    Sebagai guru saya tidak kehabisan ide untuk menagih dan membuat para siswa semangat belajar.  Pembelajaran tatap muka yang dilangsungkan oleh sekolah, saya manfaatkan untuk menagih tugas yang tidak mereka buat.  Perlu kesabaran ekstra menghadapi siswa-siswi yang berlatar belakang keluarga yang kurang peduli dengan Pendidikan.  Untuk menagih satu tugas diperlukan waktu yang cukup lama dan strategi pembelajaran yang bermacam-macam.  Salah satu cara untuk menumbuhkan motivasi belajar adalah dengan bekerja sama dengan wali kelas.  Siswa yang tidak aktif, saya minta wali kelasnya aktif untuk mengingatkan siswa tersebut.
    Siswa yang tidak punya hp dan tidak memiliki kuota internet kami minta datang ke sekolah untuk melakukan pembelajaran secara daring.  Beberapa siswa datang ke sekolah untuk melakukan pembelajaran secara daring karena terkendala hp dan kuota internet.  Kami ajari mereka untuk belajar yang baik, membaca dan memahami materi pelajaran.  Siswa sudah mau datang ke sekolah kami sudah senang.  Beberapa siswa kami memilih untuk tidak datang ke sekolah karena mereka sudah bekerja sebagai supir truk.  Penghasilan sebagai supir truk yang cukup menggiurkan membuat mereka enggan sekolah.  Bekerja sebagai supir truk membuat mereka dapat berkelana di seluruh penjuru Indonesia.  Mereka dapat berwisata, berpetualangan, sekaligus mendapatkan penghasilan.  Sementara jika mereka disuruh sekolah mereka mengaku pusing memikirkan pelajaran dan tidak dapat uang.  Sungguh suatu ironi yang menyayat hati.
    Pembelajaran tatap muka yang digelar merupakan suatu oase bagi kami yang mengajar di sekolah pinggiran.  Kami dapat bertemu dengan murid, dapat mengetahui mengapa mereka tidak aktif di kelas maya.  Ketika saya tanya, apakah lebih menyukai pembelajaran tatap muka atau pembalajaran jarak jauh?  Mereka sepakat kompak menjawab memilih pembelajaran tatap muka.  Pembelajaran tatap muka mereka dapat mendengarkan, melihat, dan memberikan tanggapan secara langsung.  Tugas yang tidak terselesaikan ketika pembelajaran tatap muka dapat dikirimkan di kelas maya.
    Salah satu jurus ampuh yang saya lakukan untuk mengajar siswa di dunia maya adalah dengan melakukan kegiatan secara life streaming.  Saya melakukan kegiatan pembelajaran di studio mini yang dimiliki sekolah favorit.  Sekolah favorit tersebut terletak di tengah kota kabupaten.  Sehingga saya harus menuju sekolah tersebut untuk melakukan kegiatan pembelajaran.  Hasilnya di luar ekspektasi saya, siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran sangat banyak.  Justru kebanyakan berasal dari siswa di luar sekolah saya.  Siswa di sekolah saya juga lumayan banyak yang mengikuti kegiatan pembelajaran secara life streaming.  



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.