Digitalisasi Belanja Sayur Ancam Demokrasi Emak-emak - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Toko Online

Ali Mufid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Maret 2022

Rabu, 6 Juli 2022 16:41 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Digitalisasi Belanja Sayur Ancam Demokrasi Emak-emak

    Digitalisasi hadir menjadi pembaharu dari sebuah cara lama ke cara baru. Digitalisasi adalah upaya menghemat gerak langkah manusia dan efisiensi waktu sehingga segala aktifitas tak melulu tentang gerak kaki.

    Dibaca : 772 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Puluhan ibu-ibu di desa Wakanda protes karena pola belanja konvensional akan bergeser ke pola digital. Mereka banyak mengeluhkan metode semacam itu akan mengancam nilai-nilai demokrasi yang selama ini dirawat dengan apik oleh mereka kalangan ibu-ibu. Ya, satu aplikasi yang diberi nama MySayurmayur tidak melulu tentang menjawab kegelisahan, tapi ada nilai yang hilang diantara mereka kaum ibu-ibu.

    MySayurmayur akan mempermudah transaksi jual beli ibu-ibu rumah tangga yang seringkali adu gosip saat penjual sayur konvensional keliling perumahan. Aplikasi ini sama dengan lainnya yaitu memangkas jarak dan waktu agar energi yang dibutuhkan ibu rumah tangga tak banyak dikeluarkan. Setali tiga uang, sekali mendayung dua tiga pulau terlampauai.

    Dunia serba digital hanya dengan meletakkan jari jemari di layar sentuh gawai, segala kebutuhan terjawab dalam hitungan menit. Berbagai macam kebutuhan terpampang rapih di etalase digital. Tak ayal pola ini memanjakan para konsumen. Sebelumnya belanja sayur mayur harus pergi ke pasar tradisional, kini hanya sekali klik, aneka ragam sayuran diantar ke rumah.

     

    MySayurmayur belum sepenuhnya menjadi primadona bagi ibu-ibu, terutama bagi mereka yang masih meyakini bahwa belanja sayur bukan persoalan proses jual beli namun ada nilai-nilai luhur dalam urusan dapur. Belanja sembako bukan sekedar tanggungjawab masak untuk suami dan anak, tak pula sebatas terjadi komunikasi dua arah, tak juga hanya transaksi jual beli. Ada hal-hal yang esensial berupa kepuasan batin dan aktualisasi diri saat belanja sembako menggunakan cara konvensional.

     

    Bayangkan saja, seorang ibu yang akan membeli sembako di pedagang keliling, rasanya kurang puas jika tak sekaligus memanfaatkan momen itu sebagai media interaksi dengan ibu-ibu lainnya. Disitu terjadi lobi-lobi politik antara koalisi elektoral untuk menentukan arah kepentingan aspirasi ibu-ibu. Besar kemungkinan terjadi deal politik sehingga ini bagus untuk keberlangsungan daya kritis dan kerjasama di antara mereka.

     

    Banyak terjadi polemik lahirnya aplikasi MySayurmayur. Kalangan ibu-ibu khususnya di pedesaan menilai bahwa adanya aplikasi ini sebagai upaya propaganda elit politik untuk menyelaraskan segala beda. Mereka menduga bahwa ini konglomerasi kepentingan kelas atas supaya terjadi satu jenis opini publik ditengah silang pendapat kalangan ibu-ibu. Bentuk penyeragaman opini ini akan mengancam nilai-nilai demokrasi yang acapkali menjadi bola liar di kalangan ibu-ibu saat belanja sembako secara konvensional.

     

    Para ibu dipaksa agar makin terkuras konsentrasi dan naluri detektifnya dengan cara dibebankannya metode belanja secara digital. Saat seluruh ibu-ibu di kampung memakai mekanisme belanja seperti ini, data mereka menjadi sangat bernilai tinggi, kemudian dipergunakan untuk kepentingan tertentu. Cara ini, menurut mereka akan mengikis rasa senasib sepenanggungan karena tidak ada lagi gosip ditengah kesibukan belanja sayur.

     

    MySayurmayur punya aspek edukatif agar digitalisasi pasar berjalan optimal. Di sisi lain, metode belanja ini belum sepenuhnya diterima. Terlebih bagi ibu-ibu pedesaan yang jarang sekali bersentuhan dengan gawai. Untuk mengatur pendapatan suami saja, harus pintar membagi-bagi pos anggaran. Apa ceritanya saat ibu di pedesaan harus menggunakan gawai hanya untuk belanja dua batang tempe atau satu ikat kangkung? Bakal menambah anggaran lagi untuk membeli HP yang harganya minimal Rp 1 juta.

     

    Digitalisasi hadir menjadi pembaharu dari sebuah cara lama ke cara baru. Digitalisasi adalah upaya menghemat gerak langkah manusia dan efisiensi waktu sehingga segala aktifitas tak melulu tentang gerak kaki. Cukup duduk sambil nonton tv, apa yang kita hendak beli bisa seketika terpenuhi. Digitalisasi tak kemudian mengubur cara konvensional, dimana hal itu menjadi salah satu media untuk saling berinteraksi dengan sesama. Seperti gosip ibu-ibu di pedesaan saat belanja sayur, bahwa itu adalah keotentikan kebiasaan mereka demi menjaga eksistensi sebagai manusia.

    Ikuti tulisan menarik Ali Mufid lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.