Kiamat Telah Tiba (7): Buku Ramalan Thom - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Meteoroids are billions of years old

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 10 Agustus 2022 16:42 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kiamat Telah Tiba (7): Buku Ramalan Thom

    "Aku menunjuk referensi di buku itu dan kemudian jariku menelusuri garis. “Diikuti oleh satu-satunya tanggal masa depan dalam buku, lima belas September tahun ini. Ketika aku berbicara dengan Thom untuk terakhir kalinya, dia menyebutkan tentang suatu peristiwa yang terjadi di Orion, dan dia mengatakan bahwa itu akan terjadi lebih cepat dari yang aku duga.” - Jules Moreau

    Dibaca : 490 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    2 Maret

    Sejumlah besar buku dan kertas dari rumah Thom telah kami ungsikan.

    Aku membuat daftar referensi dan katalog dalam lima hari terakhir, kira-kira sekitar seperempat dari total keseluruhan.

    Aku mengangkat sekumpulan jilid lain dari tumpukan di garasi Mireille dan memakai penyedot debu untuk menghilangkan debu dan serpihan batu bata.

    Saat melirik jam tanganku, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Belum banyak pekerjaan pada dokumen malam itu seperti yang kuharapkan karena aku membantu pekerjaan Mireille — menghabiskan satu setengah jam berkeliling desa membagikan brosur tentang pertemuan yang akan datang kepada anggota Kelompok Arisan Outreau. Namun, aku menyimpulkan bahwa telah menyelesaikan sebanyak yang aku bisa lakukan untuk hari itu.

    Membawa beberapa buku yang ingin kuteliti lebih dekat ke ruang duduk Mireille dan meletakkannya di meja kopi, lalu duduk di sofa dan membentangkan referensi di depanku.

    Idealnya, aku berharap menemukan dan memahami apa yang telah membuat Thom begitu terobsesi beberapa tahun belakangan, yang menyebabkan prediksinya begitu tepat. Namun, aku menyadari bahwa aku ada pada posisi yang sangat tidak menguntungkan. Banyak referensi tidak ditulis dalam bahasa Prancis atau Inggris atau Jerman atau yang kumengerti setidaknya sedikit. Lebih banyak dalam skrip asing.

    Internet telah memungkinkanku untuk mengidentifikasi bahasa Arab, Yunani, Ibrani, Rusia, dan lainnya. Jauh lebih banyak skrip non-Barat daripada yang kuketahui. Aku sama sekali tidak tahu arti kata-kata itu.

    Sebelumnya, aku berspekulasi bahwa untuk membuat terobosan dalam pencarian rahasia Thom, buku yang memuatnya ditulis dalam bahasa Prancis atau Inggris modern dan memiliki judul Buku Rahasia Ramalan Thomas Lambert tertulis dengan jelas dalam huruf besar di sampulnya.

    Ajaibnya, sesuatu yang mirip terjadi. Sebuah buku catatan ukuran A4 bersampul keras dengan tulisan tangan kata 'Ramalan'. Aku menghabiskan berhari-hari untuk mendapatkan buku ini.

    Aku mengambil dan membukanya.

    Terdengar pintu dibelakangku berderit dan Mireille masuk ke kamar.

    “Menemukan kitab yang dimaksud?” dia bertanya, berjalan ke belakang sofa dan melihat dari balik bahuku.

    "Ini," kataku. “Isinya daftar peristiwa beserta tanggal dan jam. Beberapa adalah peristiwa dunia seperti kematian seorang pemimpin, yang lain adalah peristiwa astronomi yang tidak dapat diprediksi seperti penemuan komet baru. Sejauh yang aku lihat, datanya akurat. Pertanyaan besarnya adalah tentang kapan mereka ditulis.”

    “Apa maksudmu?” tanya Mireille.

    'Jika ini adalah prediksi asli, dibuat sebelum peristiwa terjadi, maka perlu ada penulisan ulang hukum fisika. Jika ditulis setelah peristiwa itu terjadi, maka kita akan menemukan hal yang mengejutkan, bahwa Thom membaca koran.”

    “Apakah ada prediksi untuk peristiwa beberapa hari ke depan?”

    “Pertanyaan bagus,” jawabku. “Mungkin ada. Kata ‘Betelgeuse’ tertulis di sini.”

    Aku menunjuk referensi di buku itu dan kemudian jariku menelusuri garis. “Diikuti oleh satu-satunya tanggal masa depan dalam buku, lima belas September tahun ini. Ketika aku berbicara dengan Thom untuk terakhir kalinya, dia menyebutkan tentang suatu peristiwa yang terjadi di Orion, dan dia mengatakan bahwa itu akan terjadi lebih cepat dari yang aku duga.”

    Aku begitu serius dengan buku itu sehingga tidak memperhatikan Mireille hingga dia duduk di sampingku. Dia telah berganti pakaian tidur, dan dia mengenakan gaun tidur katun putih tipis. Baju itu menutupi tubuhnya lebih daripada pakaiannya yang biasa, tapi justru membuatnya tampak jauh lebih cantik.

     "Apakah kamu baik-baik saja?" dia bertanya. "Tiba-tiba kamu seperti kesulitan bernapas."

    Aku terdiam, bingung harus menjawab apa. Akhirnya aku memutuskan untuk jujur ​​padanya.

    “Aku berterima kasih diizinkan tinggal sementara di sini,” kataku. "Dan aku tidak ingin ada yang mengacaukan itu. Lebih penting lagi, aku tidak ingin ada yang merusak persahabatan kita. Tapi aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak menganggapmu sangat menarik.”

    Aku menatap matanya. “Kamu duduk di sebelahku dengan gaun itu membuatku sesak napas. Itu hanyalah cara tubuhku mengingatkanku bahwa kamu terlihat ... yah ....”

    Aku tak menemukan kata yang tepat. Dan mendadak saja aku tertawa ketika kata itu muncul di kepala, tetapi terlanjur jauh melangkah membuatku memutuskan akan tetap mengatakannya, “terlihat sangat seksi.”

    “Oh, maafkan aku,” kata Mireille, “ini pasti membuatmu sangat frustasi.”

    “Jangan khawatir,” kataku. “Tidak apa-apa. Seperti yang kukatakan, aku tidak ingin mempertaruhkan persahabatan kita atau kesempatan untuk tinggal bersamamu, jadi aku tidak akan menempatkanmu dalam posisi yang sulit dengan melakukan hal yang tidak pantas kepadamu.”

    "Tapi aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman," katanya. 'Maksudku, jika duduk di sebelahmu seperti ini membuatmu frustrasi, maka ini pasti akan lebih membuatmu tersiksa.”

    Dia mencondongkan tubuh ke arahku dan memberiku ciuman panas di bibir. “Dan ini pasti lebih tak tertahankan lagi,” tambahnya, meletakkan tangannya di balik bajuku dan dengan lembut membelai dadaku.

    Dia kemudian tiba-tiba menarik diri, meletakkan tangannya di pangkuannya dan menatap lututnya.

    "Aku sudah menjadi wanita yang sangat jahat membuatmu seperti ini," katanya. "Akan sangat membantuku jika kamu menarik tanganku, membawaku ke tempat tidur dan melakukan apapun yang kamu inginkan terhadapku."

    Dia menatapku dan tersenyum nakal. "Aku pasti tidak akan menolak."

     

    BERSAMBUNG

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.