Merevitalisasi Komunitas Praktisi - Analisis - www.indonesiana.id
x

Sebelum melaksanakan kegiatan guru melakukan sosialisasi dengan siswa.

Iwan Kartiwa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Rabu, 29 Juni 2022 09:44 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Merevitalisasi Komunitas Praktisi

    Dalam konteks PGP, pengertian komunitas praktisi bersumber dari pendapatnya Wenger (2012). Wenger mendefinisikan komunitas praktisi sebagai sekelompok individu yang memiliki semangat dan kegelisahan yang sama tentang praktik yang mereka lakukan dan ingin melakukannya dengan lebih baik dengan berinteraksi secara rutin. Dari definisi yang disebutkan ada sejumlah hal yang menjadi kata kunci, antara lain: ada kelompok individu yang memiliki spirit dan kegelisahan yang sama. Fokus pada praktek yang ingin dilakukan jauh lebih baik lagi. Adapun caranya adalah melalui pola interaksi yang rutin dan intensif.

    Dibaca : 401 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Iwan Kartiwa

    (Pengajar Praktek PGP Angkatan 5 Kab. Sumedang dan CKS SMA Provinsi Jawa Barat Tahun 2021)

     

    Komunitas praktisi merupakan salah satu tema besar dalam program PGP (pendidikan guru penggerak). Komunitas praktisi menjadi bagian penting dalam upaya transformasi pendidikan Indonesia yang saat ini tengah gencar dilaksanakan. Ketika komunitas praktisi lebih berdaya, aktif, mandiri dan berkotribusi secara signifikan maka secara bertahap pula upaya perbaikan pendidikan nasional yang kita dambakan akan semakin cepat terlaksana dan membuahkan hasil sebagaimana yang kita harapkan bersama kini dan di masa yang akan datang.

    Dalam konteks PGP, pengertian komunitas praktisi bersumber dari pendapatnya Wenger (2012). Wenger mendefinisikan komunitas praktisi sebagai sekelompok individu yang memiliki semangat dan kegelisahan yang sama tentang praktik yang mereka lakukan dan ingin melakukannya dengan lebih baik dengan berinteraksi secara rutin. Dari definisi yang disebutkan ada sejumlah hal yang menjadi kata kunci, antara lain: ada kelompok individu yang memiliki spirit dan kegelisahan yang sama. Fokus pada praktek yang ingin dilakukan jauh lebih baik lagi. Adapun caranya adalah melalui pola interaksi yang rutin dan intensif.

    Apabila diidentifikasi komunitas praktisi dalam konteks pendidikan dapat mengacu pada spektrum yang bersifat internal dan eksternal. Spektrum yang bersifat internal tentu terkait dengan komunitas guru yang ada di sekolah dimana para guru penggerak bertugas. Dalam hal ini ada yang didasari oleh kepentingan sekolah maupun oleh kepentingan mata pelajaran tertentu misalnya terbentuk MGMP rumpun mata pelajaran tertentu dan lain sebagainya. Sementara spectrum yang bersifat eksternal terkait didalamnya berbagai asosiasi maupun organisasi profesi guru maupun yang lintas profesi namun memiliki konsen dan kepedulian terhadap dunia pendidikan pada umumnya.

    Sebagai sebuah entitas tersendiri, maka tidak semua komunitas dapat dikategorikan komunitas praktisi. Ada tiga karakteristik yang membedakan komunitas praktisi dengan komunitas lainnya yaitu 1). Domain, yaitu, adanya kesamaan atas hal yang dianggap penting oleh anggota komunitas. Contohnya: Tujuan, identitas, minat, latar belakang, nilai yang dipercaya, keresahan tentang sesuatu isu atau persoalan bersama, 2). Komunitas, ialah adanya norma/aturan sosial yang disepakati oleh anggota. Contohnya: Saling menghormati antar anggota, keinginan untuk berbagi, niat baik saling mendukung, interaksi yang rutin, terbuka untuk saling bertanya dan niat baik untuk saling mendukung dan berkontribusi 3). Praktik, yakni adanya pengetahuan yang dikembangkan, dibagikan dan dipelihara sebagai hasil dari kegiatan komunitas praktisi. Contohnya: Informasi, hasil pembelajaran, pengetahuan yang dibagikan, alat dan bahan untuk pembelajaran atau hasil pembelajaran, dokumen-dokumen dan video.

    Komunitas praktisi juga memiliki tujuan yang jelas dan terstrukur. Ada 5 (lima) tujuan penting sebuah komunitas praktisi. Kelima tujuan tersebut adalah 1). Mengedukasi anggota dengan mengumpulkan dan berbagi informasi yang berkaitan dengan masalah dan pertanyaan tentang praktik pengajaran dan pembelajaran, 2). Memberi dukungan pada anggota melalui interaksi dan kolaborasi sesama anggota, 3). Mendampingi anggota untuk memulai dan mempertahankan pembelajaran mereka, 4). Mendorong anggota untuk menyebarkan capaian anggota melalui diskusi dan berbagi, 5). Mengintegrasikan pembelajaran yang didapatkan dengan pekerjaan sehari-hari.

    Selanjutnya apabila dipetakan kondisi komunitas praktisi saat ini mengerucut pada tiga kondisi. Ketiga kondisi itu adalah yang aktif, stagnan (diam di tempat, jarang aktivitas) dan pasif (hampir collaps/bubar) Kondisi aktif ditandai oleh adanya berbagai aktivitas dan kontribusi yang rutin, regular dan terprogam dengan baik dalam bidang pendidikan minimal dalam konteks area control di wilayahnya. Sementara yang berstatus stagnan adalah jenis komunitas praktis yang aktivitasnya cenderung incidental, tidak terprogram bahkan akvitiasnya hanya pada waktu-waktu tertentu saja. Selain itu mungkin juga dalam kondisi vakum atau dalam kondisi sangat minim aktivitas. Sedangkan yang pasif ditandai oleh kevakuman yang tinggi dengan tanpa akvitias hanya tertinggal nama dan identitas organisasinya saja.

    Memperhatikan 3 (tiga) kondisi yang ada pada komunitas praktisi tersebut maka para guru penggerak akan memainkan peran penting dalam konteks tersebut. Peran penting ini tentu akan disesuaikan dengan kondisi komunitas praktisi yang dihadapinya. Apabila dihadapkan pada komunitas praktisi dengan kondisi yang aktif maka peran guru penggerak dapat dilakukan dengan melakukan sinergi dan kolaborasi secara lebih optimal. Sementara untuk komunitas praktisi yang mengalami kondisi stagnan dan pasif maka diperlukan upaya serius dan ekstra keras untuk merevitalisasinya. Revitalisasi dalam hal ini diartikan untuk menghidupkan kembali dan memfungsikan lagi aktivitas, fungsi dan kontribusi dalam komunitas praktisi tersebut.

    Dalam modul 1.2 program PGP tentang nilai dan peran guru penggerak disebutkan bahwa peran guru penggerak dalam sebuah komunitas praktisi sangat penting dan strategis. Setidaknya ada 7 (tujuh) peran guru penggerak dalam hal ini meliputi: 1). Menganalisis kebutuhan belajar anggota, 2). Memfasilitasi penyusunan rencana kegiatan belajar berdasarkan hasil analisis kebutuhan, 3). Mencari narasumber yang relevan sesuai kebutuhan belajar, 4). Menyelenggarakan kegiatan belajar di komunitas, 5). M e n d o k u m e n t a s i k a n d a n mempublikasikan hasil kegiatan, 6). Mendampingi rekan sejawat dalam mempra k t i k kan ha s i l be l a j a r di komunitas, 7). Memfasilitasi evaluasi dan refleksi pembelajaran dan penerapan kegiatan.

    Guna merevitalisasi komunitas praktivi ini, seorang guru penggerak juga dipastikan harus dapat memahami 3 (tiga) tahapan penting agar eksistensi dan fungsi komunitas praktisi dapat terjaga dengan baik. Tiga tahapan dimaksud adalah tahap merintis, menumbuhkan dan merawat keberlanjutan. Tahap merintis. Tahap merintis adalah tahapan memulai sebuah komunitas, Guru Pengge ra k dapa t mengawa l i membangun Komunitas Praktisi dengan strategi berikut: membangun percakapan awal, menemukan pengikut pertama, dan membangun percakapan bermakna. Selanjutnya tahap menumbuhkan. P a d a t a h a p me n umb u h k a n , komunitas praktisi diharapkan d a p a t m e n y e b a r l u a s k a n pengetahuan dan praktik baik secara lebih luas. Dalam hal ini guru penggerak dapat melakukan langkah-langkah berikut ini: menyelenggarkan pertemuan secara rutin, Mendorong dan mendampingi anggota komunitas menerapkan hasil belajar, serta Mendokumentasikan dan membagikan hasil belajar

    Berikutnya tahap merawat keberlanjutan. Pada tahap merawat keberlanjutan Komunitas Praktisi adalah tahap untuk memastikan proses baik yang sudah berjalan di dalam komunitas akan terus memberi dampak positif bagi anggota komunitas dan murid walaupun ter jadi perubahan[1]perubahan situasi yang berkaitan d e n g a n K o m u n i t a s P r a k t i s i . Contohnya, adanya pergant ian kepala sekolah, guru penggerak pindah ke sekol ah l a in, a t au ber tambah atau berkurangnya a n g g o t a . L a n g k a h m e r a w a t keberlanjutan antara lain: Mengembangkan anggota menjadi Penggerak Komunitas Praktisi, Menginisiasi kolaborasi, dan Menyelenggarakan proyek kegiatan murid (Sumber: Belajar di Komunitas Praktisi, Kemdikbud, 2020).

    Upaya merevitalisasi komunitas praktisi ini sekali lagi tidak akan pernah terjadi bila tidak ada prakarsa perubahan khususnya yang dimotori para guru penggerak, Sebuah prakarsa perubahan sangat memerlukan 3 (tiga) elemen penting, Elemen pertama adalah inisiatif perubahan, kedua adanya pemimpin dan ketiga adanya pengikut. Merevitalsasi komunitas praktisi jelas memerlukan adanya inisiatif perubahan dengan mengusung perbaikan pada aspek figur (ketua/pemimpin), struktur (pengurus) dan kultur (budaya organisasi). Dalam hal ini cari, bersinergi dan berkolaborasilah dengan para pemimpin/ketua komunitas praktisi untuk menyamakan visi perubahan dalam rangka perbaikan layanan dan peningkatan kualitas pendidikan. Perkuat dan dukung kepengurusan komunitas praktisi yang ada dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Selanjutnya perlahan namun pasti bentuklah kultur budaya positif dalam komunitas praktisi dengan cara antara lain mengedepankan pembelajaran yang relevan bagi anggota komunitas, membangun nilai-nilai bersama, melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan, menciptakan relasi yang positif antar anggota dan tentu saja tidak ketinggalan yaitu menjadikan refleksi dan umpan balik menjadi bagian penting dari proses rutin pelaksanaan setiap kegiatan. Wallahu a’lam bish-shawabi ( والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ ).

    Ikuti tulisan menarik Iwan Kartiwa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.