Timnas U-16 Belajar Pedagogi! - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Sepak bola akar rumput

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 1 Agustus 2022 17:54 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Timnas U-16 Belajar Pedagogi!

    Sudah bukan rahasia lagi, Vetnam, Thailand, dan Malaysia, selama ini dikenal dengan para pemain yang cerdas otak dan mental, sehingga setiap kali bertemu dengan Timnas Indonesia, para pemain Garuda sangat mudah dipancing emosinya dan dikerjai dengan cara licik. Mereka menjinakkan Indonesia bukan hanya dari sektor kemenangan gol dalam permainan, tetapi kemenangan dalam kecerdasan otak dan mental.

    Dibaca : 575 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sudah disimpulkan oleh STy atau asistennya NA, kelemahan tiga Timnas Indonesia (U-19, U-23, Senior) sama. Mengapa, Timnas U-16 mengulang kesalahan yang sama? (Supartono JW.01082022)

    Meneladani Indra dan Fakhri

    Pendekatan individu hingga mengenal dekat keluarga pemain, adalah satu di antara upaya yang dilakukan oleh Indra Sjafri tatkala membesut Evan Dimas dkk, selain cara blusukan hingga mendapatkan pemain-pemain Timnas bertalenta dan memiliki Teknik, Intelegensi, Personality, dan Speed (TIPS) mumpuni. Ini menjadi melegenda di sepak bola nasional, sebab saat itu, wadah untuk mendapatkan calon pemain Timnas masih tak semudah sekarang.

    Fakhri Husaini pun melakukan model yang sama, hingga para penggawa Timnas yang diasuhnya boleh dibilang sukses. Itulah yang seharusnya diteladani oleh Bima Sakti. Sebab, Shin Tae-yong (STy) sebagai pelatih asing, tidak melakukan hal itu.

    Dalam laga perdana Piala AFF U-16 saat Timnas Indonesia U-16 yang diampunya hanya mampu unggul 2-0 atas Timnas Filipina U-16, bahkan 1 gol hasil dari buah bunuh diri pemain lawan.

    Artinya, menghadapi Filipina U-16 yang kelasnya masih di bawah Timnas Garuda, anak asuh Bima hanya mampu melesakkan 1 gol. Padahal pesaingnya dalam satu grup, Vietnam U-16 mampu menggelontorkan 5 gol ke gawang Singapura U-16.

    Belajar pedagogi

    Bila Bima Sakti mempunyai kompetensi pedagogi yang menyerupai Indra Sjafri atau Fakhri Husaini, penyakit kronis yang selalu ada dalam Timnas Indonesia selama ini, tentu bisa dikikis. Tidak ada pemain yang merasa hebat dan selalu nampak sok unjuk gigi, bermain dengan cara individulis dan egois.

    Penyakit rendahnya TIPS semua pemain Timnas, di semua level, sudah diulas oleh STy. Bahkan, asistennya, Nova Arianto (NA), sampai menulis pesan untuk pegiat di sepak bola akar rumput melalui media sosial (medsos)nya, agar memperhatikan betapa lemahnya TIPS para pemain Timnas di U-19, U-23, dan Senior.

    Ada 16 Tim U-16 jadi bandingan

    Karenanya, seharusnya tidak ada alasan, Timnas U-16 masih belia, butuh proses. butuh jam terbang, butuh pengalaman, dan butuh lain-lainnya. Namun, membandingkan para pemain di usia yang sama, ada 16 tim yang terlibat dalam Turnamen Nusantara Open (TNO) U-16.

    Saya amati langsung sejak fase grup, hingga babak final yang akan dimainkan Senin, 1 Agustus 2022 di Stadion Pakansari, Bogor, ternyata banyak pemain yang cerdas intelegensi dan personality yang seharusnya bisa berada dalam Timnas U-16 sekarang.

    Bila Timnas U-16 bertemu dengan salah satu tim peserta TNO, atau juara TNO 2022, belum tentu Timnas U-16 bisa menang, lho.

    Jadi, bila Timnas U-16 hanya mampu menceploskan 1 gol ke gawang Filipina U-16 yang kelasnya jauh di bawah, dan sebagian besar pemain foya-foya tampil individualis dan egois. Ditambah alasan klasik masih proses dan bla-bla, maka itu sudah lewat.

    Intelegensi dan personality rendah

    Dari hasil laga pertama, Bima Sakti belum mampu membimbing para pemainnya, terutama dalam hal intelegensi (kecerdasan otak) dan personality (kecerdasan kepribadianian, mental, emosi). Saya sebut, dalam laga versus Filipina U-16, rapor kecerdasan intelegensi dan personality para pemain Timnas U-16 masih di bawah nilai 50.

    Banyak pesan yang masuk dalam medsos saya, yang saya simpulkan kecewa dengan para pemain belia Indonesia yang diasuh Bima Sakti. Apa Bima tidak belajar dari Indra, Fakhri, STy, catatan Nova, catatan para praktisi dan pengamat, komentar netizen, dan publik sepak bola nasional selama ini tentang Timnas Indonesia?

    Sudah jelas rapor TIPS para pemain Timnas belum lulus atau belum mencapai standar. Harusnya, Bima memahami dan belajar dari semua itu.@ Bicara TIPS pemain, sebakat-bakatnya pemain dalam sepak bola, bila tidak cerdas otak, sudah tentu akan signifikan tidak cerdas personality. Tidak cerdas otak, maka tidak akan cerdas teknik. Bila speed (fisik) lemah, asupan oksigen ke otak tak terpenuhi, otak yang cerdas pun akan loyo. Karenanya, para pemain yang cerdas otak, akan sebanding dengan kecerdasan fisiknya, buntutnya akan cerdas pula personality dan tekniknya. Sampai di sini, bisa dipahami, ya?

    Jadi, para pemain belia kita ini, tolong dibimbing dan dipandu bagaimana agar otaknya terus terasah dan berkembang, lalu dengan otak yang cerdas, setiap pemain akan mampu membimbing dan mengarahkan tindakan dalam personalitynya hingga perbuatan teknik dan speednya pun cerdas.

    Skor 2-0 yang diraih Timnas Indonesia U-16 vs Filipina U-16 di Piala AFF U16 2022 pada Minggu, (31/7/2022) malam WIB. di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Menjadi bukti, bahwa sektor I dan P pemain menjadi Pekerjaan Rumah (PR) paling utama yang wajib dibenahi dan dibimbing oleh Bima sebelum meladeni Singapura dan Vietnam.

    Lawan sebenarnya Vietnam, Thailand, Malaysia@@ Sejatinya, melihat kemampuan teknik dan speed anak Garuda, Singapura pun bukan lawan sepadan. Jadi, demi sekadar lolos fase grup, minimal menjadi runner-up, secara matematis tidak sulit. Namun, wajib diingat, lawan sebenarnya Timnas U-16 di Grup A adalah Vietnam yang menggasak Singapura 5-1. Lawan sebenarnya lainnya ada Thailand dan Malaysia.

    Dan, sudah bukan rahasia lagi, Vetnam, Thailand, dan Malaysia, selama ini dikenal dengan para pemain yang cerdas otak dan mental, sehingga setiap kali bertemu dengan Timnas Indonesia, para pemain Garuda sangat mudah dipancing emosinya dan dikerjai dengan cara licik. Mereka menjinakkan Indonesia bukan hanya dari sektor kemenangan gol dalam permainan, tetapi kemenangan dalam kecerdasan otak dan mental.

    Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Michael HB Raditya

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:50 WIB

    Ronaldo, Penjual KW, dan Cuan

    Dibaca : 326 kali