Gelisah Sariman Si Anak Nelayan - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Nelayan menangkap ikan sumber foto : https://manado.tribunnews.com

Ali Mufid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Maret 2022

Senin, 4 Juli 2022 05:55 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Gelisah Sariman Si Anak Nelayan

    Berada di tengah manusia rasanya seperti dihadiahi juru tembak yang siap melepas peluru menghujam dada. Selimut kegelisahan selalu menempel pada raga yang hampir lumpuh mengingat masa sulit itu tak kunjung berganti bahagia.

    Dibaca : 844 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tanpa ada penghakiman atas sekian banyak kegagalan yang menghampiri. Berada di tengah manusia rasanya seperti dihadiahi juru tembak yang siap melepas peluru menghujam dada. Selimut kegelisahan selalu menempel pada raga yang hampir lumpuh mengingat masa sulit itu tak kunjung berganti bahagia. Langkah kaki serasa berat bahkan untuk menapaki jalan yang masih panjang.

    Sariman adalah satu contoh anak desa yang intim dengan kata gagal. Tubuhnya yang dulu gempal kini berubah menjadi laki-laki kekar berotot dengan suara tebal keluar dari pita suaranya. Rambutnya tak lagi terurai hingga menutupi daun telinga. Tampak tegak saat ia berjalan diantara pasir pantai. Sepatunya ia kalungkan di leher yang semakin menghitam karena sering menyapa terik.

    Tiga tahun berlalu, Sariman akrab dengan latihan fisik. Tak peduli sudah berapa ribu kilometer ia tempuh demi mempertegas raganya agar kokoh menjadi seorang prajurit. Ia berusaha keras memantaskan diri menjadi manusia yang mengabdi kepada bangsa dan negara. Tak peduli darimana ia berasal, tak peduli darimana ia tinggal dan tak peduli dari rahim siapa ia dilahirkan di dunia ini.

    Orang tuanya yang hanya nelayan di pesisir pantai Krapyak, Kalipucang, Pangandaran, pun tak menyurutkan asa mengejar mimpi. Disela-sela menjaga staminanya, Sariman acapkali meluangkan waktu bersama orang tuanya untuk mencari ikan. Cukup untuk menghidupi Sariman bersama dua adiknya yang masih sekolah di bangku SMP dan sekolah dasar.

    Teman satu sekolah terlebih dulu mencapai titik keberhasilan menjadi seorang prajurit. Beban moral dan tekanan selalu ia pikul setiap kali berjumpa dengan tetangga dan teman-temannya. Seperti mendapatkan vonis bahwa ia tak bisa mengejar mimpinya itu. Situasi ini membuatnya meredam untuk berinteraksi dengan sesama.

    Satu hal yang membuat dia yakin bahwa manusia memiliki kesempatan dan peluang yang sama. Ini hanya persoalan momentum, katanya. Sariman yang kini mencoba peruntungan kembali, perlu memupuk sekian banyak lapisan motivasi diri sebagai suplemen terbaik menggapai harapan. Sariman tak patah arang. Meski sudah sekian banyak mengalami kegagalan, namun ia percaya di ujung jalan ada kursi nyaman sebagai penanda bahwa suatu saat ia akan berhasil menjadi seorang prajurit.

    Ikuti tulisan menarik Ali Mufid lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.