Suku Kalang danan Tradisi Leluhur yang Masih Lestari - Travel - www.indonesiana.id
x

Dukun Contreng adalah sosok yang dituakan dan selalu diundang untuk memimpin acara adat suku Kalang, diantara fungsinya selain memimpin acara adat juga memberikan saran dan panduan mengenai berbagai persoalan warganya melalui jalur supranatural, dipercaya dukun contreng ini juga mampu berkomunikasi dengan roh leluhurnya

Aryo Widiyanto

Penulis Novel, Pemerhati Sejarah dan Pria Suka Kerja
Bergabung Sejak: 27 November 2021

Minggu, 28 November 2021 14:20 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Suku Kalang danan Tradisi Leluhur yang Masih Lestari

    Suku Kalang merupakan sebuah suku yang cukup terkenal di Kabupaten Kendal, dilihat dari sejarah sebagaimana tercatat dalam buku “Tumenggung Bahureksa Panglima PerangMataram ” karya dr Mirna Annisa dan KRT Hamaminata Nitinagoro menyebutkan bahwa masyarakat Kalang adalah pendatang dari India yang datang menyertai para saaudagar-saudagar India sebagai prajurit pengawal dan pembawa barang dagangan, ini diyakini karena suku kalang mempunyai tenaga aneh dan sejumlah kemampuan luar biasa, catatan lain menerangkan suku kalang adalah keturunan etnis India Pra-Davidia atau Porto Melayu yang bisa hidup di hutan secara berpindah-pindah.

    Dibaca : 697 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Suku Kalang  Dan Tradisi Leluhur Yang Masih Lestari.

     

                    Kabupaten Kendal Jawa Tengah ternyata memiliki aneka ragam suku dan etnis  yang  mendiami wilayah ini, di Cepiring ada sejumlah keluarga  keturunan Belanda, di Pegandon terkenal karena keturunan Arab dan Persia, sementara Weleri merupakan pusat perdagangan sehingga keturunan Tionghoa banyak tinggal  di sana, mereka semua hidup berdampingan rukun dan harmonis bersama penduduk  yang mayoritas orang  Jawa.

                    Selain etnis dan suku tersebut diatas, Suku Kalang merupakan sebuah suku yang cukup terkenal di Kabupaten Kendal,  dilihat dari sejarah sebagaimana tercatat dalam buku “Tumenggung Bahureksa Panglima  PerangMataram ” karya dr Mirna Annisa dan KRT Hamaminata Nitinagoro menyebutkan bahwa masyarakat Kalang adalah pendatang dari  India yang datang menyertai para saaudagar-saudagar  India  sebagai prajurit pengawal  dan  pembawa barang dagangan, ini diyakini karena suku kalang mempunyai tenaga aneh  dan sejumlah kemampuan luar biasa, catatan lain menerangkan suku kalang adalah keturunan  etnis India  Pra-Davidia  atau  Porto Melayu yang  bisa hidup di hutan secara berpindah-pindah.

                    Konon suku sudah berada di Nusantara sekian waktu  lalu di buktikan dengan Prasasti Harinjing (804 SM) menyebut  adanya : Tuha Kalang (Kepala Suku Kalang) dan  Prasasti  Panggumulan (904) menyebut : Pandhe Kalang (Pembuat Senjata Suku Kalang).

    Pada jaman Majapahit  orang Kalang banyak ditugaskan untuk membangun Candi-candi besar, menjadi pasukan khusus untuk penyerangan secara senyap dan melibatkan hal mistis, penyerbuan pasukan Majapahit ke Kalimantan atau Borneo diduga melibatkan suku kalang sepenuhnya untuk menghadapi pasukan Dayak yang terkenal tangguh dan  piawai dalam ilmu supranatural.

                    Keberhasilan dalam perang  Borneo itu membuat Mpu Nala sebagai salah satu panglima perang  Majapahit memberikan penghargaan dengan mengangkat  para kepala prajurit Kalang sebagai perwira-perwira khusus namun kemudian para perwira kalang itu memilih menjadi prajurit biasa.

                    Pada masa Mataram Islam dipimpin oleh Sultan Agung, masyarakat Kalang dibuatkan sebuah perkampungan besar berbentuk melingkar dengan penjagaan ketat, itulah asal muasal  nama “ Kalang”  yang  mempunyai arti Lingkaran dan “desa Kalangan” artinya desa yang “Dikalangi”atau di lingkari.  Di Kabupaten  Kendal, masyarakat Kalang semula banyak tinggal di daerah  Limbangan, namun dalam perkembangannya mereka menyebar hingga desa Poncorejo, Lomansari, Krompakan di Kecamatan Gemuh, desa Montongsari dan Terate Mulyo kecamatanWeleri, dan desa Sendang Dawuhan serta desa Wonotenggang kecamatan Rowosari, diperkirakan jumlah suku Kalang ini di Kendal  tahun  2004 mencapai 4000 jiwa   (Mirna - Hamaminata : 166)

                    Sementara Majalah Panjebar Semangat edisi  tanggal 8 Januari 2016 dalam artikelnya “ Ngungak Keangkerane Omah Kalang Kotagede” mengungkapkan data  sejarah bahwa suku Kalang sudah ada sejak jaman Sultan Agung sekitar tahun 1600, konon era itu mereka didatangkan  dari India dan Bali ke wilayah  Mataram sebagai tukang kayu , salah satu figur orang Kalang yang sukses luar biasa di Jogja hingga mempunyai puluhan rumah besar dan mewah di Kotagede saat itu adalah Ki Prawiro Suwarno dan istrinya, rumah-rumah besar itu dinamai “Pegadaian Jawa” Karena salah satu bisnis Ki Prawiro ini adalah menerima jasa gadai dan meminjamkan uang untuk masyarakat sekitar.

    Versi dari seorang pengamat sosial Kristanto Wido dari Kendal mengatakan di dalam suku Kalang  ada dua golongan yaitu “Kalang Obong” orang Kalang yang  menganut system garis keturunan dari  garis laki-laki/Patrilineal, sedangkan “Kalang Kamplong”  berdasarkan garis keturunan perempuan/Matrilineal, uniknya menurut Kristanto, batu nisan dari kedua golongan suku kalang ini jika diperhatikan akan nampak perbedaannya.

                    Jumat malam tanggal 22 Februari 2020, saya ditemani oleh salah seorang pemuda dari Suku Kalang  Desa Montong Sari Weleri bernama Sistia Edhy berkesempatan untuk melihat langsung acara adat mereka memperingati kerabat yang sudah meninggal, bertemulah kami dengan Mbah Suwariyah (56 tahun) seorang perempuan pemuka adat Kalang yang mempunyai tugas sebagai Dukun Contreng,  dukun contreng adalah sosok yang di tuakan dan selalu diundang untuk memimpin acara adat suku Kalang, diantara fungsi beliau selain memimpin acara adat juga memberikan saran dan panduan mengenai berbagai persoalan warganya melalui jalur supranatural, dipercaya dukun contreng ini juga mampu berkomunikasi dengan roh leluhurnya..

                    Menurut mbah Suwariyah  ada beberapa ritual suku Kalang masih lestari hingga kini, walaupun sifatnya masih tradisional namun tetap menjunjung tinggi kaidah kaidah Islam, “ Kami pegang teguh ajaran Islam, bahkan ada beberapa tetua kami yang sudah naik Haji” tutur beliau.

                    Saat berbincang di sela acara ritual adat malam itu kami mendapat sejumlah pengetahuan baru mengenai beberapa acara adat yang ada di Suku Kalang Montong  Sari Kendal  yaitu

    1. Sangon atau Sangonan

    “Sangon  atau Sangonan”  adalah acara adat kerukunan dimana saat ada orang Kalang meninggal maka seluruh kerabat memberikan  sumbangan untuk keluarga almarhum berupa bahan makanan, buah-buahan dan sebagainya sebagai wujud kerukunan, ritual adat Sangon ini diawali dengan upacara  dimana anak dari almarhum menggendong boneka yang melambangkan almarhum semasa hidup mengelilingi  ubarampe atau sesaji,  Sangon  ini biasanya dilaksanakan sebelum acara “Obong”.

    1. Obong

    Ritual “Obong”  hampir mirip dengan acara Ngaben di Bali, namun di suku Kalang yang dibakar adalah benda milik almarhum, acara Obong ini dibagi menjadi dua termin, termin pertama di masa Tujuh hari setelah meninggal  yang dibakar adalah baju-baju serta  pakaian milik Almarhum, sedangkan termin kedua di masa satu tahun setelah masa meninggal maka yang dibakar adalah Kasur/Tempat tidur almarhum, boneka merepresentasikan almarhum, replika rumah atau gubug, daging bebek bagian kepala, kaki, dan sayap, serta Sate Pentul.

    1. Tinggep Sayung

    Tinggep Sayung adalah upacara memasukkan orang luar yang menikah dengan orang asli Kalang sehingga nantinya sudah dianggap sebagai suku Kalang, dalam terminology suku itu ada dua kategori  pernikahan , pertama adalah “Blangkep” yaitu orang Kalang menikah dengan orang Kalang, dan “ Belahan” yaitu orang Kalang yang menikah dengan orang di luar suku tersebut.

    1. Ewuh

    “Ewuh” adalah acara selamatan  atau doa bersama  yang diadakan orang Kalang untuk memperingati anggota sukunya yang sudah meninggal, Ewuh dibagi menjadi beberapa bagian yaitu : 1. dalam jangka waktu Lima bulan harus ada dua kali selamatan . 2. Dalam jangka Tujuh bulan harus ada dua kali selamatan. 3. Dalam jangka satu Tahun harus ada empat kali selamatan. 

    Waktu  dan hari pelaksanaan acara Ewuh ini ditentukan atas dasar konsultasi dengan pemuka adat.

    Saat ini orang Kalang sudah relatif terbuka terhadap publikasi  media sosial dan media massa , berbagai acara adat mereka sudah ditayangkan beberapa stasiun televisi dan  youtube.

    Perlu di sadari bahwa keberadaan suku ini merupakan salah satu kekayaan adat istiadat di Kabupaten Kendal, kedepan semoga keberadaan suku  ini tetap lestari dan menjadi bagian dari warisan budaya di Jawa Tengah.  

    ^

    ( Ditulis oleh : Aryo Widiyanto, untuk kepentingan penulisan buku sejarah.  Silahkan di copy paste jika diperlukan namun mohon tetap sertakan nama sumber referensi sebagai bentuk penghargaan pada para penulis)

    *Foto milik pribadi Aryo Widiyanto dan Sistia Edhy Kalang.

                   

    Ikuti tulisan menarik Aryo Widiyanto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.