Membentuk Cendekiawan Berkarakter - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

image: Psychology Today

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 9 September 2022 19:27 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Membentuk Cendekiawan Berkarakter

    Dalam bahasa Jawa ada frasa sarjono sujono.  Sarjono artinya orang pintar, bukan dalam arti dukun. Kemudian kata ini diserap oleh bahasa Indonesia menjadi sarjana untuk menyebut lulusan perguruan tinggi. Sujono memiliki arti curiga atau curious dalam bahasa Inggris. Sujono juga berarti baik budi.  Jadi sarjono sujono berarti orang yang memiliki kemampuan tertentu dan baik budinya. Dalam kazanah Islam, ini disebut ulul albab.

    Dibaca : 816 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh:  Bambang Udoyono

    Dalam bahasa Jawa ada frasa sarjono sujonoSarjono adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa yang artinya orang pintar, bukan dalam arti dukun tapi orang yang memiliki kemampuan intelektual tertentu.  Kemudian kata ini diserap oleh bahasa Indonesia menjadi sarjana untuk menyebut lulusan perguruan tinggi. 

    Sujono memiliki arti curious dalam bahasa Inggris, atau bisa juga berarti curiga.  Dalam bahasa percakapan sehari hari arti yang kedua ini lebih banyak dipakai. Menurut Prof Sardjito, mantan rektor UGM yang namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit, sujono memiliki arti baik budi.  Jadi sarjono sujono berarti orang yang memiliki kemampuan tertentu dan baik budinya.  Inilah konsep leluhur kita yang dalam bahasa Islamnya adalah ulul albab

    Cendekiawan berkarakter

    Dengan kata lain sarjono sujono adalah orang yang memiliki kecerdasan dan kemampuan intelektual tinggi, karakter baik dan memiliki kualitas kecerdasan spiritual tinggi juga.  Dia bisa juga disebut cendekiawan berkarakter.  Istilah karakter baik tidak hanya dalam perspektif kemampuan bekerja tapi dalam perspektif keagamaan.  Jadi artinya orang yang tidak hanya tahu tentang agama tapi benar benar bisa menerapkannya.  Dia sudah tidak didominasi oleh nafsunya tapi benar benar didominasi oleh Allah swt.  Dia adalah hamba Allah semata, bukan hamba nafsunya.

    Di masa ketika sudah banyak orang menjadi sarjana maka perlu sekali anak anak kita menjadi sarjono sujono, menjadi sarjana plus.  Bukan hanya memiliki gelar saja. Sarjana yang memiliki karakter baik dan kuat atau ulul albab.  Tatkala Indonesia menghadapi banyak masalah pelik di banyak sektor, orang semacam inilah yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara ini.  Orang yang memiliki kemampuan intelektual tinggi dan tidak tergoda oleh kedudukan tinggi dan harta banyak inilah yang akan mampu memberi pencerahan dan pemecahan masalah.

    Keluarga ibarat lahan subur

    Semua keluarga, semua orang tua pasti mengharapkan mempunyai anak seperti itu.  Bagaimana caranya?  Secara singkat saya ingin memakai ibarat dari pertanian.  Tanaman yang tumbuh subur, tumbuh maksimal adalah tanaman yang tumbuh di lahan yang baik atau lahan yang subur.  Jadi kalau ingin anak anak kita tumbuh maksimal, pastikan dulu keluarga kita adalah tempat yang sangat baik untuk mendukung pertumbuhan anak anak.

    Rumah tangga sakinah ma waddah wa rahmah.  Itulah konsep idaman kita.   Itulah tempat tumbuhnya sarjono sujono.  Pertanyaan lebih jauh lagi, bagaimana cara mewujudkannya?  

    Jawaban pertanyaan itu panjang sehingga bisa menjadi sebuah buku. Meskipun demikian ada beberapa hal yang bisa diutarakan dalam sebuah artikel.

    Keluarga adalah Tim solid

     

    Sejak awal pasangan suami istri harus mampu mentransformasikan hubungannya dari hubungan romantis menjadi sebuah tim solid. Suami istri adalah sebuah tim kecil yang saling mengisi. Suami sebagai pimpinan adalah general manager yang membuat rencana strategis keluarga. Istri adalah manager keuangan dan manager operasional.

    Di tahap awal mereka harus menyatukan visi dan misi agar langkah mereka padu.  Hanya dengan langkah padu sasaran bisa dicapai. Setelah itu mereka harus merumuskan langkah atau tindakan yang akan dilakukan. Kemudian melangkah secara terpadu dengan panduan suami sebagai imam keluarga.

    Dari perspektif ini nikah beda agama menjadi tidak masuk akal. Bagaimana mungkin mereka menciptakan generasi unggul kecerdasan nalar dan agama kalau langkahnya tidak padu. Bagaimana mereka bisa menumbuhkan ulul albab kalau ayahnya mengajari puasa sedangkan ibunya sarapan?

    Jadi pastikan visi dan misi betul betul menyatu padu. Ini bukan berarti intoleran. Jangan salah. Ini bukan berarti pandangan sempit. Jangan salah. Ini adalah pandangan yang sangat baik dan layak diikuti.

    Contoh, wacana, kebiasaan baik

    Kemudian orang tua harus mendidik anak anaknya dengan contoh, wacana dan mananamkan kebiasaan baik.  Orang tua harus memberi contoh bekerja keras dan beribadah yang baik dan benar.  Orang tua harus memberi nafkah yang halal.  Orang tua harus tidak memberi contoh kkn.

    Orang tua harus mampu membuat wacana dua arah yang baik.  Wacana ini bertujuan menanamkan pemahaman tentang berbagai hal kepada anak. Juga untuk membuka wawasan anak. Wacana juga bertujuan agar koordinasi dalam keluarga berjalan baik.  Kemudian orang tua harus menanamkan kebiasaan baik seperti solat, bayar zakat, sedekah, infak, puasa dll. 

    Benang merah

    Wacana, Kebiasaan baik dan contoh baik itulah nanti yang akan membentuk karakter positif anak.  Mereka akan memiliki karakter ulet, pantang menyerah, mandiri, pengasih dan penyayang, selalu ingin tahu, berinisiatif, proaktif dan banyak karakter positif lain. Orang berkarakter bak seperti itulah yang nanti akan menyumbang solusi. Merekalah yang punya potensi menjadi pemimpin di semua tingkatan.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.