Kesusteraan Indonesia Periode Sebelum Kemerdekaan - Analisis - www.indonesiana.id
x

KHUZAEMAH ALLAELY 2021

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 April 2022

Rabu, 22 Juni 2022 09:02 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kesusteraan Indonesia Periode Sebelum Kemerdekaan

    Artikel ini beerjudul Kesustraan Indonesia Periode Sebelum kemerdekaan.

    Dibaca : 103 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Apakah sastra itu?

    Menurut Aristoteles sastra sebagai kegiatan lainya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsisafat. Menurut A. Teeuw, sastra didefenisikan sebagai segala sesuatu yang tertulis; pemakaian bahasa dalam bentuk tulis. Menurut Ahmad Badrun sastra atau kesustraan adalah kegiatan seni yang mempergunakan bahsa dan garis symbol-simbol lain sebagai alat, dan bersifat imajinatif.

    Jadi sastra merupakan sebuah karya yang dihasilkan oleh manusia untuk diindahkan,

    Kesustrrran sendiri ialah sebagai kumpulan atau hal yang mengenai tentang sastra, begitu juga dengan kesastraan ialah untuk menyatakan pengertian kadar sastra, dalam bahasa Inggis disebut juga literariness.

    Sastra Indonesia sebelum kemerdekaan

    Sastra Indonesia ialah sastra berbahasa Indonesia yang sudah ada sejak abad ke-20 seperti apa yang  terlihat dalam penerbitan surat kabar atau majalah dan buku, baik dari pemerintahan kolonial maupun usaha swasta.

    Sebagaimana kemerdakaan  Indonesia ditetapkan pada 17 Agustus 1945 yang ditandai dengan pembacaan proklamasi oleh Ir Soekarno Hatta. Berarti bahwa sastra sebelum kemerdekaan dimulai sejak awal Angkatan Balai Pustaka Sampai Angkatan 45.

    1. Angkatan Balai Pustaka

    Angkatan Balai Pustaka muncul sekitar tahun 1920-an, karya-karyanya diterbitkan oleh Penerbit Balai Pustaka. Penulis sastra pada Angkatan tersebut ialah Abdul Muis, Marah Rusli, Muhammad Kasim, Nur Sutan Iskandar, Hans Bague Jassin, Asrul Sani, Armijn Pane dan Merari Siregar.

    Angkatan Balai Pustaka juga dikenal dengan Angkatan Siti Nurbaya karena pada zaman itu novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli yang berada dipuncak dan yang terkenal, demikian juga ada beberapa karya lain yang terkenal seperti Salah Asuhan karya Abdul Muis, Azab dan Sengsara karya Merari Siregar.

    Hasil karya pada zaman itu didominasi oleh penyair dari Sumatera, khususnya para penyair dari Minangkabau, demikian persoalan-persoalan yang dikemukakan sangat berwarna lokal Minangkabau.

    Hal yang menjadi masalah di dalam karya mereka ialah persoalan mengenai adat yang keras, kaku, serta membelunggu kebebasan seseorang sebagai individu; tentang penindasan hak kaum wanita melalui perilaku kawin paksa; serta kekuasan kaum tua (adat) pada kaum mudanya. Angkatan ini disebut juga Angkatan 20-an.

     

    1. Angkatan Pujangga Baru

    Angkatan Pujangga Baru ialah salah satu bagian Angkatan Sejarah Sasta Indonesia. Angkatan ini muncul sekitar tahun 1930-an dibawah pimpinan Armijn Pane dan Taakdir Alisjahbana, tepatnya setelah Angkatan Balai Pustaka. Angkatan ini disebut Angkatan Pujangga Baru karena dipublikasikan lewat majalah sastra dan budaya “Poedjannga Baru” yang terbit pada tanggal 29 Juli 1933.

    Para penulis sastra pada masa Angkatan Pujangga Baru ialah Armijn Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Amir Hamzah, Hamka, J.E Tatengkeng, Ali Hasymi, Anak Agung Pandji Tisna, Mozasa, Said Daeng Muntu, Roestam Effendi, Karim Halim, Fatimah Hasan Delais dan Sariamin Ismail.

    Pada angkatan ini kebanyakan karya sastra yang dihasilkan berupa puisi baru yang bentuknya berbeda dari puisi sebelumnya yaitu pantun dan syair. Ciri karya pada Angkatan ini ialah karyanya menggunakan Bahasa Indonesia modern, tema karyanya bersifat kompleks, Aliran yang dianut pada karya sastra tersebut ialah pengaturan yang menonjol ialah masyarakat penjajahan dan romantic idealisme.

    1. Angkatan 45

    Angkatan 45 pertama kali dituturkan oleh Rosihan Anwar pada tanggal 9 Januari 1949 didalam Majalah Siasat, Angkatan ini juga disebut Angkatan Kemerdekaan. Diambil dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, pada Angkatan 45 adalahah sebutan yang diberikan kepada para penulis sastra Indonesia modern yang berkarya pada masa penjajahan Jepang, masa kemerdekaan dan beberapa tahun kemudian.

    Tokoh sastrawan pada Angkatan 45 antara lain Chairil Anwar, Asrul Sani, Usmar Ismail, R.ivai Apin Idrus, Utuy Thtang Sontani, Ida Nasution, Balfas, J.E. Tutengkeng, dan Pramoedya Ananta Toer. karya paling terkenal salah satunya  ialah puisi berjudul “Aku” karya Chairil Anwar.

     

    Ikuti tulisan menarik KHUZAEMAH ALLAELY 2021 lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 598 kali