Penulis dan Seniman Diilhami oleh Banyak Orang - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Gambar ini diambil saat Lomba Festival Kampus Jakarta

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 3 Oktober 2022 12:57 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Penulis dan Seniman Diilhami oleh Banyak Orang

    Dari mana para penulis dan seniman mendapatkan gagasan untuk berkarya? Dari banyak orang. Demikian kata Pablo Picasso. Bagaimana keterangannya? Sila baca.

    Dibaca : 862 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    A plagiarist steals from one person. A true artist steals from everybody  (Pablo Picasso)  Seorang plagiaris (penjiplak) mencuri dari satu orang.  Seorang seniman sejati mencuri dari setiap orang.  Demikian quote dari Pablo Picasso, seorang pelukis kondang dari Spanyol. Sepintas terasa aneh quotenya, tapi setelah kita renungkan masuk akal juga.

     

    Penjiplakan adalah salah satu masalah di dalam dunia seni dan akademik.  Ada penulis, akademisi, pelukis, dan seniman lain yang pernah ketahuan menjiplak karya orang lain dengan terang terangan.  Ada juga yang tidak sengaja, hanya  teledor saja.

     

    Nah apa maksud Picasso mengatakan seniman sejati mencuri dari setiap orang?    Saya punya tafsir begini.  Seorang seniman dalam cabang seni apapun ketika sedang mencari jati diri atau sedang belajar pasti mempelajari karya seniman besar yang dia kagumi.  Karya yang dia pelajari pasti banyak, dari banyak orang dan banyak cabang seni.  Dengan kata lain seniman sejati mendapat pengaruh dari banyak orang. Masukan dari tokoh yang dia kagumi itu akan membentuk pikirannya dan akhirnya karyanya.  Tapi pengaruh tersebut dia olah lagi.  Kemudian dia memakai bahan yang unik dari pengalamannya dan lingkungannya sehingga karyanya memilki karakter sendiri yang khas dia.  Jadi karyanya sejatinya bukan jiplakan.

     

    Selain itu seniman bisa terinspirasi dari setiap orang.  Inspirasi itu belum tentu merupakan karya persis seperti apa yang dia alami.  Misalnya seorang penulis membaca sebuah buku. kemudian buku itu memicu gagasannya yang bisa saja merupakan sanggahan dari karya yang dibacanya. Jelaslah karya itu bukan jiplakan.  Bisa juga seorang penulis terinspirasi membuat karya serupa yang berisi pengembangan atau pengayaan.  Misalnya  wayang kulit dan wayang wong karya nenek moyang kita.

     

    Wayang kulit Jawa itu berdasarkan cerita Mahabarata dan Ramayana dari India tapi di sepanjang sejarah nenek moyang kita sudah menambah dan mengurangi. Pada cerita Mahabarata misalnya.  Srikandi Jawa sudah beda dengan Srikandi asli India. Demikian juga Drupadi. Kemudian ada lagi tokoh yang ditambahkan seperti Semar, Gareng, Bagong, Petruk dll.  Selain alur cerita, nenek moyang kita juga membentuk boneka dari kulit dan memberi narasi dan iringan musik dengan gamelan. Maka wayang kulit dan wayang wong itu menjadi karya seni yang khas Jawa.  Ia sudah beda dengan cerita aslinya dari India.

     

    Peristiwa yang dialami sendiri atau dilihat seorang penulis juga bisa memicu gagasannya menulis artikel, cerpen, atau bahkan buku.  Jadi penulis bisa saja mengambil pengalaman orang lain lalu diolah menjadi buku.  Ini bukan jiplakan meskipun bahan bakunya dia ambil dari pengalaman orang lain.  Peristiwa atau pengalaman orang itu hanya sebagai pemicu saja.  Mungkin itu yang dimaksud Picasso.

     

    Bagaimana dengan anda?  Terpicu oleh apa gagasan anda?

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.