Personalisasi Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka, Memastikan Murid Mencapai Versi Terbaiknya - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Belajar di luar kelas yang menyenangkan

Haidar Bagir

Ketua Yayasan Lazuardi Hayati
Bergabung Sejak: 7 Desember 2021

Kamis, 24 Maret 2022 06:48 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Personalisasi Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka, Memastikan Murid Mencapai Versi Terbaiknya

    Disinyalir, selama ini murid belum menjadi fokus utama pendidik. Siswa sering terlupakan dalam proses transformasi pembelajaran. Jika murid belum menjadi fokus, dapat dipastikan kualitas pembelajaran tidak maksimal. Meski bukan hal yang baru, filosofi Kurikulum Merdeka berpihak pada murid. Ssalah satu strateginya adalah Teaching at The Right Level yang dikenal juga dengan pembelajaran berdiferensiasi atau personalisasi pembelajaran. Akankah kini berhasil?

    Dibaca : 1.844 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Haidar Bagir
    -Ketua Yayasan Lazuardi Hayati.
    -Penulis buku “Memulihkan Sekolah. Memulihkan Manusia”.

    Dalam sebuah pelatihan kepemimpinan kepala sekolah/madrasah, dimunculkan studi kasus. Diangkatlah kepala sekolah/madrasah yang baru. Situasi yang dihadapi, 1. Tidak semua guru merasa yakin dengan pengangkatan tersebut. 2. Kepala sekolah/madrasah merasa kurang percaya diri dengan kompetensi yang dimiliki. 3. Prestasi belajar murid rendah. 4. Teamwork di sekolah/madrasah tersebut belum kompak.  5. Sinergi dengan orang tua murid tidak berjalan.

    Dari 5 situasi tersebut, setiap peserta pelatihan diminta untuk memilih satu situasi yang dijadikan prioritas utama untuk ditangani. Hampir semua peserta memilih situasi 1 dan 4 yang terkait dengan teamwork dan tidak satu pun memilih nomor 3, yaitu prestasi belajar murid rendah.

    Inilah realita yang mungkin banyak terjadi di sekolah/madrasah, bahwa jangan-jangan murid belum menjadi fokus utama pendidik dan sering terlupakan dalam proses transformasi pembelajaran. Padahal, jika murid belum menjadi fokus, maka dapat dipastikan kualitas pembelajaran tidak maksimal. Sejak lama, istilah ‘berpihak pada murid’, ‘berpusat pada murid’, dan ‘student centered’ merupakan istilah yang jamak terdengar di ruang kelas dan ruang pelatihan.

    Pada saat awal peluncuran Kurikulum Merdeka Belajar, terkait dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang lebih sederhana, juga ditekankan pentingnya RPP yang 1. Efisien, sehingga tidak menghabiskan waktu dan tenaga.  2. Efektif, mengacu pada pencapaian tujuan pembelajaran, serta 3. Berorientasi pada murid, yaitu mempertimbangkan kesiapan, ketertarikan, dan kebutuhan siswa.

    Sebaliknya, jika kepemimpinan sekolah dan kepemimpinan pembelajaran difokuskan pada murid, dapat dipastikan akan menjadi energi untuk menarik perbaikan kualitas pada aspek-aspek yang lain. Semisal strategi pembelajaran, perbaikan materi, asesmen, pengembangan sumber daya manusia, manajerial satuan pendidikan, dan lain-lain.

    Meski bukan hal yang baru, filosofi Kurikulum Merdeka  yang berpihak pada murid salah satu strateginya adalah Teaching at The Right Level (TaRL) yang dikenal juga dengan pembelajaran berdiferensiasi atau personalisasi pembelajaran. Mengapa demikian? Karena dalam penerapan Kurikulum Merdeka, personalisasi pembelajaran tidak hanya konsep di atas kertas. Namun juga diberikan dukungan pelatihan, pendampingan, dan contoh-contoh praktik yang dapat menjadi inspirasi.

    Sebetulnya, sejak ditemukannya paradigma Multiple Intelligences 40-an tahun lalu, model semacam TaRL ini sudah harus diterapkan. Tapi, dulu strategi semacam ini cuma dicoba diupayakan lewat pemberian pengalaman belajar yang beragam, sedang materinya tetap seragam. Padahal, seharusnya kita sudah harus percaya bahwa profil lulusan juga tak mesti seragam.

    Dulu sudah ada active learning juga. Tapi active learning diupayakan masih dalam rangka memahami materi yang kurang lebih sama. Baru dengan Kulikulum Merdeka inilah active learning sejati bisa diterapkan. Bukan saja kurikulum mengambil bentuk semacam core curriculum minimalis, materi pun bisa beda antarmurid, cara belajar juga, bahkan profil lulusan juga bisa beda. Otomatis cara asesmen juga harus beragam.

    Yang lebih diperlukan oleh guru mungkin bukan penguasaan semua materi, tapi kemampuan manajemen kelas, kemampuan mengidentifikasi intelligence siswa (dan kebutuhan – kebutuhan khas lain siswa), serta kemampuan memotivasi dan memfasilitasi pembelajaran, senyampang siswa lebih diberi kemerdekaan dan didorong untuk berinisiatif belajar sendiri.

    Ilustrasi yang tepat untuk menggambarkan personalisasi pembelajaran adalah proses yang dijalani oleh seorang dokter dalam menangani pasien. Dokter akan melakukan diagnosis dengan melakukan wawancara, pengamatan, pemanfaatan medical record dan data lain yang komprehensif sehingga diketahui kebutuhan pasien dengan tepat untuk diberikan resep dan tindak lanjut yang sesuai dengan kebutuhan spesifik si pasien orang per orang.

    Pun demikian seharusnya dalam memfasilitasi pembelajaran bagi para murid. Mereka memiliki kebutuhan yang berbeda, termasuk dalam hal kesiapan belajar, bakat, minat, profil belajar, juga latar belakang pribadi (keluarga). Dengan beragam instrumen asesmen diagnostik, para guru dapat memetakan kebutuhan murid untuk selanjutnya dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang, melaksanakan, dan melakukan asesmen pembelajaran. Inilah inti dari personalisasi pembelajaran.

    Lalu bagaimana memastikan guru mampu melakukan personalisasi pembelajaran dengan efektif?. Pertama, personalisasi pembelajaran tidak boleh hanya dimaknai sebatas strategi, namun juga harus dilihat sebagai upaya membangun mindset bahwa setiap murid itu unik dan memiliki kebutuhan yang berbeda. Dengan demikian sudah tidak lagi berlaku prinsip ‘satu untuk semua’ - satu desain pembelajaran berlaku untuk semua murid.

    Kedua, guru memiliki keterampilan dalam melakukan asesmen diagnostik untuk memetakan kebutuhan peserta didik. Sesederhana apa pun instrumen yang digunakan, pasti akan sangat bermanfaat. Ketiga, guru mampu menerapkan berbagai model dalam melakukan personalisasi pembelajaran, di antaranya penyesuaian lingkup materi pembelajaran, penyesuaian proses pembelajaran, penyesuaian produk, penugasan, proyek dan penyesuaian lingkungan pembelajaran.

    Keempat, yang tidak kalah penting adalah melakukan asesmen yang berkelanjutan. Penekanan fungsi asesmen formatif yang digunakan sebagai pemberian umpan balik yang berkelanjutan, semestinya menjadi fokus utama dibanding asesmen sumatif yang sekadar menentukan nilai kuantitatif.

    TaRL juga memerlukan suatu cara mengelompokkan murid berdasar kesamaankesamaan kebutuhan spesifik pembelajaran murid, yang disebutkan sebelumnya. Nah, salah satu jebakan personalisasi pembelajaran, yang harus dihindari adalah dikotomi secara berlebihan antara murid yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata, kemampuan rata-rata, dan di atas rata-rata pada lingkup materi tertentu.

    Strategi yang sering digunakan guru untuk memudahkan personalisasi pembelajaran adalah pengelompokan siswa berdasarkan tingkat kemampuan tersebut. Namun, perlu kehati-hatian agar tidak kemudian muncul ekses berupa labeling baru, antara murid pandai dan belum pandai. Maka, perlu fleksibilitas dalam pengelompokan murid agar kelas menjadi ekosistem pembelajaran yang saling menguatkan, bukan saling bersaing, apalagi merendahkan.

    Peningkatan kompetensi guru menjadi hal penting untuk keberhasilan personalisasi pembelajaran. Guru dapat mengkaji dan berlatih berbagai teori/strategi/pendekatan yang mendukung personalisasi pembelajaran. Misalnya, penerapan pendekatan multiple intelligences (kecerdasan majemuk)  - Howard Gardner, Project Based Learning, STEAM, Design Thinking, dan pola pikir bertumbuh (Growth Mindset)- yang dapat digunakan untuk membantu para murid membangun keyakinan dan komitmen, bahwa usaha yang dibarengi dengan ketekunan akan mempengaruhi pencapaian tujuan.

    Sebelumnya, praktik baik dalam personalisasi pembelajaran hanya diberlakukan pada pendidikan khusus atau sekolah inklusi, yaitu diterapkannya IEP (Individualized Educational Program) untuk memastikan setiap murid memiliki ‘peta jalan belajar’ yang sesuai dengan kebutuhan. Saat ini, pada jalur pendidikan umum hal itu pun disadari sebagai sebuah keniscayaan.

    Harapannya, para murid akan berada pada ‘rel’ yang benar untuk sampai capaian pembelajaran yang ditetapkan dengan cara yang menyenangkan dan sesuai kebutuhan. Jika demikian, tinggal menunggu waktu saja kita akan menyaksikan murid-murid di Indonesia dapat menemukan versi terbaiknya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.