Janji Sepasang Kekasih dari Dinasti Ming - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Janji Sepasang Kekasih Dari Dinasti Ming

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 22 September 2022 07:20 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Janji Sepasang Kekasih dari Dinasti Ming

    Perjuangan percintaan sesama jenis yang penuh tantangan.

    Dibaca : 469 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Janji Sepasang Kekasih Dari Dinasti Ming

    Penulis: Ernest J.K. Wen

    Tahun Terbit: 2008

    Penerbit: Enerjik Kharisma

    Tebal: 485

    ISBN: 978-979-25-2072-9

     

    Percintaan sesama jenis adalah tema yang menantang untuk dibahas. Secara umum percintaan sesama jenis masih belum diterima di banyak kebudayaan. Namun percintaan sesama jenis adalah sebuah kejadian yang memang nyata adanya. Perjuangan dari mereka yang mengalami percintaan sesama jenis tentu tidak mudah. Namun bukan berarti percintaan sesama jenis ini tak bisa dijalani.

    Ernest J.K. Wen (Ernest) menggunakan kisah percintaan era Dinasti Ming untuk membahas tema pasangan sejenis. Kebetulan tokoh utama dalam novel ini, yakni Julian dan Erika adalah perempuan beretnis tionghoa asal Indonesia. Julian merupakan reinkarnasi (titisan) dari Wang-yue, seorang pemuda dan Erika adalah titisan dari Ying-ying, seorang perempuan ningrat di era Dinasti Ming.

    Tema kuat yang saya tangkap dari novel ini adalah bahwa seseorang bisa saja jatuh cinta kepada sesama jenis tanpa harus mempunyai kecenderungan sebelumnya. Perjuangan utama yang harus dihadapi bagi seseorang yang mencintai sesama jenis adalah meyakinkan orang-orang di sekitarnya, khususnya keluarga dekat untuk bisa menerima keadaan ini. Tentu saja perasaan ganjil dan usaha untuk mengingkari perasaan saling cinta juga mewarnai hubungan Julian dengan Erika.

    Pasangan Wang-yue dan Ying-ying saling berjanji untuk melanjutkan percintaannya di kehidupan selanjutnya. Percintaan mereka di era Dinasti Ming terputus karena perang. Ying-ying terbunuh. Wang-yue yang frustasi kemudian ikut dalam pelayaran Cheng-ho ke Jawa. Wang-yue sempat berada di kompleks Sam Poh Kong, Semarang.

    Tujuh abad kemudian, Wang-yue menitis pada seorang perempuan bernama Julian. Sedangkan Ying-ying menitis pada seorang perempuan bernama Erika. Julian dan Erika bertemu di Singapura. Dengan bumbu guci yang menyimpan kenangan dari 7 abad lalu, Julian bertemu dengan Erika. Guci itu mula-mula adalah milik keluarga Erika. Erika mempunyai ikatan yang mendalam dengan guci tersebut. Sebab guci itu bisa membuat Erika tenang dan menyembuhkan sakitnya di kala ia masih kecil. Guci tersebut kemudian dijual oleh saudara Erika dan jatuh ke tangan Julian yang sama sekali tidak paham tentang guci.

    Saat Erika menyewa apartemen milik Julian, Erika bertemu kembali dengan guci tersebut. Pada pertemuan pertama itulah Julian dan Erika langsung saling jatuh cinta.

    Awalnya keduanya menelusuri kisah guci antic dari jaman Dinasti Ming. Selanjutnya mereka saling menyadari bahwa mereka adalah reinkarnasi dari sepasang kekasih dari Dinasti Ming. Wang-yue dan Ying-ying.

    Menyadari bahwa percintaan mereka tidak lazim, Erika dan Julian saling berusaha menjauh. Julian memutuskan untuk menikahi tunangannya – Kent. Sementara Erika mengambil pekerjaan di Jakarta. Erika pindah dari Singapura supaya terhindar dari pertemuan dengan Julian.

    Meski saling menjauh ternyata mereka tak bisa memungkiri rasa saling cinta.

    Dengan alasan untuk bertemu dengan seseorang yang memahami kisah percintaan Wang-yue dan Ying-ying, Julian dan Erika sepakat untuk bertemu di Singapura. Sayang sekali pertemuan ini membawa petaka. Sebab Erika tertabrak motor dan mengalami koma. Julian yang merasa bersalah merawat Erika. Kesembuhan Erika membuat Julian-Erika memutuskan untuk menghadapi situasinya. Mereka berusaha untuk meyakinkan keluarga Julian bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

    Ernest secara cantik membuka dan menutup novelnya. Ia membuka dengan Julian yang selalu dihantui mimpi sejak ia membeli guci antic. Julian selalu bermimpi tercebur sungai karena sedang dikejar-kejar oleh para prajurit. Ia gagal menyelamatkan kekasihnya. Mimpi Julian ini menggambarkan peristiwa Wang-yue yang gagal menyelamatkan Ying-ying di jaman Dinasti Ming.

    Sedangkan di bagian penutup, Erika digambarkan mengalami kecelakaan. Kali ini Julian berhasil merawat Erika sampai sembuh. Dua peristiwa berbeda 7 abad tetapi mempunyai kesamaan nasip bagi Ying-Ying alias Erika. Namun ending-nya berbeda karena pada akhirnya Wang-yue Julian berhasil menyelamatkan Ying-ying Erika.

    Ernest memilih tokoh utama dalam novel ini dari etnis Tionghoa. Sebab etnis Tionghoa memang masih banyak yang percaya pada reinkarnasi. Pemilihan etnis Tionghoa sebagai tokoh utama ini jelas memudahkan bagi Ernest untuk mengemas kisahnya dengan alur reinkarnasi. Apalagi dalam cerita-cerita legenda Tiongkok, banyak kisah yang bisa dipakai sebagai bumbu cerita.

    Sedangkan untuk lokasi novel, Ernest memilih Singapura. Meski Julian dan Erika adalah orang Indonesia, tetapi sepertinya Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia kurang cocok untuk menjadi tempat percintaan sesama jenis. Singapura lebih memungkinkan untuk membangun kisah percintaan sesama jenis. Untuk itu Ernest membangun kedua tokoh utamanya dengan karakter perempuan cerdas, cantik, mandiri dan profesional. Julian sebagai lawyer, sedangkan Erika sebagai pengembang program computer lulusan Amerika. Sebagai perempuan modern yang mandiri, percintaan sesama jenis bisa dijelaskan secara rasional. Dengan memilih Singapura sebagai lokasi kisah, Ernest bisa menutup kisahnya dengan bahagia. Keluarga Julian bisa menerima percintaan sejenis yang dijalani oleh Julian dan Erika. 702

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.