Belajar dari Kasus Pelecehan Seksual oleh Isteri Pembesar Mesir Kuno - Analisis - www.indonesiana.id
x

illustr: Everyday Health

trimanto ngaderi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 September 2022

Senin, 26 September 2022 17:05 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Belajar dari Kasus Pelecehan Seksual oleh Isteri Pembesar Mesir Kuno

    Putifar bertanya apa yang sedang terjadi. Spontan Zulaikha menjawab bahwa Yusuf telah melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya. Mendengar pengakuan dari istrinya, Putifar sendiri tak begitu yakin bahwa Yusuf telah berbuat asusila terhadap istrinya. Apalagi Putifar tahu betul bahwa Yusuf adalah anak yang baik dan bisa dipercaya.

    Dibaca : 963 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    BELAJAR DARI KASUS PELECEHAN SEKSUAL OLEH ISTRI PEMBESAR MESIR KUNO

     

    Saat ini kita sedang menunggu akhir dari kasus Ferdy Sambo. Salah satu isu utama yang digulirkan adalah terjadinya pelecehan seksual yang menimpa Putri Candrawati (PC), isteri Ferdy Sambo. Terlepas apakah benar terjadi pelecehan seksual atau tidak, ada baiknya kita membuka kembali kisah yang diabadikan di dalam kitab suci Al Qur’an, yaitu kisah Nabi Yusuf. Kisah ini diuraikan secara lengkap dan detail, bahkan dalam satu surah tersendiri (sebanyak 13 halaman).

    Adalah Zulaikha, seorang isteri pembesar kerajaan Mesir Kuno. Putifar, suaminya adalah seorang wakil raja (sekarang setara Perdana Menteri) sekaligus kepala militer. Ia memiliki seorang budak bernama Yusuf. Adapun Yusuf sendiri berasal dari negeri Kan’an (Palestina). Oleh sebab iri dengki dan kecemburuan dari 10 orang saudaranya, mereka membuang Yusuf ke sumur. Yusuf ditemukan oleh seorang musafir yang kemudian membawa Yusuf ke Mesir dan menjualnya di pasar budak. Akhirnya Yusuf dibeli oleh Putifar.

    Ketika Yusuf sudah tumbuh dewasa dan memiliki wajah yang sangat tampan, membuat Zulaikha jatuh hati. Dari hari ke hari, keterpikatan Zulaikha kepada Yusuf semakin bertambah dan menggebu-gebu. Hingga tibalah kesempatan itu. Ia memanggil Yusuf dan meminta untuk melayani nafsu birahinya. Sebagai calon seorang nabi, Allah menjaga dia untuk tidak terjatuh dalam lumpur dosa. Akhirnya Yusuf pun menolak ajakan Zulaikha dan hendak pergi meninggalkannya.

    Namun, nafsu birahi Zulaikha sudah mencapai puncak dan nyaris tak terkendali. Ketika Yusuf hendak membuka pintu, Zulaikha menarik baju Yusuf hingga robek. Di saat yang bersamaan, Putifar muncul di depan pintu.

    Putifar bertanya apa yang sedang terjadi. Spontan Zulaikha menjawab bahwa Yusuf telah melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya. Mendengar pengakuan dari istrinya, Putifar sendiri tak begitu yakin bahwa Yusuf telah berbuat asusila terhadap istrinya. Apalagi Putifar tahu betul bahwa Yusuf adalah anak yang baik dan bisa dipercaya.

    Ketika Zulaikha terus membela diri dan menyalahkan Yusuf, sementara Yusuf sendiri dengan statusnya sebagai budak tidak diberi kesempatan untuk berbicara dan membela diri. Datanglah seorang pembantu Putifar yang sedang menggedong bayi.  Bayi itu menangis keras sedari tadi, sepertinya dia merasakan sesuatu hal buruk akan terjadi.

    Atas izin Allah, bayi yang masih dalam buaian itu dapat berbicara dan memberikan kesaksian, “Apabila baju Yusuf yang robek di bagian depan, maka dia bersalah. Jika yang robek adalah di bagian belakang (punggung), maka ia tidak bersalah”.

    Sekalipun sudah ada kesaksian dari seorang bayi dan orang-orang di dalam istana Putifar mempercayainya termasuk Putifar sendiri, Zulaikha tetap melakukan berbagai upaya untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak bersalah. Sebab rumor telah terjadi skandal seks antara dirinya dan Yusuf telah beredar luas di masyarakat. Salah satunya adalah dengan mengundang para isteri pembesar Mesir ke jamuan makan malam di rumahnya.

    Ketika para isteri pembesar itu hendak menikmati jamuan makan, maka Zulaikha meminta Yusuf untuk keluar dan berjalan di depan mereka. Seketika itu juga mereka terpana melihat ketampanan Yusuf hingga mereka mengiris jari-jari mereka dan tak menyadarinya.

    Zulaikha hanya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa dirinya tidak bersalah jika sampai jatuh cinta kepada budaknya itu. Sementara mereka yang hanya baru melihat sekali saja sampai tak sadar mengiris jari-jari mereka, apalagi dirinya yang setiap hari melihat dan satu rumah dengan Yusuf.

     

    Menyelematkan Marwah

    Kalau Sambo sempat mengatakan bahwa pelecehan seksual yang dilakukan oleh Joshua telah menodai marwah keluarganya, maka Putifar pun berusaha untuk menyelamatkan marwah keluarga, apalagi dia adalah seorang pembesar Mesir.

    Sebenarnya, setelah kesaksian sang bayi, Putifar semakin bertambah yakin jika Yusuf tidak bersalah. Tapi demi menjaga nama baik dirinya dan keluarganya, ia akhirnya menjatuhkan hukuman kepada Yusuf dengan memasukkannya ke dalam penjara. Tujuannya adalah untuk menjauhkan Yusuf dan Zulaikha untuk sementara waktu. Termasuk juga untuk menghilangkan ingatan publik terhadap peristiwa memalukan itu.

    Sepertinya Putifar lebih ingin mengamankan reputasi keluarga daripada berpihak kepada kebenaran. Buktinya, ia tidak menyerahkan istrinya ke pengadilan. Jika istrinya sampai diadili, tidak saja istrinya, tapi dia juga ikut menanggung aib yang memalukan itu. Betapa tidak. Seorang isteri pembesar kerajaan yang mulia dan terhormat, merendahkan dirinya di hadapan seorang budak Ibrani. Bagaimana bisa, seorang isteri Putifar rela menanggalkan harga diri dan kehormatannya demi memenuhi hawa nafsunya. Apalagi, sekalipun berstatus sebagai budak, Yusuf sudah dianggap sebagai anak sendiri oleh Zulaikha.

    Pada akhirnya, Yusuf harus mendekam di penjara 7 tahun lamanya. Sekali lagi, sebagai seorang budak ia tak bisa membela diri. Jika ia bisa membela diri sekalipun, barangkali ia tidak akan membela diri. Kebaikan hatinya melebihi siapapun manusia di dunia ini. Ketika ke-10 orang saudaranya jelas-jelas hendak membunuhnya dengan memasukkannya ke dalam sumur, ia tidak ingin Benyamin (saudaranya sekandung) memberitahukan hal tersebut kepada Nabi Ya’kub, ayahnya. Ia melindungi saudara-saudaranya dari kutukan seorang nabi dan telah memaafkan perbuatan jahat mereka.

    Demikian halnya, Yusuf rela dimasukkan ke dalam penjara adalah dalam rangka melindungi keluarga Putifar dari rasa malu dan membebaskan Zulaikha dari hukuman. Bagaimana pun juga, mereka telah berjasa kepada hidupnya. Mereka telah membesarkan dan mendidiknya hingga dewasa. Bahkan, keberadaannya di penjara sudah menjadi kehendak Tuhan, karena justeru dia bisa berdakwah kepada para penghuni penjara lainnya untuk mengenalkan mereka kepada agama tauhid.

     

    Akhir Sebuah Cerita

    Jikalau Yusuf adalah budak dari Zulaikha, maka Joshua adalah ajudan dari suami Putri Candrawati (PC).  Sama halnya kisah Yusuf dengan Zulaikha, sepertinya mustahil seorang ajudan (Joshua) akan melakukan pelecehan seksual terhadap majikannya, yang notabene majikannya telah banyak berbuat baik kepadanya, bahkan mereka sudah dianggap seperti orang tua sendiri.

    Ending dari kasus ini barangkali sama. Zulaikha tak dapat membuktikan perbuatan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Yusuf. Pun Putri Candrawati juga tak dapat membuktikan apa yang telah dilakukan Joshua terhadapnya.

    Sekalipun Zulaikha tidak mendapatkan hukuman penjara, tapi Tuhan sendiri yang menghukumnya langsung di dunia ini. Ketika Putifar telah tiada, satu per satu keluarga dan para pembantunya pergi meninggalkannya, hingga ia tidak punya siapa-siapa lagi. Hidupnya terlunta-lunta di jalanan dan tiada yang peduli lagi terhadapnya.

    Pada puncak penderitaannya, akhirnya ia bertobat dan mengikuti agama yang disebarkan oleh Yusuf. Pertobatan Zulaikha diterima oleh Tuhan hingga ia mendapat anugerah yang luar biasa dan tak disangka-sangka sebelumnya, yaitu akan diperisteri oleh Yusuf, yang kini telah menjabat sebagai bendahara kerajaan (kini setara Menteri Keuangan). Orang yang dulu sangat diinginkannya, kini datang kepadanya untuk melamarnya. Yusuf datang bukan karena hawa nafsu sebagaimana dirinya dulu, tapi ia datang karena cinta dan ketulusan.

    Lalu, bagaimana akhir dari Putri Candrawati?

    Seandainya Putri tak dapat membuktikan perihal pelecehan seksual terhadap dirinya dan pengadilan memutuskan bahwa Putri bersalah, maka sudah barang tentu ia akan menerima hukuman. Masuk bui barangkali bisa menebus berbagai kesalahan dia terhadap keterlibatannya dalam pembunuhan Joshua. Akan tetapi, bagaimana ia akan meminta maaf kepada Joshua secara pribadi, sementara jasadnya telah menyatu kepada asal kejadian semula.

    Selain hukuman di dunia, akankah dia membawa beban dosa ini hingga di Hari Perhitungan kelak? Wallahu a’lam bish-shawab.

     

    Ikuti tulisan menarik trimanto ngaderi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.