Novel Yudhistira ANM Massardi: Serampang Cinta di Negeri Melayu - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Yudhistra

atmojo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 12 September 2022 16:03 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Novel Yudhistira ANM Massardi: Serampang Cinta di Negeri Melayu

    Kisah percintaan yang berkelindan dengan kegelisahan eksistensi budaya Melayu. Ada cinta segitiga yang menggelora dan rasa bersalah.

    Dibaca : 1.768 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Novel Penari dari Serdang ini ditulis Yudhistira sepanjang tahun 2018 di Bekasi, Tasikmalaya, Borobudur, Solo, dan Medan. Kisahnya tentang percintaan segitiga yang berkelidan dengan kegelisahan atas kondisi budaya Melayu yang kurang mendapat perhatian. Tiap bagian novel ini diberi nomor dari 1 (satu) sampai 90.

    Yudhistira mengggunakan sudut pandang (point of view) orang pertama “aku”. Jadi seakan-akan ceritanya merupakan kisah atau pengalaman diri sang pengarang sendiri. Ini memang salah satu cara untuk menghidupkan para tokoh di dalamnya. Teknik semacam ini biasa digunakan Yudhistira sejak lama, misalnya dalam beberapa cerita pendek yang kemudian dikumpulkan dalam buku Wanita dalam Imajinasi, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 1994, yang sebagian cerpennya juga sudah saya baca..

    Sebagai orang awam yang gemar membaca sastra, saya menyukai novel ini. Bukan hanya karena bahasanya sederhana dan lancar, tetapi menurut saya ini “novel percintaan yang berisi”. Ada banyak informasi yang berguna. Latar ceritanyanya jelas, karakternya jelas, plot-nya logis, dan kesemuanya dijahit dalam rangkaian cerita yang realistis. Tidak ada “kuliah” soal agama atau moralitas yang bisa membuat pembaca merasa digurui. Setidaknya, menurut saya, karya ini memenuhi dua kriteria yang pernah dibuat oleh Horatius, yakni karya sastra yang baik bisa memenuhi dua butir kriteria: dulce et utile (rasa nikmat dan manfaat atau kegunaan). Sastra harus menarik dan memberi kenikmatan. Sastra harus memberi manfaat atau kegunaan, yaitu kekayaan batin, wawasan kehidupan, dan moral. Tapi, awas, kuliah moral yang disampaikan secara verbal – apalagi berlebihan-- bisa mengganggu kenikmatan pembaca. Itulah perlunya kreativitas pengarang. O, ya, dalam novel ini, ada banyak adegan romantis yang dilukiskan dengan baik oleh Yudhistira.

    Kisah Penari dari Serdang ini bermula pada Juni 2013, ketika Bagus Burhan, sastrawan dan wartawan nasional, diundang untuk menjadi juri lomba pidato di kota Medan. Di lobi hotel tempat menginap, ia berkenalan dengan Putri Chaya, seorang penari cantik dari Serdang. Rupanya, Putri Chaya sejak beberapa saat  di situ sudah memperhatikan Bagus. Maklum, Bagus memang sastrawan terkenal. Sementara itu, Putri Chaya, selain penari juga memiliki sanggar tari bernama Sanggar Cahaya Serdang. Dia belajar menari dari ibunya, seorang penari Melayu. Konon keluarganya terhubung dengan kerabat Kesultanan Serdang terakhir, Sultan Sulaiman. Putri Chaya juga menjadi juri di salah satu acara yang diselenggarakan oleh panitia. Mereka menginap di hotel yang sama.

    Sejak lima tahun silam, Chaya hidup menjanda dengan satu anak, Lenggang, yang kini berusia sepuluh tahun. Suaminya dulu seorang pilot yang meninggal dalam sebuah kecelakaan di Kalimantan. Dalam usia sekitar tiga puluhan, dia masih kelihatan segar dan cantik. Bagus tertarik kepadanya.

    Di sebuah restoran, setelah menghabiskan makanannya, Chaya menunjuk sebuah rumah di seberang restoran yang bertuliskan: “Perpustakaan Sultan Muda Perkasa”. Kata Chaya, “Itu rumah kediaman Sultan Serdang terakhir, mendiang Sultan Muda Perkasa. Beliau juga pakar sejarah dan kebudayaan Melayu. Buku-buku karyanya menjadi rujukan penting bagi studi kebudayaan Melayu. Semua buku koleksinya disumbangkan kepada msyarakat melalui perpustakaan itu.”

                “Oh, menarik sekali. Kapan-kapan aku harus ke situ,” kata Bagus.

                 “Aku pun banyak belajar tentang kebudayaan dan tari Melayu kepada beliau ketika masih hidup. Sekarang, sanggar seninya dilanjutkan oleh putrinya yang kedelapan, Tengku Natashya. Aku masih banyak belajar dari Tengku Natashya.”

                  “Tengku Natasha penari juga?”

                  “Ia pakar semua tarian Melayu. Janda tanpa anak. Bercerai sepuluh tahun lalu. Mau mau kenal. Sambil lihat koleksi buku-bukunya?”

                  “Tentu aku mau. Mumpung di sini,” kata Bagus. “Oya, apakah Chaya berkerabat dengannya?”

                   “Katanya sih, begitu. Tapi aku tak berani mengaku-ngaku, takut tidak diaku.”

    Mereka kemudian datang mengunjungi perpustakaan itu. Karena pemiliknya sedang ke Jakarta, maka Putri Chaya yang kemudian bertindak sebagai pemandu. Perpustakaan itu memiliki koleksi sekitar 7.000 buku peninggalan Sultan Muda Perkasa, Sultan Serdang ke-X. Sultan ini dilahirkan di Istana Galuh Perbaungan, Kebupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara, 27 Juli 1933. Ia dinobatkan sebagai Pemangku Adat Kesultanan Serdang pada 12 Januari 2000 oleh Sultan Deli XIX. Sultan Muda Perkasa dikenal sebagai budayawan Melayu, penulis yang produktif, dosen, dan Ketua Forum Komunikasi Antaradat Sumatera Utara. Ia meninggal dunia pada 5 September 2005. Bagus terpesona dengan seluruh isi museum itu. Ia berjanji akan kembali lagi ke sana.

                                                                        ***

    Singkat cerita, Bagus dan Putri Chaya semakin akrab. Keduanya  tampak menunjukkan rasa saling menyukai. Bahkan, ketika mereka sampai di lantai tiga hotel, di depan kamar Putri Chaya, terjadi adegan seperti ini:

             “”Ini kamarmu?” tanyaku, mendadak terasa kaku.

              “Ya. Terima kasih sudah mengantarku,” ujar Putri Chaya sambil memandang kedua mataku. Tersenyum.

               “Ah, aku yang harus berterima kasih karena sudah diajak jalan-jalan,” kataku.

               “Mau masuk? Putri Chaya membuka pintu kamnar, lalu masuk ke dalam.

                Jantungku berdebar lebih kencang. Berbagai hal berseliweran. Seperti bianglala. Seperti jet coaster.

                “Masuklah! Putri Chaya memberi isyarat dengan gerakan kepalanya. Aku pun melesap ke dalam kamar itu seperti terisap ke dalam ruang hampa udara. Pintu ditutup. Dan kami langsung terlempar ke dalam pelukan erat dengan napas memburu. Kami berciuman bagai gelombang samudera yang tiada henti mengempaskan ombak ke pantai.

    Putri Chaya tiba-tiba berurai air mata. Entah perasaan macam apa yang bergejolak di dalam dadanya. Air matanya mengalir deras membasahi wajah kami. Kami terus saling memagut bibir masing-masing, dan kini terasa asin oleh air mata.

               “Mas orang baik...” Putri Chaya berbisik di antara isaknya. “Teruslah jadi orang baik.... Jangan hanya ketika ada maunya...”

    Aku tak bisa mencerna kalimatnya dengan baik. Aku tak bisa menbak-nebak ke arah mana tujuan kata-katanya itu. Aku tak kuasa menahan arus yang menghanyutkan kami. Perasaan kami melambung ke berbagai arah tanpa pola. Wajah kami melekat dalam basah, bagaikan pasangan kehausan yang tersesat di gurun pasir dan saling meminum cairan tubuh yang tersisa...

                                                                          ***

    Selanjutnya aneka kisah dan  peristiwa terjadi. Misalnya, berkat Putri Chaya, Bagus mengenal aneka bangunan dan lokasi ikonik di Medan dengan sejarahnya yang cukup medetail. Ini juga salah satu kelebihan novel ini.

    Peristiwa lain, misalnya, tentang penjurian lomba pidato,  tentang suka-duka Putri Chaya berdagang kain songket dan ulos sebagai penghasilan tambahan,  dan perkenalan Bagus dengan Tengku Natashya. Mereka berkenalan ketika Putri Chaya mengajak Bagus menemaninya menyetorkan uang hasil dagangan songket dan ulos di rumah Tengku Natashya.

    Tengku Natashya memberikan buku karya ayahhandanya, Senjakala Kerajaan Melayu di Sumatera Timur, juga biografi ringkas Sultan Sulaiman, penerus terakhir takhta Kesultanan Serdang, kakek dari Tengku Natashya. Buku itu berjudul Perjuangan  Sultan Sulaiman Shariful Alamsyah dari Serdang (1865-1946), yang diterbitkan untuk menandai pemberian penghargaan Bintang Mahaputra  Adipradana 2011. Itu merupakan pengakuan resmi Pemerintah RI yang mengukuhkan Sultan Sulaiman sebagai pahlawan nasional.

    Keakraban Bagus dan Tengku Natashya pada pertemuan pertama itu sempat membuat Putri Chaya cemburu. Tapi itu tak berlangsung lama. Mereka kemudian tiduran bersama di kamar Bagus. “Terima kasih ya, Mas, sudah menyayangi aku,” kata Putri. Dia tetap rebah di atas dada Bagus, bermalas-malasan.”Sudah lima tahun aku tidak merasakan kehangatan lelaki...”

    Beberapa saat kemudian Putri Chaya bergegas turun dari tempat tidur. Berlari ke kamar mandi. “Mau pipis,” katanya. “Mas mau ikut?”

    Bagus turun dari tempat tidur dan duduk di sofa, menyalakan rokok. Tak lama kemudian Putri keluar dari kamar mandi dan bergabung di sofa. “Mas mau apa?” tanya Putri Chaya.

             “Chaya mau apa?” Bagus balik bertanya.

    Chaya tidak menyahut. Tanpa terduga, dia lalu melepaskan blusnya, dan memamerkan dadanya yang mengkal terbungkus kutang krem berenda. Bagus menontonnya dengan bengong.

               “Para lelaki, kalau lihat dada perempuan, kenapa heboh ya?” tanya Chaya. Dia lalu melepaskan kutangnya, Buah dadanya yang tidak terlalu besar, menghadap ke arah Bagus, menatapnya seperti tersenyum.... atau mengejek?

    Putri Chaya menatap Bagus sambil tersenyum. “Mas  kok diam saja?” katanya. “Mas mau?” Dia mendekatkan dadanya ke wajah Bagus.

             “Boleh?”

                                                                      ***

    Setelah empat hari di Medan, sesuai dengan jatah dari panitia, Bagus harus kembali ke Jakarta. Pagi itu ia bersama rekan-rekan juri yang lain,  sudah berada di ruang tunggu bandara Kualanamu. Tapi pikirannya selalu terbayang pada Putri Chaya. Teman-temannya menggoda. Persis setelah terdengar pengumuman bahwa para penumpang pesawat dipersilakan masuk, datang sebuah pesan singkat (sms) ke ponselnya.

                “Andai saja aku bisa menculik Mas... Kita bisa tinggal bersama dua malam lagi di kamarku di hotel... Aku mau bawa Mas ke rumah kami di Binjai.. Di sana kita bisa bebas bertelanjang...”

    Spontan Bagus bangkit dari tempat duduknya di ruang tunggu. Teman-temannya juga sudah bangkit dan berjalan menuju pintu ke arah pesawat. Tapi Bagus memutuskan lain. “Teman-teman, aku tidak jadi pulang! Sampai jumpa lagi!” katanya.  Ia lalu melambaikan tangan dan berjalan keluar bandara. Ia kembali ke hotel dengan taksi.

    Sampai di hotel ia segera menuju kamar Putri Chaya, yang menyambutnya dengan pelukan erat. Dia membiarkan bibir Bagus melumat bibirnya. Wajah mereka basah oleh kehangatan air mata,. Mereka larut dalam kerinduan yang seakan telah membeku selama bertahun-tahun dan baru saja bisa cair.

                                                                         ***

    Setelah penutupan lomba, Putri Chaya mengajak Bagus  ke rumahnya di Perbaungan, Serdang Bedagai (no 20). Kepada ibu mertuanya, Halima, Putri Chaya memperkenalkan Bagus sebagai pengarang nasional yang sedang mempelajari tari dan kebudayaan Melayu. Kini Bagus makin mengenali kehidupan sehari-hari Putri Chaya. Siang hari dia membantu berjualan lontong Medan di warung.milik mertuanya. Sore hari dia mengajar tari gadis-gadis cilik dan remaja aneka tari tradisional Melayu.

    Putri Chaya juga mengajak Bagus ke rumah ibunya sendiri di Binjai. Sepanjang perjalanan Putri Chaya menceritakan sejarah Binjai. Kepada ibunya, Komariah, Putri Chaya memperkenalkan Bagus sebagai pengarang dan wartawan dari Jakarta yang sedang melaklukan liputan tentang kebudayaan Melayu. Bagus akan menginap selama dua hari di situ. Tapi, istrinya, Mia, dari Jakarta tiba-tiba meneleponn meminta agar Bagus segera pulang ke Jakarta. Sudah senminggu lebih Bagus di Medan. Padahal janjinya hanya empat hari. Bagus kebingungan mencari alasan.

    Malam hari, sesuai yang direncanakan, Bagus dan Puti Chaya naik ke rumah pohon, tanpa sepengetahuan Bu Komariah. Tidak ada listrik di rumah itu, penerangannya hanya lampu minyak bersumbu putar, mirip lampun nelayan. Dalam temaram itu Putri Chaya menari telanjang di depan Bagus. Putri Chaya juga meminta agar bagus melepaskan seluruh pakaiannya. “Tapi, Mas harus janji dulu,” katanya.

              “Tidak boleh pakai nafsu?” tanya Bagus/

                “Bukan cuma itu,” kata Putri chaya lagi. “Sekarang ini, Mas tidak boleh menyentuhku.”

                “Maksudmu?”

               “Mas Diam saja.Biar aku yang bergerak.”

               “Terserah.”

                Bagus tak berminat lagi melepaskan celanannya.

                “Ayo, Mas buka pakainnya,” kata Chaya. “Kita kan mau sama-sama telanjang.”

                Bagus akhirnya menanggalkan seluruh penutup tubuhnya,

                “Sekarang, Mas tidur telungkup. Tak boleh bergerak.”

                Bagus pun telungkup. Tidak bergerak.

    Chaya merebahkan seluruh tubuhnya di atas tubuh Bagus. Bibir Chaya menempel di kulit leher Bagus. Napasnya yang hangat mendesir di belakang telinganya. Desah napasnya semakin halus. Chaya tertidur berkasurkan punggung Bagus. Lama mereka membisu. Derik jangkrik dan tonggeret menangisi malam hingga pejam. Mereka berdua pun tertidur.

                                                                   ***

    Cerita selanjutnya, ada kisah hidup Ibu Komariah (mertua Putri Chaya), lalu kepulangan Baskara ke Jakarta lengkap dengan pertengkarannya dengan sang istri (Mia), juga kisah pertemuan mereka dulu. Selama di Jakarta, Bagus masih berhubungan dengan Putri Chaya melalu telepon. Hingga suatu kali Putri Chaya datang ke Jakarta karena menjadi juri Festival Tari Serampang Duabelas di Taman Mini Indonesia Indah. Bagus dan Putri Chaya bertemu lagi. Selain untuk hal-hal pribadi di antara mereka, Bagus juga menulis laporan acara itu, plus box profil Putri Chaya, dan  sejarah budaya Melayu untuk majalah di mana dia bekerja.

    Tulisan Bagus di majalah IndonesiaKini itu menarik perhatian Bersihar Hamzah, calon anggota DPR RI dari daerah pemilihan Serdang Bedagai, Binjai, Stabat, dan Tanjung Pura. Di saat kampanye, Bersihar meminta Putri Chaya naik panggung untuk memberikan dukungan kepadanya. Juga meminta dikenalkan dengan Bagus. Maksudnya agar dibuatkan naskah pidato kebudayaan serta menulis tentang dirinya. Dia memberikan uang kepada Putri Chaya uang dua puluh lima juta rupiah sebagai tanda komitmen bantuan untuk sanggar Putri Chaya. Tapi dalam pemilihan legislatif, Bersihar kalah tipis. Ia tidak terpilih. Meski kalah, pencapaian yang sekarang patut dirayakan sebagai tonggak bersejarah dan investasi di masa depan.

    Atas undangan khusus dari Bersihan Hamzah, Bagus datang menyaksikan perhelatan besar Sanggar Cahaya Serdang di halaman kantor Perkebunan Bumi Hijau milik keluarga Hamza di kota Stabat. Putri Chaya dan para penarinya tampil sebagai primadona acara. Janji Bersihar untuk membantu perjuangan Putri Chaya bukan omong kosong. Ia ikut membiayai muhibah kesenian Melayu ke Prancis dan Italia atas undangan Kedutaan Besar RI dan rekomendasi dari Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan..

    Untuk keperluan pengurusan visa dan berbagai administrasi lain, Putri Chaya kembali datang ke Jakarta. Kali ini bersama Tengku Natashya. Sebab misi kesenian besar ini juga melibatkan anggota Budaya Melayu Grup pimpinan Tengku Natashya yang sudah lebih berpengalaman.

    Sejak kepergian ke luar negeri itu, Bagus tidak menerima kabar lagi dari Putri Chaya. Bahkan sampai beberapa bulan. Jiwa Bagus seakan kosong, Ia sangat rindu pada Putri Chaya., Akhirnbya dia nekat terbang ke Medan. Ternyata Putri sudah ada di Perbaungan, di rumah mertuanya. Bagus segera memliuknya. Tapi, ketika ia hendak menciumnya, Putri Chaya menahannya.

                 “Mas, tenang dulu,” ujarnya. “Aku senang Masku datang. Tetapi aku akan menerima Mas dengan kesepakatan...”

                   “Apa lagi, sayangku?”

                   “Pertama, Mas tidak boleh marah. Kedua, Mas tidak boleh menggugat apa pun. Ketiga, Mas tidak boleh bertanya tentang apa pun,” kata Putri Chaya. “Sepakat?”

                    Seperti biasa, di hadapannya Bagus tak bisa berkutik. “Ya, sepakat,” kata Bagus.

    Setelah itu Putri Chaya menyerahkan dirinya, Bagus mendkap dan menciuminya. “Putri Chaya, izinkalah aku untuk untuk tetap menyintaimu...” kata Bagus sambil mewrengek di pangkuannya. Jangan biarkan aku binasa karena rindu...”

                                                                          ***

    Putri Chaya mengabarkan bahwa Bersihar Hamzah memberi amanah kepadanya dan Tengku Natashya agar mempersiapkan perhelatan akbar Festival Kebudayaan Melayu Sumatera Timur dalam rangka memperingati 450 tahun Kesultanan Langkat.  Acara yang akan berlangsung selama dua tahun itu akan diselenggarakan di empat kota” Serdang Bedagai, Binjai, Stabat, dan Tanjung Pura. Tentu saja Bagus diminta untuk ikut membantu kesuksesan acara tersebut.

    Di masa-masa inilah Bagus makin akrab dengan Tengku Natashya. Dimulai ketika Putri Chaya jatuh pingsan dan harus dirawat di rumah sakit. Bagus dan Tengku Natashya yang menjaganya. “Jadi, aku pingsan tiga jam? Dan selama itu Mas berduaan dengan Tengku Natashya? Indah sekali ya?” kata Putri ketika sudah siuman. Putri Chaya cemburu.

    Sewlama festival berlangsung, Bagus diinapkan din hotel yang mayoritas sahamnya dimiliki Bersihar Hamzah. Kamar hotel itu juga menjadi semacam sekretariat bayangan, tempat pertemuan anggota panitia yang memerlukan konsultasi. Tengku Natashya dan Putri Chaya termasuk yang sering datang ke situ.

    Bagus baru saja mengenakan celana dalamnya ketika beli pintu kamar berdenting. “Tunggu sebentar ya,” kata Bagus sambi mengenakan celana tidurnya. Rupanya Tengku Natashya yang datang.  Pintu dibuka. Bagus yang sedang memasukkan kepalanya ke dalam kau, tiba-tiba Gterngku Natashya memeluknya dan ikut memasukkan kepadanya ke dalam kau.

             “Aku mau peluk Mas,” kata Tengku Natashya.

    Maka selanjutnya, terjadilah hubungan intim di antara mereka. Maka lengkaplah kini Bagus terlibat dengan dua wanita selama di Medan.

                “Mas jawab dengan jujur ya,” tanya Tengku Natashya. “Mas sudah tidur sama Putri Chaya?”

                 “Kalau tidur, ya. Aku sering tidur bersama dia...” sahut Bagus.

                “Tetapi?”

                “Aku belum menidurinya, kalau itu yang dimaksud pertanyaanmu.”

                “Oya?” Tengku Natashya tak percaya. “Sungguh? Kenapa?”

                 “Dia belum mau.”

                 “Sumpah?

                 “Sumpah.”

    Dia menarik napas lega. Lalu menelungkupkan tubuhnya diu dada Bagus.

               “Aku tahu, Mas bertahun-tahun berpacaran sama dia....” kata Tengku Natashya. “Tapi, Mas belum menidurinya...”

                “Ya,,,,” kata Bagus.

                “Sekarang.... “ kata Tengku Natashya lagi. “Kita tidak berpacaran, tetapi Mas sudah meniduri aku... Lalu bagaimana?”

               “Bagaimana apanya?”

               “Hubungan kita...” ujarnya kemudian

     Bagus seperti tak punya kalimat untuk menjawabnya. Bahkan ia masih tak percaya semua itu baru saja terjadi. Ia tak pernah membayangkan hal itu terjadi setelah hubungannya sekian lama dengan Putri Chaya, dan juga dengan Tengku Natashya. Tetapi itu sudah terjadi. Mereka kemudian sepakat untuk tidak menceritakan kejadian itu kepada Putri Chaya.

    Selanjutnya, terjadilah aneka kisah dan peristiwa lain selama Bagus masih berada di Medan.

                                                                         ***

    Singkat cerita lagi, Bagus harus kembali ke Jakarta. Begitu mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Bagus menerima sms dari Tengku Natashya. “Maaf, Mas. Saya tidak sempat menemani. Semoga Mas selalu sehat dan terus membantu perjuangan kami.” Bagus berusaha meneleponnya, tapi tak ada jawaban. Ia mengirim sms balasan; “Sayangku, kamu di mana? Sehat, kan? Aku kangeeeeennn..!!”

    Bagus juga teringat kedatangan Putri Chaya bersama Lenggang, putrinya yang kini sudah berusia 15 tahun, dan sudah biasa memanggilnya dengan sebutan “Papa”. “Papa Bagus tidak boleh sakit,” kata Lenggang sambil mencium pipi Bagus. Mereka memang sudah seperti keluarga.

                                                                           ***

    Bersama istri (Mia) dan anak-anaknya (Daru dan Ratri), Bagus berlibur ke Batu, Malang (nomor 87). Mereka pergi ke Jatim Park 1 dan 2, serta Museum Angkut yang banyak dipajang mobil-mobil antik. Mereka memutuskan liburan kali ini tak boleh disambi kerja dan mengaktifkan media sosial. Semua harus fokus kepada keindahan alam.

    Nah, pada bagian ini (87), terasa sekali rasa bersalah menghantui Bagus. Tentang rasa bersalah ini, saya teringat apa yang digambarkan oleh Ernest R. Hilgard dalam Introduction to Psychology. Katanya, rasa bersalah bisa disebabkan oleh adanya konflik antara ekspresi impuls dan standar moral. Secara kultural, setiap kelompok masyarakat memiliki peraturan untuk mengendalikan impuls yang diawali dengan pendidikan sejak masa anak-anak hingga dewasa, termasuk pengendalian seks.  Seks dan agresi merupakan dua wilayah yang selalu menimbulkan konflik yang dihadapkan pada standar moral. Pelanggaran terhadap standar moral inilah yang bisa menimbulkan rasa bersalah. Bagus, secara moral merasa bersalah kepada Mia, istrinya, dan kedua anaknya.

    Perasaan bersalah ini bisa ringan atau berat, bisa berlangsung lama atau singkat. Ini tergantung pada derajat rasa bersalah dan kemampuan mereka untuk mengatasinya. Rasa bersalah dengan derajat rendah dapat dihapuskan karena si individu mengingkarinya dan ia merasa benar. Ada juga orang yang sadar apa yang harus dilakukannya dan ia sungguh-sungguh memahami bahwa ia telah melanggar suatu keharusan tertentu. Biasanya rasa bersalah jenis ini bertahan agak lama karena  pelanggaran yang dia lakukan memiliki derajat yang cukup tinggi, khususnya dalam ukuran moral yang dia yakini.

    Kita lihat apa yang dialami oleh Bagus seperti digambarkan Yudhistira: Sebenarnya ada banyak hal yang ingin diungkapkan Bagus kepada Mia. Terutama mengenai kegiatannya selama lima tahun di Medan. Namun, jika hanya mengenai pekerjaan, itu akan menjemukan dan menggangu suasana liburan. Namun, jika bicara tentang Putri Chaya dan Tengku Natashya, itu pasti akan menyakitkan dan menghancurkan masa liburan juga.

    Tetapi, justru keinginan untuk berkata jujur itulah yang mendorong Bagus berlibur kali ini. Ia merasa sudah terlalu lama dan terlalu banyak berdusta dan berdosa kepada Mia dan anak-anaknya. Rasa bersalahnya sudah semakin menghantui. Apalagi, perkembangan terakhir hubungannya dengan Putri Chaya, sudah melibatkan Lenggang, gadis yang sudah fasih memanggilnya “Papa”.

    Bagus merasa sedih dan takut. Ia tak tahu mau ke mana hubungan itu berlanjut. Ia  pun tak bisa menghentikannya. Ia membutuhkan Mia. Ia membutuhkan bantuan dan kepercayaan Mia sekaligus pengampunan darinya. Bagus mengharapkan belas kasih dan pengertian Mia, lalu bersama=-sama menghadapi dan mencari solusi untuk Putri Chaya dan Lenggang, tanpa merusak hubungannya dengan Bersihar Hamzah – sumber penghasilan keluarga dan kantornya.

    Tetapi, bagaimana Bagus memulai pengakuan dosa itu? Bagaimana ia menanggalkan satu per satu  topeng dusta dan dosanya? Bagaimana pula dia akan menghadapi semua akibatnya? Murka Mia. Luka jiwa Daru dan Ratri?

    Alangkah rumitnya persoalan itu. Alangkah pelik mengakhiri sebuah petualangan yang begitu mudah dimulai! Tak peduli pada risiko. Hanya menghamba kepada nikmat jiwa sesaat dan sesat.

    Bagaimana pula Bagus akan menjelaskan tentang hubungannya dengan Tengku Natashya? Rasanya ia ingin menjerit. Menangisi semua kebodohan yang memabokkan, menimbulkan demam, ketagihan, dan rindu-dendam yang tak tertahankan!

    Tak terasa, Bagus menggenggam kedua tangan Mia dan menciuminya. Seketika itu juga tangan Putri Chaya dan tangan Tengku Natashya saling berebut tempat dalam genggamannya. Berebut minta dicium. Itu membuat hati Bagus semakin pedih. Bagus pun mempererat genggamannya pada tangan Mia dan menciuminya bertubi-tubi hingga tanpa disadari air matanya membasahi kedua punggung tanganya. Hingga Mia pun keheranan.

           “Mas kenapa?” kata Mia sambil menarik tangannya. Tapi Bagus tak melepaskannya.

            “Aku kangen...!” kata Bagus. “Aku kangen Mama. Mama sangat baik...” Bagus menciumi tangan Mia lagi.

             “Papa kok aneh? Tidak pernah seperti ini,” kata Mia. “Ada apa sih?”

              Bagus tidak menjawab. Ia menyuruhkkan wajahnya ke lengan Mia sambil menyeka air matanya.

             “Aku sayang Mama. Aku cinta Mama...” Bagus memeluk dan menyusupkan wajahnya ke dalam rambut Mia, mencium belakang daun telinganya.

               “Iiihh... geli!” Mia menjauhkan kepalanya dari Bagus. “Banyak orang, tuh! Malu.....”

               Bagus meringis. Menarik napas panjang.

               “Kamu kangen sama siapa, sebenarnya?” Mia bertanya sambil memandang mata Bagus penuh curiga.

               “Akju kangen Mama!” Bagus berusaha meyakinkan Mia sambil sekali lagi memeluknya.

                “Ah...! Mama kok tidak merasakan setrumnya? Sinyalnya palsu..!”

                “Mama jangan bilang begitu dong... Aku jadi sedih nih...”

               “Ah, masak sih?” Mia masih tak percaya. “Memangnya. Ada apa dengan yang di sana? Lagi ngambek? Diambil orang?”

                 “Mama... Aku Cuma sayang Mama. Aku Cuma cinta Mama...”

                “Jangan Cuma sinetron! Buktikan!” Mia jadi dingin dan ketus.

                “Iya,,, Ini aku sedang membuktikan. Aku sedang berusaha membuktikan. Makanya, aku ajak Mama dan anak-anak berlibur ke sini. Papa ingin buktikan cinta papa sama Mama, sama anak-anak...”

                  “O. Bagslah kalau begitu,” kata Mia.

                   “Kasih papa kdesempatan ya... Kasih papa kepercayaan...”

                   “Memangnya, selama ini tidak?”

                  Bagus merengkuh seluruh tubuh Mia yang berada di sebalahnyua, dan mencium bibirnya.

                  “Husy! Sudah! Banyak anak-anak!” Mia berontak. Melepaskan pelukan Bagus. “Gila...! Mia Bersungut.

                  “Terima kasih, Mama... Maafkan aku ya. Maafkan semua kesalahanku...!”

    ***

    Di bagian akhir (nomor 88), Yudhistira berkisah seperti ini;

    Dua hari setelah kembali dari Malang, sesudah menyiapkan sarapan omelet dan jus jeruk di meja makan untukku dan anak-anak, sambil duduk mendampingiku, Mia berbisik:

                   “Mas, belikan aku MacBook Air yang baru dong, biar aku bisa lebih mudah mengerjakan order desain,” katanya. Senyumnya lebar, memancar pada kedua bola mata dan sepasang bibirnya.

                   “Baiklah,” kataku. “Mau beli sekarang?”

                   “Ha? Sekarang? Mas serius?” Mia membelalak.

                   “Ayolah!” kataku. “Kita mampir ke kantor dulu. Aku mau memeriksa draf iklan dan advertorial Proyek Wakaf Bang Bersihar. Dari situ, kita ke toko komputer, terus makan siang di restoran India.”

                    “Horeeeee....! Mas, baik sekali!” Mia berjingkrak di kursinya lalu menciumku.

                    “Horeeee..!” Aku mau beli Lego Star Wars!” Daru turut berjingkrak di kursi makannya.

                    “Aku mau beli sepedaaaa..!!” Ratri tak mau ketinggalan.

     89

    Seminggu kemudian.

                  Aku menerima berita dari Putri Chaya:

                  “Tidak mengapa kalau Mas tidak mau melamarku. Aku hanya ingin Lenggang bahagia. Ia ingin punya ayah. Ia bahagia sekali bisa punya ‘Papa Bagus’. Mas tolong terima dia sebagai anak Mas, ya? Mohon pengertian dari Mbak Mia, Daru, dan Ratri.”

                                                             90

    29 September 2018

    Tengku Natashya mengirim dua berita pendek:

                 “Masku, semua yang kuberikan adalah tanda cinta dan terima kasihku atas bantuan Mas bagi perjuangan kami. Aku tidak ingin menyebutnya ‘pengorbanan’. Itu adalah bentuk dari pengabdianku kepada cinta-cita “Pesanku satu: jangan tinggalkan keluarga Mas!”

    --TAMAT—

      * Atmojo adalah penulis yang meminati bidang filsafat, hukum, dan seni.

    ###

    Ikuti tulisan menarik atmojo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.