Buruk Muka Cermin Dibelah - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Marah

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 18 April 2022 07:03 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Buruk Muka Cermin Dibelah

    Jika Anda dikoreksi orang lalu tersinggung, maka Anda memiliki masalah ego. Ini bisa menjadi kendala. Sebaiknya kendala ini diatasi sebelum menjadi semangkin berat.

    Dibaca : 985 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku.

     

    Pernahkah Anda memberi masukan atau mengoreksi seseorang lalu mendapat reaksi negatif?  Mungkin orang tersebut lalu bersikap defensif atau membela diri.  Dia ngeyel tidak mau mengakui kesalahannya.  Lebih parah lagi kalau orang tersebut malah marah.  Kalau lain kali Anda ulangi tindakan itu maka dia bisa membenci Anda.  Dia bisa menjauh bahkan mungkin tidak mau kenal lagi.

     

    Tepat sekali peribahasa di atas.  Buruk muka cermin dibelah.  Tentu para bijak bestari yang menciptakan peribahasa itu menyampaikan kiasan dari sikap negatif tadi.  Ibaratnya Anda sekedar menyodorkan sebuah cermin lalu  orang yang melihat wajah buruknya marah lalu membanting cermin sampai pecah.  Kenapa bisa begitu?

     

    Itu karena egonya terlalu besar.  Sejatinya semua orang memiliki ego, tapi ada yang sedang dan ada yang terlalu kuat sehingga sulit dikendalikan.  Nouman Khan memiliki sebuah quote yang relevan. If someone corrects you and you feel offended, then you have an ego problem.  Jika seseorang mengoreksimu dan kamu tersinggung, maka kamu punya masalah ego.  Orang yang seperti ini sejatinya orang kerdil meskipun bisa saja dia orang yang dianggap sukses.  Dia kerdil karena kalah dengan egonya.  Dia tidak mampu menguasai egonya. Dia dikuasai oleh egonya. Ego ini yang membuat pandangan mata nalarnya tidak bening. Dia  memandang koreksi sebagai serangan kepada pribadinya.  Dia merasa direndahkan.  Sedangkan sejatinya koreksi adalah masukan sangat berharga.  Koreksi adalah sumbangan ilmu gratis.  Maka semestinya orang yang dikoreksi berterimakasih kepada pengoreksinya.

     

    Almarhum Ki Narto Sabdo, seorang dalang kondang dari Semarang punya pendapat bagus yang relevan.  Dia katakan bahwa kritik dan saran akan dia taruh di ‘bokor kencono’ (pinggan emas) sedangkan pujian akan dia buang.  Inilah sebuah sikap yang unggul. Beliau sudah mampu menguasai egonya.  Maka dia tidak tersinggung dengan kritik dan saran.  Tidak heran dia menjadi dalang berprestasi.  Dia adalah salah satu dalang terbaik di Indonesia. Namanya harum sampai sekarang.

     

    Mari kita tiru sikap Ki Narto Sabdo.  Terima kritik dan saran dengan lapang dada, dengan senang hati.  Karena sejatinya itu masukan berharga.  Masukan itu justru akan meninggikan kita, bukan merendahkan.  Masukan itu memperbaiki kita.

     

    Pertanyaan berikutnya, bagaimana mengatasi masalah ego?   Puasa ramadan ini memberi kita kesempatan melatih diri dengan menguasai emosi.  Kalau dilakukan dengan baik mestinya kita bisa mentransformasikan diri menjadi muttaqin.  Saya yakin muttaqin mampu mengatasi ego.  Jika belum mampu mengatasi ego ya Anda belum jadi muttaqin.  Bagaimana di luar ramadan?  Masih ada banyak puasa sunah.

     

    Selain itu kita bisa juga mengubah fokus pikiran kita dengan afirmasi. Katakan pada diri Anda bahwa kritik adalah masukan berharga. Kritik tidak merendahkan Anda. Kritik tidak menyerang anda. Kritik akan meningkatkan ilmu dan ketrampilan Anda.  Usahakan afirmasi dengan rutin setiap hari. Jika ini dilakukan secara baik dan kontinyu mestinya akan ada perbaikan sikap Anda.

     

    Semoga kita mampu menguasai ego agar punya sikap mental yang baik. Sesungguhnya sikap mental lebih penting daripada ketrampilan teknis.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.