Tentang Ibu - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Penampilan perempuan kerap kali mendatangkan setan seksis

Sawiji Nur

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 April 2022

Senin, 25 April 2022 17:21 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Tentang Ibu

    Apakah ibu yang selama ini aku tahu hanya sebuah ilusi semata?

    Dibaca : 655 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mungkin aku tidak terlalu mengenal ibuku, meski aku tahu betul dia sedarah denganku. Sebenarnya hubunganku dengan ibu baik-baik saja hingga aku tidak bisa memahami maksud dari kata-katanya, meski tidak sepenuhnya. Hal ini kusadari beberapa bulan yang lalu, setelah aku menyelesaikan studi di salah satu perguruan tinggi. Dan memilih untuk menjadi pekerja lepas agar bisa bersama ibu yang saat itu telah menginjak usia 40 tahun-an. Sedangkan ayahku sudah lama tiada, bahkan aku sudah lupa bagaimana wajah, tinggi badan, dan sifatnya. Aku bahkan lupa kapan ia tiada. Mungkin aku malah tidak mengenalnya. Mungkin itu karena aku hanya bisa melihat ibu. Seperti apa wajah ibu, bagaimana sifatnya, bagaimana cara makannya, apa kegemarannya. Semua tentang ibu. Tapi mungkin aku tidak tahu semua hal tentang ibu dan ibu yang bersamaku sekarang berbeda dengan ibu dalam ingatanku. Dia diselimuti teka-teki.

    Suatu pagi ibu menyuruhku pergi ke pasar untuk membeli pepaya berwarna ungu. Saat kukatakan bahwa tidak ada pepaya seperti itu, dia hanya diam dan memandangku lalu berkata "sayang sekali". Setelah itu dia akan pergi melanjutkan pekerjaan yang sedang dia lakukan. Entah, apa maksudnya, seingatku aku tidak pernah memakan bahkan mendengar pepaya semacam itu. Namun karena penasaran akhirnya aku mencari informasi mengenai pepaya seperti itu. Dan hasilnya nihil, aku menyerah dan memilih melupakannya.

    Setelah hari itu semua berjalan seperti biasa, aku terkadang sibuk mengerjakan proyek pekerjaan yang datang dan ibu sibuk dengan pekerjaan rumah dan merawat tanaman-tanamannya. Akhir-akhir ini kami memang jarang bisa berbincang panjang lebar, namun saat ada kesempatan kami tak akan melewatkannya. Topiknya bisa bermacam-macam, mulai dari pekerjaan, tanaman, maupun cuaca. Dia merupakan orang yang menyenangkan. Biasanya di saat seperti itu aku akan tertegun melihat wajahnya yang sekilas mirip denganku. Mungkin aku akan terlihat seperti itu suatu saat nanti.

    Sore ini waktu seperti itu pun tiba. Proyek yang aku kerjakan sudah selesai dan ibu sedang bersantai menikmati teh di halaman bersama tanaman-tanamannya.

    "Tenang sekali ya bu suasananya?” kataku menghampiri ibu

    "Iya, pekerjaanmu sudah selesai?" katanya sambil tersenyum ke arahku.

    "Sudah baru saja" jawabku sambil duduk di bangku seberang meja

    "Mau ibu buatkan teh?"

    "Tidak usah, nanti aku buat sendiri saja".

    "Baiklah kalau begitu".

    Dia seperti itu selalu perhatian kepada siapa saja. Apa mungkin karena dia seorang ibu? Apakah semua ibu seperti itu?

    "Ibu sedang memperhatikan apa?"

    "Bunga".

    "Oh bunga merah yang besar itu?"

    "Bukan, yang berwarna biru," kata ibu dengan suara teduhnya.

    "Uhmmm," aku bergumam dan melihat sekelling mencari tanaman yang dimaksud ibu, tapi tak berhasil menemukannya.

    "Yang mana?" tanyaku penasaran

    "Yang itu," ibu lantas menunjuk tanaman dengan bunga berwarna merah yang tadi aku maksud.

    "Tapi tanaman itu bunganya merah bukan biru".

    Ibu menggeleng lembut lalu berkata, "Itu biru".

    Jawaban ibu membuatku khawatir dan menanyakan apakah matanya sakit akhir-akhir ini karena bunga itu berwarna merah. Tapi ibu menjawab dengan tenang, "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, ibu tidak apa-apa". Lalu ia tediam sejenak dan berkata lagi "Tidak masalah apakah bunga itu berwarna merah atau biru. Ia hanya akan terlihat seperti apa yang kita inginkan. Dan ibu ingin melihat bunga itu berwarna biru"

    Jawaban yang membingungkan pikirku, namun mungkin ibu ingin aku mengecat bunga itu agar berwarna biru.

    "Apakah ibu ingin aku mengecat bunga itu dengan warna biru?"

    Mendengar perkataanku ibu lantas tersenyum lalu berkata,

    "Ibu senang bunga itu hanya berwarna biru di mata ibu, biarlah dia tetap berwarna merah di matamu".

    Mendengar itu aku hanya mengernyitkan dahi dan memandangi bunga itu. Ibu semakin aneh saja pikirku.

    "Ngomong-ngomong, apakah kamu masih suka melukis?"

    Aku menggeleng

    "Sudah lama aku tidak melakukannya"

    "Kenapa?"

    "Tidak apa, hanya tidak sempat dan akhirnya lupa".

    "Kau memang pelupa," katanya sambil tersenyum lalu berkata lagi

    "Kalau begitu, apakah kau mau melukis untuk ibu?"

    "Uhmmm, tapi mungkin hasilnya akan jelek".

    "Tidak apa-apa".

    "Ibu ingin aku melukis apa?"

    "Kucing bersayap dan berbulu biru"

    Dua hal tidak masuk akal dalam satu waktu pikirku, tapi entah mengapa aku tidak ingin bertanya mengenai hal itu. Melukis adalah caraku memeditasi diri, berpikir akan melakukannya saja bisa membuatku merasa bahagia. Sudah lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini.

    "Uhmmm, baiklah. Tapi mungkin aku baru akan mulai melukis lusa karena besok harus membeli perlengkapan yang diperlukan".

    "Ibu membeli perlengkapan melukis beberapa waktu yang lalu dan menyimpannya di gudang. Siapa tahu kau akan membutuhkannya".

    "Baiklah".

    Keesokan paginya setelah sarapan ibu mengantarkanku ke gudang dan menunjukkan letak peralatan yang bisa kupakai. Sebenarnya aku tidak terlalu memperhatikan apa yang ibu katakan. Mataku tertuju pada sebuah kanvas besar yang tertutup kain.

    "Itu apa?"

    "Itu lukisan kita, kau yang melukisnya".

    "Boleh ku buka?"

    "Tentu saja, tapi mungkin kau akan sedikit terkejut".

    "Apakah lukisanku sejelek itu?"

    "Bukan, bukan lukisanmu yang jelek. Hanya ibu yang berbeda".

    Aku menoleh ke arah ibu dan memandanginya sejenak. Ibu hanya tersenyum lalu mengangkat dagunya menyuruhku untuk membuka kain penutup kanvas besar itu.

    Pada kanvas itu terlihat dua orang dewasa berdiri di belakang gadis seorang gadis kecil yang tampak sepertiku. Tak terasa butiran air menetes dari mataku. Mungkin aku merasa terharu, tapi rasa haru itu berganti dengan rasa cemas karena aku tidak menemukan wajah ibu.

    "Ibu, perempuan itu tidak tampak seperti ibu".

    "Dia ibumu"

    Aku tidak kuasa untuk menoleh ke arah ibu, tetapi aku bisa merasakan ketenangan sekaligus rasa cemas dalam nada suara ibu.

    "Lantas ibu?"

    "Ibu berdiri tepat disamping perempuan itu",

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.