Aja Kagetan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Kamis, 12 Mei 2022 08:24 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Aja Kagetan

    Gelombang kehidupan sering membuat orang yang tidak siap merasa panik atau stress atau gembira berlebihan. Bagaimana sebaiknya menghadapinya? Silahkan ikuti terus artikel ini.

    Dibaca : 436 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Mari kita bahas kebudayaan Indonesia lagi.  Frasa tersebut berasal dari bahasa Jawa. Kata kaget  dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia sama artinya. Meskipun demikian ada nuansa di dalamnya.

    Kaget yang dimaksud di dalam frasa itu adalah sikap tidak tepat ketika menghadapi perubahan situasi kehidupan.  Biasanya ketika menghadapi mobilitas sosial.  Dulu guru saya memakai istilah mobilitas vertikal. Sekarang ada frasa panjat sosial untuk menggambarkan tindakan orang yang mendaki hirarki dalam masyarakat.  Sebenarnya bukan hanya kenaikan saja yang menimbulkan kekagetan tapi juga penurunan. 

    Lèngsèr misalnya.  Ketika usia sudah tidak muda lagi semua orang harus melepaskan pekerjaannya.  Tidak mudah melepas pekerjaan yang sudah mendarah daging.  Apalagi kalau sudah memiliki posisi yang sejak muda diidamkan.  Agipula memperolehnya harus melalui perjuangan dan doa yang memakan waktu tidak sebentar.  Maka timbul masalah mengelola emosi. 

    Dalam kedua kasus - naik atau turun- banyak orang yang tidak mampu mengatasi.  Akibatnya tindakannya sering dalam pandangan orang lain aneh.  Ketika naik apalagi dengan cepat banyak orang yang menuntut pengakuan ekstra.  Dia menuntut orang lain menghormatinya.  Kadang permintaan itu berlebihan sehingga orang lain keberatan.  Masyarakat belum tentu sama pandangannya dengan dia. Sebagian orang ada yang bersedia menyenangkan hatinya dengan menghormati lebih.  Tapi ada juga yang tidak.  Akibatnya kadang hubungan jadi memburuk.  Barangkali itu juga salah satu alasan sebagian orang membeli barang atau jasa yang mahal.  Ketika seseorang merasa sudah di atas maka dia merasa tidak mau disamai oleh orang lain.  Maka dia membeli benda yang mahal yang belum tentu dia butuhkan.  Jadi sekarang ada istilah smart phone but stupid person.  Hpnya cerdas tapi pemiliknya oon.

    Dulu ada istilah OKB – orang kaya baru, untuk melukiskan fenomena seperti ini.  Okb ini kalau membeli barang mementingkan harganya. Pokoknya mahal dia beli. Kemudian dia pamerkan meskipun dia tidak paham cara pakainya apalagi manfaatnya.  Jangan heran kalau ada orang yang tinggal di negeri tropis yang panas membeli pakaian untuk musim dingin.   Konon dulu ada orang kaya tinggal di desa yang membeli kulkas tapi dipakai menyimpan baju karena di desanya belum ada listrik.  

    Orang yang kaget karena turun juga banyak yang anèh.  Ada yang menjadi pemarah atau pemurung atau stress.  Dia kuatir orang lain melecehkannya.  Memang ada sih sebagian masyarakat yang membalas. Mungkin karena dulu ketika di atas sikapya terasa arogan atau zalim.  Maka ketika turun masyarakat membalas dengan sikap melecehkan. Akibatnya hubungan dengan masyarakat kurang harmonis. Timbullah masalah psikis.

    Bagaimana cara mengatasi masalah psikis?  Ada banyak cara tentunya. Salah satunya adalah menulis. Ada sebuah metode untuk mengatasi masalah psikis yaitu expressive writing atau therapeutic writing.  Ini bukan menulis untuk orang lain tapi menulis untuk diri sendiri.  Tujuannya untuk meringankan beban mental agar plong alias lega beban psikisnya.

    Lain kali kita bahas lagi lebih dalam kalau anda minat.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.