Kiamat Telah Tiba (20): Lari dari Penculik - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Meteoroids are billions of years old

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 31 Agustus 2022 06:35 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kiamat Telah Tiba (20): Lari dari Penculik

    Mireille mendapati dirinya berada di selasar, lagi-lagi tanpa jendela, cahaya remang-remang datang dari lampu listrik kecil di ujungnya. Dengan hati-hati dia berjalan menuju cahaya. Bola lampu berada di tikungan ke kanan di lorong. Saat sampai di pojok, dia bisa mendengar suara-suara. Dengan hati-hati Mireilla mengintip ke sudut dan bisa melihat pintu terbuka yang hampir berseberangan dengannya.

    Dibaca : 630 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    23 Maret

     

    Mireille berjalan ke sisi jauh ruang penyiksaan. Ada pintu tua dari kayu yang terkunci.

    Dia hanya memiliki satu kunci yang mungkin cocok dengan gembok semacam itu. Apakah pintu tua ini bisa terbuka dengan kunci yang sama?

    Mengandalkan sekali lagi pada risiko dan keberuntungan, dia menempatkan kunci di lubang dan memutarnya. Berhasil.

    Mireille memutar pegangan besi dan pintu terbuka.

    Mireille mendapati dirinya berada di selasar, lagi-lagi tanpa jendela, cahaya remang-remang datang dari lampu listrik kecil di ujungnya.

    Dengan hati-hati dia berjalan menuju cahaya.

    Bola lampu berada di tikungan ke kanan di lorong. Saat sampai di pojok, dia bisa mendengar suara-suara. Dengan hati-hati Mireilla mengintip ke sudut dan bisa melihat pintu terbuka yang hampir berseberangan dengannya.

    “Apakah dia ingin kita melakukan sesuatu?” Sebuah suara laki-laki datang dari ruangan.

    'Tidak. Dia akan mencoba cerita tentang menyelamatkannya dari sekte. Jika itu tidak berhasil, dia akan membawanya ke ruang bawah tanah yang lebih besar untuk diinterogasi.”

    "Mudah-mudahan dia tidak melawan seperti yang lain. Akan sangat disayangkan jika dia harus bertemu dengan malaikat maut.”

    “Aku setuju. Kita harus mendapatkan rahasia okultisme untuk Gereja, tapi aku tak pernah suka dengan segala kematian itu.”

    Mireille mengenali suara-suara itu sebagai para penculiknya. Dia melihat sinar yang keluar dari ruangan dan melihat ke selasar. Sangat tidak mungkin dia bisa melewati pintu itu tanpa ketahuan. Dia berbalik dan diam-diam kembali ke ruang penyiksaan.

    Dia melihat sekeliling ruangan untuk mencari senjata dan menemukan pilihan tombak dalam kotak di salah satu dinding. Dia memilih satu dan kembali ke lorong.

    Namun, saat mendekati sudut, dia tersandung pada batu ubin yang tidak rata yang membentuk lantai lorong. Tombak itu jatuh ke depan dan membentur batu.

    Nyaris seketika, yang membuat Mireille ngeri, salah satu pria muncul di tikungan, bersiaga karena bunyi itu. Pria itu bergegas ke arahnya.

    Secara naluriah, Mireille mengangkat tombak untuk memperingatkannya agar tidak maju lebih jauh, tetapi karena baru saja meninggalkan ruangan yang terang benderang, mata pria itu belum terbiasa dengan kegelapan lorong.

    Dia berlari dengan kecepatan penuh ke ujung tombak yang tajam.

    Mireille yang terkejut melepaskan tombak dan ujung tongkatnya tersangkut di tepi satu lempengan batu yang tidak rata, menonjol dibandingkan batu di sekitarnya. Akibatnya, tombak tak dapat bergerak mundur. Pria itu jatuh lebih jauh ke depan, Jeritannya sangat singkat.

    Mireille menyadari bahwa pria itu telah ditembus oleh tombak. Dia mungkin terbunuh seketika.

    Astaga, pikirnya, aku tidak bermaksud melakukan itu. ... Maaf.

    Ketika Mireille sampai di sudut, pria kedua berdiri di lorong. Dia terkejut. Mireille tidak.

    Tendangan ke dada membuatnya terjengkang, dan tendangan ke kepala yang hampir bersamaan membuatnya jatuh ke belakang. Bagian belakang kepalanya membentur batu ubin dan dia terdiam.

    Di luar ruangan, terdapat jendela di dinding selasar dan pintu ke dunia luar. Mireille melihat keluar ke jalan berkerikil. Sebuah van. Mireille menduga itu yang digunakan untuk membawanya dari pertanian.

    Dia ke ruangan yang terang oleh cahaya lampu dan lega melihat kunci mobil itu di atas meja. Mireille mengambilnya dan berlari ke pintu. Tak terkunci.

    Dia berlari ke van. Pintunya terbuka.

    Kuncinya pas dengan kunci kontak, dan mesin van mulai menyala.

    Mireille hendak pergi, tapi kemudian dia berhenti.

    Adrenalin dan ketidaknyataan dari pengalamannya baru-baru ini tampaknya telah memberi dia ketenangan dan kejernihan pikiran yang luar biasa. Mireille [ernah mendengar tentang hal ini terjadi pada tentara dalam sengitnya pertempuran, ketika semua kecemasan telah menguap dan benar-benar fokus pada tugasnya, meskipun berada dalam posisi yang sangat berbahaya.

    Dia keluar dari van sekali lagi dan melihat sekeliling.

    Dia berada di luar gereja tua bergaya Gallo-Roman. Ada rumah pedesaan di tempat yang lebih tinggi, beberapa ratus meter jauhnya. Namun, dia tidak melihat adanya bangunan lain, dan dia tidak bisa melihat atau mendengar orang lain. Mungkin hanya ada kami berempat di sini, pikirnya.

    Mireille memikirkan apa yang telah terjadi selama setengah jam terakhir. Dia telah meninggalkan dua mayat di gedung itu dan satu orang tak sadarkan diri. Apa yang harus dia lakukan?

    Pikirannya, mencoba mempertimbangkan apa yang telah dia lakukan dalam keadaan serupa di masa lalu. Dia belum pernah membunuh manusi atau meninggalkan orang yang terluka, di ruang bawah tanah gereja dalam konteks operasi penyergapan DGSI, jadi pada dasarnya dia belum punya pengalaman di masa lalu sebagai perbandingan. Ini bukan wilayah keahlian seorang mantan perawat, pikirnya.

    Apa yang akan dilakukan Vivienne d'Arc?

    Mireille kembali ke dalam gereja. Laki-laki di depannya menggeliat tapi belum sepenuhnya sadar. Dia melepas ikat pinggangnya, membalikkan pria itu ke perutnya dan mengikat tangannya. Dia kemudian melepas sabuk pria itu dan mengikat kakinya dengan itu. Kemudian Mireilla melangkahi mayat di selasar dan kembali ke ruang penyiksaan.

    Dia ingat melihat troli beroda di salah satu dinding. Mireille menarik troli ke sel tempat Maurice Bouchard tergeletak. Dia menutupinya dengan terpal, berusaha menghindari menatap luka-lukanya. Menyeret Maurice ke troli lalu mendorongnya keluar, dan dengan susah payah memindahkannya ke belakang van.

    Masih belum ada tanda-tanda kehadiran orang lain, pikirnya lega. Risiko dan keberuntungan membuahkan hasil.

    Dia kembali dengan troli dan membawa keluar penculiknya yang kini sadar sepenuhnya. Mireille memaksanya berdiri dan mendorongnya ke bagian belakang van. Pria itu menjerit saat melihat Maurice.

    Sekarang untuk bagian yang paling menjijikkan, pikirnya. Mireille kembali ke selasar dengan troli. Dia menutup matanya saat dia mencabut tombak dari pria terakhir. Mireille bersyukur bahwa lorong yang gelap menyebabkan genangan darah tak terlalu menycolok mata. Dia mengikat mayat penculiknya ke troli dan mendorongnya ke van.

    Mireille sangat kelelahan ketika akhirnya menutup pintu belakang kendaraan.

    Dia duduk di kursi pengemudi, tak tahu di mana dia berada, tetapi dia bisa mengingat kode pos peternakan Blanc, dan para penculiknya cukup bijaksana untuk memasang Sat Nav.

    “Berkendara ke depan ke jalan utama,” suara kering seorang perempuan, “lalu belok ke kiri.”

     

    BERSAMBUNG

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.