Anarkisme Dalam Nalar Perusuh (Bagian 1) - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Kerusuhan oleh Clker Free Vector dari Pixabay.com

Samroyani

Penulis Serabutan
Bergabung Sejak: 28 Juli 2022

Kamis, 11 Agustus 2022 17:49 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Anarkisme Dalam Nalar Perusuh (Bagian 1)

    Sebuah aliran filsafat politik yang disebut Anarkisme adalah paham anti otoritas atau anti pemerintahan yang kemudian masyarakat pandang sebagai sebuah paham berbahaya yang dinilai mengancam kehidupan bernegara.

    Dibaca : 489 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Anarkis merupakan sistem sosialis yang mendambakan kehidupan tanpa pemerintahan. Anarkis dimulai di antara manusia, dan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari manusia. Namun sayangnya kini anarkis sering digambarkan berupa tindakan perusakan, pengeroyokan, pembakaran, penjarahan dan lain-lain. Bukan tanpa alasan, pemahaman terhadap anarkisme terkikis oleh berbagai macam hal, hingga kini sisa-sisa kecilnya kita kenal sebagai pahamnya para anarko, para perusuh.

    Pemahaman bahwa anarkisme dikonotasikan sebagai sesuatu yang buruk muncul begitu saja tanpa ada pemahaman yang jelas dari masyarakat mengenai anarkisme, hal ini karena minimnya literatur yang ada; baik mengenai sejarah, pemikiran filsafat maupun kajiannya dalam berbagai aliran filsafat, dan pemikiran-pemikiran ilmu sosial. Sering kali kita mendengar di berbagai talkshow, podcast, diskusi, seminar, media dan lain-lain, bahwa bentuk-bentuk destruktif, merusak, menghancurkan, membakar, dan tanpa tujuan atau arahan yang jelas (misal : amuk massa) dengan segera semena-mena diketegorikan sebagai tindakan anarkis. Media mainstream tentu berperan besar dalam kesalahpahaman ini sehingga dewasa ini anarkisme selalu dinilai buruk.

    Anarkisme kerap meletup di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Hal ini terjadi karena tidak ada kepuasan bagi sebagian orang, pemerintahan terlalu lemah, undang-undang tidak berjalan sebagaimana mestinya, keperluan masyarakat tidak terpenuhi, dan/atau suasana politik dan ekonomi tidak berimbang. Disamping itu adanya tantangan rakyat kepada kerajaan/pemerintahan juga bisa menyebabkan adanya anarkisme.

    Orang ketika mendengar anakisme ‘berasa trauma’ karena akan membawa pengaruh yang tidak baik terhadap kegiatan kehidupan mereka, terutama pemahaman yang mereka anut, setidaknya begitulah pemikirannya. Ini karena anarkisme berhubungan dengan kekerasan dan kebiadaban. Oleh sebab itu bila anarkisme berjalan di dalam suatu domain (dikhawatirkan) dapat membawa kehancuran bagi  tempat tersebut. Hal ini juga yang ditakuti, atau dibenci, oleh masyarakat Indonesia.

    Anarko bukan anak kemarin sore - anarkisme di Indonesia sebenarnya bukan baru muncul akhir-akhir ini saja. Kurang lebih tahun 1901-1928 anarkisme pernah eksis dengan maraknya propaganda melalui surat kabar seperti Minsheng (Suara Rakyat), Zhenli Bao Semarang, dan Soematra Po. Namun pada tahun 1965-1990 anarkisme kembali senyap dikarenakan pertentangan politik nasionalis yang saat itu sedang kuat-kuatnya. Paham ini kembali marak bersama munculnya musik Punk tahun 1990-an. Letupan-letupan dari memanasnya paham ini di dalam kultur populer kemudian sejalan dengan berbagai penolakan yang sangat tentu melahirkan banyak konflik dan permasalahan.

    Kesesatan paling kompleks dari penyebaran anrkisme ini justru datang dari para penyebar paham itu sendiri. Kesalahpahaman Anarko di Indonesia dalam mempelajari anarkisme akhirnya mendorong banyak tindakan kontra produktif. Semisal, Anarko di Indonesia yang seolah benar-benar menolak segala bentuk kebijakan yang dikeluarkan pemerintahan, mereka mengkaji terlalu dangkal sehingga seruan “Tidak Perlu Ada Negara” marak digaungkan bersama ajakan-ajakan untuk melawan Negara dengan tindak kekerasan, padahal Anarkisme tidak sedangkal itu, proses mengkaji, berdiskusi, adu solusi mereka lewatkan begitu saja. Hal ini diperburuk dengan labeling masyarakat yang sudah terlanjur anti dengan kata “Anarkis” yang seolah selalu menjadi kata yang menggambarkan perilaku-perilaku buruk.

    Pandangan masyarakat terhadap kata “Anarkis” saja sudah menimbulkan alergi tersendiri. Anarkisme dan berbagai bentuk pertentangan di kalangan masyarakat merupakan sebuah dinamika sosial yang layak untuk dikaji. Fakta bahwa Anarkisme yang pada dasarnya adalah sebuah filsafat politik telah disalahartikan dan akhirnya banyak bertabrakan dengan paham masyarakat yang berlaku.

    [Bersambung...]

    ***

    Tulisan ini disadur dari karya tulis (Skripsi) saya yang dulu dibuat dalam rangka menyelesaikan studi di salah satu Universitas Negeri di Bandung.

    Daftar Referensi:

    Buku

    Adrianus, M. (2000). Angkatan Perusush. Jakarta: Marjin Kiri.

    Burton, G. (2008). Media dan Budaya Populer. Yogyakarta: Jalasutra.

    Cohen, B. J. (1992). Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.

    Dolgoff, S. (2002). Bakunin on Anarchism. New York: Black Rose Books.

    Goldman, E. (1963). Anarchism and Other Essays. New York: Dover Publications Inc.

    Hanurawan, F. (2011). Psikologi Sosial. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

    Harper, C. (1987). Anarchy: A Graphic Guide. London: Camden Press.

    Hutagalung, D. (2006). Pengantar Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan. Jakarta: Marjin Kiri.

    Miller, D. (1984). Modern Ideologies: Anarchism. Oakland: J.M. Dent & Sons Ltd.

    Piliang, Y. A. (2004). Dunia Yang Dilipat. Yogyakarta: Jalasutra.

    Sarwono, S. W. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers.

    Sheehan, S. M. (2003). Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan. Jakarta: Marjin Kiri.

    Soekanto, S. (1985). Sosiologi: Ruang Lingkup dan Aplikasinya. Jakarta: Remadja Karya.

    Suissa, J. (2010). Anarchism and Education: A Philosophical Perspective. London: PM Press.

    Wittel, A. (2015). The Conversation. Nottingham: Nottingham Trent University.

     

    Jurnal

    Cahya, M. F. (2016). Fenomenologi Anarkisme. Jurnal Pergerakan Sosial Vol. 5.

    Hardian, S. (2015). Memahami Anarkisme Sebagai Seni Perlawanan. Jurnal ITB Seri Mengkaji Anarkisme.

    Rama, H. (2015). Anarki: Anti-Utopia. Jurnal Anti-Otoritsriaan Edisi 1.

    Rasyidin. (2005). Anarkisme. Jurnal Sistem Teknik Industri Volume 6, No. 3, 88.

    Setyawan, E. (2015). Intro Doktrinasi Anarkisme. Jurnal Anti-Otoritsriaan Edisi 1.

    Zumaro, A. (2011). Perilaku Kolektif dan Penyimpangan. Jurnal Psikologi Sosial, 133.

     

    Skripsi

    Pratiwi, F. D. (2013). Benih Anarkisme Mahasiswa dan Media Sosial. Yogyakarta: Fishum UIN Yogyakarta.

     

    Artikel

    Dhyaksa, A. (2019). Anarko - Iman Anarkisme Dalam Tubuh Provokator. Retrieved from Lokadata: https://lokadata.id/artikel/anarko-iman-anarkisme-dalam-tubuh-provokator

    Marto. (2019). Menggali Akar Anarkisme di Indonesia. Retrieved from Historia: https://historia.id/politik/articles/menggali-akar-anarkisme-di-indonesia-vgXG7

    Rizky, P. A. (2020). Anarkisme dan Hal-Hal Yang Mereka Tuntut. Retrieved from Matamatapolitik.com: https://www.matamatapolitik.com/sejarah-anarkisme-dan-hal-hal-yang-mereka-tuntut-editorial/

    Ikuti tulisan menarik Samroyani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.