Kekalahan yang Tak Perlu Disesali, Secara Individu dan Tim Thailand Lebih Unggul - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Pesepak bola Timnas Indonesia Pratama Arhan (kedua kanan) berusaha masuk ke pertahanan lawan dengan dibayangi pesepak bola Timnas Singapura Zulqarnaen Suzliman (kedua kiri) dalam pertandingan Semi Final Leg 2 Piala AFF 2020 di National Stadium, Singapura, Sabtu 25 Desember 2021. ANTARA FOTO/Humas PSSI/Handout

Agus Buchori

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 November 2021

Kamis, 30 Desember 2021 17:37 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Kekalahan yang Tak Perlu Disesali, Secara Individu dan Tim Thailand Lebih Unggul

    Sejak  kick off menit pertama sudah nampak jelas,  permainan timnas Indonesia selalu dalam tekanan dan tak mampu mengembangkan permainan. Kemampuan pemain-pemain Thailand secara individu memang di atas rata-rata pemain kita.

    Dibaca : 3.105 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kekalahan Indonesia dari Thailand dalam laga leg pertama Piala AFF 2020 semalam dengan skor telak 0:4 sudah selayaknya diterima dan tak perlu disesali.
     
    Sejak  kick off menit pertama sudah nampak jelas,  permainan timnas Indonesia selalu dalam tekanan dan tak mampu mengembangkan permainan. Kemampuan pemain-pemain Thailand secara individu memang di atas rata-rata pemain kita.
     
    Penguasaan bola,  dribling, dan passing  yang sangat matang dan terukur lebih mereka miliki. Saat terjadi perebutan bola para pemain Thailand  selalu memenangkannya bahkan dalam kondisi terkepung mereka tetap tenang mengamankan bola. Inilah yang menjadi faktor pembeda Timnas Thailand dengan Timnas Indonesia.
     
    Ada beberapa pemain Thailand yang mempunyai skill di atas rata-rata, sebut saja Chanathip Songkrasin yang melesakkan dua gol di menit 2 dan menit 52 dan Supachok Sarachat yang melesakkan gol di menit 67. Kedua pemain ini seringkali hanya berdua mengobrak abrik pertahanan Asnawi dan kawan-kawan.
     
    Gol kedua Thailand adalah contoh konkret bagaimana mereka lebih menguasai keadaan. Berawal dari kegagalan serangan Indonesia di area pertahanan Thailand, mereka dengan cepat melakukan serangan balik hanya dengan dua orang penyerang yang melaju begitu cepat mampu membuat barisan pertahanan timnas Indonesia kocar-kacir.
     
    Meski timnas Indonesia juga sempat mempunyai beberapa peluang, salah satunya  melalui Dewangga yang tinggal berhadapan dengan penjaga gawang, namun bolanya malah melambung di atas mistar gawang.
     
    Saat menguasai bola pemain Indonesia seperti nampak bingung tak ada koordinasi. Bisa jadi kondisi ini karena Thailand menerapkan man to man marking pada pemain Indonesia yang dilakukannya begitu mereka kehilangan bola. Kondisi seperti ini di luar perkiraan mental pemain-pemain muda kita. Dan Thailand tahu cara ini mampu membuat mental lawan goyah.
     
    Kurangnya ketenangan beberapa pemain kita juga nampak terlihat di sektor tengah. Saat menguasai bola mereka kesulitan membangun aliran bola ke rekan-rekanya di lapangan. Bahkan operan yang dilakukan sering salah sasaran.
     
    Di babak kedua apa yang dilakukan Shin Tae-yong dengan memasukkan Evan Dimas dan Egi Maulana sepertinya juga tidak mengubah situasi di lapangan. Kedua pemain sering terlihat kurang tenang saat menguasai bola sehingga mudah direbut kembali oleh Chanathip dkk.
     
    Kalah di sektor kualitas individu  pemain, mungkin masih bisa ditutupi dengan kerja sama tim yang padu. Apa boleh buat pertandingan semalam memperlihatakan kerja sama tim Thailand lebih terkoordinasi dan bervariasi.
     
    Permainan dengan memanfaatkan lebar lapangan mampu diterapkan Thailand dengan apik dan terorganisasi dari dua bek sayap yang mereka miliki. Terutama manuver Philip Roller dari sektor kanan, berkali-kali Roller membuat Fachrudin harus jatuh bangun untuk menghentikannya.
     
    Thailand juga menerapkan umpan-umpan pendek dari kaki ke kaki yang begitu akurat dan rapi sehingga pemain kita seperti harus dipaksa terus berlari mengejarnya. Dan saat semua pemain kebingungan meredamnya tiba-tiba Roller naik dan kejadian seperti ini seringkali terjadi.
     
    Ini baru Leg pertama final Piala AFF 2020, tentunya di leg kedua sesuatu bisa saja terjadi karena kita selalu percaya ungkapan bola itu bundar dan selalu memberikan kejutan-kejutan kita lihat saja nanti pada tanggal 1 Januari 2021. Semoga barisan muda garuda bisa mengambil pelajaran dari pertandingan di leg pertama. Selamat Berjuang.
     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.