Manajer Thailand U-23 Akui Pemainnya Curang, Vietnam Bagaimana? Timnas Garuda yang Mana? - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

STy

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 22 Mei 2022 05:48 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Manajer Thailand U-23 Akui Pemainnya Curang, Vietnam Bagaimana? Timnas Garuda yang Mana?

    Bila STy akan terus dipercaya dan kontraknya dilanjutkan untuk mengampu Timnas Indonesia, sepertinya nasibnya akan sama seperti pelatih asing yang pernah menangani Timnas Garuda. Sulit memberikan garansi prestasi tropi. Persoalannya bukan pada kompetensi STy yang kurang atau tak mumpuni. Tetapi, akar masalahnya karena ada pada SDM pemain sepak bola Indonesia sendiri. Sudah dipilih masuk Timnas, tapi rapor TIPSnya belum lulus. Sebab tidak terdidik dengan benar di sepak bola akar rumput hingga klub.

    Dibaca : 1.238 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bila cerdas, mudah berbuat licik. Tidak cerdas, sulit mengontrol emosi. (Supartono JW.20052021)

    Cerdas adalah sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dan sebagainya), tajam pikiran, sempurna pertumbuhan tubuhnya (sehat, kuat). Sementara, licik adalah banyak akal yang buruk, pandai menipu, culas, curang, licin.

    Sudah jatuh, ditimpa tangga. Itulah peribahasa yang saya pikir tepat untuk di sematkan kepada Shin Tae-yong (STy). Sebab, nasib STy kontras dengan apa yang dialami oleh rekan sejawatnya dari Korea Selatan, Park Hang-seo (PHs) yang membesut Timnas Vietnam U-23.

    Kasihan STy

    Bila PHs terus diguyur nasib baik, karena menukangi sebuah Timnas yang diisi oleh para SDM pemain yang mumpuni dalam TIPS sepak bola hingga dapat mengantar ke babak final SEA Games Vietnam.2021, sebaliknya, sejak awal meracik Timnas Indonesia malah harus kembali melatih dasar-dasar bermain sepak bola kepada penggawa U-23 Garuda.

    Malah, STy pun semakin tahu, bahwa para pemain yang dipilih atau disodorkan kepadanya, boleh dibilang rata-rata belum lulus rapor TIPS. Jadi, sebenarnya, jujur saya kasihan kepada STy, karena bisa jadi, nasibnya akan berujung sama dengan para pelatih asing yang pernah menangani Garuda.

    Bila STy akan terus dipercaya dan kontraknya dilanjutkan untuk mengampu Timnas Indonesia, sepertinya nasibnya akan sama seperti pelatih asing yang pernah menangani Timnas Garuda. Sulit memberikan garansi prestasi tropi.

    Persoalannya bukan pada kompetensi mereka yang kurang atau tak mumpuni. Tetapi, akar masalahnya karena ada pada SDM pemain sepak bola Indonesia sendiri. Sudah dipilih masuk Timnas, tapi rapor TIPSnya belum lulus. Sebab tidak terdidik dengan benar di sepak bola akar rumput hingga klub.

    Saya juga ketawa, saat membaca di media ada pihak yang sok tahu. Menyebut STy belum tahu atau belum paham karakter pemain sepak bola Indonesia. Jujur, saya tertawa ngakaklah. Itu orang sok tahu bingit. Hi hi.

    Saya kasihan kepada STy, dalam SEA Games kali ini, sampai ibarat dijatuhi tangga oleh para pemain di semi final karena ulah pemain yang kampungan. Kampungan dalam hal ini merujuk kepada tidak cerdas otak dan tidak cerdas emosi.

    Vietnam-Thailand=Cerdas=Licik

    Dalam sepak bola moderen. Sisa waktu laga 1 menit saja dapat mengubah skor akhir pertandingan. Lihat dalam Liga Eropa, ada tim yang seolah mustahil dapat membalikkan keadaan menjadi menang. Sekadar menyamakan kedudukan saja, publik yang menonton sudah tak terpikir. Tetapi nyatanya, tim yang dalam posisi tertinggal, bukan hanya mampu menyamakan kedudukan. Tetapi malah dapat berbalik unggul hanya dalam tempo satu-dua menit.

    Saat Garuda U-23 tertinggal 0-1 dari Thailand, masih cukup waktu untuk mengubah hasil laga. Tapi apa yang terjadi? Pemain Indonesia malah tergerus provokasi licik pemain Thailand. Segala ulahnya malah diladeni. Trus malah tersulut emosi. Bermain kungfu segala.

    Hasilnya, yang cerdas dan licik, memperdaya pemain kampungan. Hasilnya, Thailand bukan saja mampu mempertahankan keunggulan, tetapi malah bikin 3 pemain Indonesia diganjar kartu merah.

    Dangkal sekali kecerdasan otak dan emosi para pemain ini. Tak berpikir masih bisa menyamakan kedudukan. Atau tetap tenang dan realistis, bila hasilnya kalah, masih ada tugas meraih medali Perunggu dan lawannya antara Vietnam atau Malaysia.

    Tapi apa yang terjadi. Pertunjukkan laga yang bukan memalukan, tapi memilukan. Sebelum para pemain Indonesia diperdaya oleh para pemain Thailand yang licik. Indonesia pun sudah diperdaya oleh Panitia SEA Games yang konkalikong dengan Timnas Vetnam.

    Mereka duet kelicikan karena dengan semena-mena mengubah waktu dan tempat tanding. Tujuannya jelas, Indonesia akan adaptasi stadion baru, sementara Thailand sudah fasih dengan Stadion untuk laga semi final, karena selama fase Grup, Stadion terus menjadi laga Thailand.

    Di sisi lain, Timnas Vietnam pun bisa menonton dulu siapa yang menjadi calon lawan di final karena mereka yakin masuk final. Dengan begitu, Vietnam dan Thailand saya sebut tak ada bedanya. Sama-sama cerdas dan licik demi dapat lolos ke final. Dan yang diperdaya, sama-sama Timnas dan para pemain Indonesia yang mau diperdaya karena tak cerdas.

    Kelicikan Thailand yang dapat ditonton terbuka oleh publik sepak bola Asia Tenggara, pun diakui oleh MANAJER Timnas Thailand U-23, yaitu Madam Pang, mengakui sejumlah pemainnya bermain curang saat menghadapi Timnas Indonesia U-23 di semifinal SEA Games 2021, Kamis 19 Mei 2022 sore WIB seperti dilansir berbagai media massa.

    Tanpa meminta maaf kepada Timnas U-23, wanita yang masih terlihat muda meski berusia 56 tahun itu malah meminta pemain Timnas Thailand U-23 untuk tidak melakukan hal yang sama di laga final. Miris.

    Kapan Panitia SEA Games dan Manajerial Timnas Vietnam U-23 akan mengakui telah berbuat licik terhadap Timnas Indonesia?

    Ingat perunggu, tak kalah dari Malaysia

    Atas kondisi yang sejatinya sudah dapat diduga bahwa Garuda Muda kalah dari Thailand, karena penyakit lama, yaitu kelamaan istirahat jadi sulit bangun. Juga sudah terprediksi, rapor TIPS pemain yang belum lulus, maka tak kaget bila pemain unjuk kampungannya, tak berpikir ada kartu merah.

    Ada lagi tugas yang lebih prestisius karena harus meladeni musuh bebuyutan Malaysia di laga perebutan medali perunggu, tetap saja adegan tak perlu ditampilkan oleh para pemain yang tak cerdas.

    Untuk itu, apa pun kondisinya, STy dan pemain.yang tersisa, jangan sampai dipermalukan lagi oleh Malaysia. Sebab, dalam 2 laga perebutan perunggu sebelumnya di SEA Games, sejarahnya Indonesia selalu kalah dari Malaysia.

    Maka, di perebutan perunggu ke-3 SEA Games 2021 Vietnam, Garuda Muda tak boleh kalah lagi.

    Melihat penampilan Malaysia sepanjang SEA Games kali ini hingga ditekuk Vietnam di babak semi final. Saya melihat, pasukan STy yang tersisa, bila sekadar menahan imbang dibabak normal atau hingga babak perpanjangan waktu, akan mampu. Dan ujungnya menang via adu pinalti.

    Asalkan racikan komposisi pemain STy tepat, para pemain pun berupaya cerdas TIPS sepanjang laga. Tak kampungan. Jadi kali ini, ada kans giliran Indonesia melingsirkan Malaysia dari perebutan Juara Ketiga.

    Tapi ingat, wajib mampu mengontrol emosi, berusaha cerdas, dan tak perlu licik, tetapi menang dengan sportif.

    Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.