Rekontruksi Dogma dalam Menyempurnakan Kehidupan Beragama - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

\x3d-

Idatus sholihah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 November 2022

Jumat, 25 November 2022 06:29 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Rekontruksi Dogma dalam Menyempurnakan Kehidupan Beragama

    Akal manusia adalah faktor utama mengolah kembali pengetahuan dan hal-hal yang masuk dalam nalar dan nurani. Sehingga manusia bisa mendapatkan pencerahan dan keyakinan dalam beragama.

    Dibaca : 393 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sejak zaman dulu agama dinilai menjadi dasar kehidupan manusia, sebagai pengatur jalan dan memelihara hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Seiring berkembangnya pola pikir manusia, dalam beragama manusia terpecah menjadi beberapa kelompok. Ada yang mempercayai Tuhan, ada yang tidak, dan ada yang percaya pada ajaran yang ditanamkan sejak turun temurun atau bahkan berasal dari kepercayaan dari hasil pola pikirnya.

    Hal tersebut menjadikan manusia memilih dan mengambil jalan. Di satu sisi, zaman semakin maju dan manusia semakin mengandalkan sisi rasionalitas, namun di sisi lain kadang dalam kehidupan manusia terbentuk dari  kehidupan beragama yang dipercayai berdasarkan ajaran masa lalu, nenek moyang, orang tua, atau masyarakat. Manusia lalu berada dalam posisi dilematis, bagaimana menempatkan dogma agama di zaman yang lazim dengan rasionalisme ini? Lalu bagaimana posisi pengalaman beragama manusia?

    Hubungan beragama dijalin melalui batiniah yang kemudian dikenal sebagai pengalaman beragama. Pengalaman beragama merasakan hadirnya Tuhan dalam diri manusia, merujuk pada keadaan batin yang sadar akan adanya hal misterius, sesuatu yang dihayati sebagai muasal tujuan segala perkara. Hal itu berasal dari hubungan manusia dengan hal supernatural  yang seringkali tidak bisa dijelaskan rasional namun memiliki eksistensi dalam kehidupan.

    Sedangkan dogma beragama mempercayai bahwa kepercayaan yang ada dalam agama baik perihal ketuhanan atau perkara lain merupakan hasil dari pola pikir dan akal manusia yang tidak bisa dipertanyakan lagi atau mutlak harus dipercayai.  Sehingga dalam beragama dilakukan penafsiran dari pengetahuan yang tidak bisa dipatahkan.

    Kedua hal tersebut menjadikan manusia berada dalam kebimbangan, Misalnya saja ketika sejak kecil berada dalam lingkungan yang memiliki dogma agama kuat, ketika ia berada di lingkungan yang rasional akan disergap kebingungan. Dogma agama menjadikan manusia patuh atas ajaran agama yang ada. Dengan tuntutan zaman dan kemampuan yang dimiliki, manusia hendaknya memaksimalkan kemampuannya.

    Dalam Al Qu'ran ada anjuran berpikir yang disebut lebih dari 10 kali. Ini menunjukkan manusia harus memaksimalkan potensi pikiran dan akal sehingga tidak menelan ajaran dan dogma begitu saja. Apalagi dalam zaman yang hampir segala sesuatu bisa dirasionalisasikan. Maka bukan perkara sulit agar manusia tidak berada dalam pola pikir kolot dan hanya sebatas percaya.

    Dogma yang tertanam dalam pikiran sejak dulu hendaknya dipikirkan kembali atau diurai sehingga perlu menjadi sebuah pengetahuan melalui rekontruksi. Dengan demikian dogma akan menjadi dua sisi, benar-salah. Adapun proses rekonstruksi memerlukan penangkapan indera atas realitas yang ada kemudian dalam batin manusia merenungi kembali apakah sudah sesuai dengan nurani atau belum.

    Jika dogma tersebut tidak sesuai dengan pemahaman hati nurani maka itu adalah perkara yang salah. Dogma menjadikan manusia tidak bisa mempertanyakan lagi tentang hakikat suatu hal karena harus dipatuhi. Misalnya dalam umat Islam konservatif mereka percaya bahwa agama yang paling benar adalah Islam, akibatnya mereka menganggap umat lain sebagai orang kafir sehingga dianggap tidak sejajar. Bahkan ketika kecil kita diberitahu bahwa agama Islam adalah paling benar.

    Namun setelah menjadi dewasa kita mulai berpikir kembali, mengapa di dunia banyak sekali perbedaan dan kepercayaan? Jika yang paling benar adalah Islam apa gunanya keberadaan agama lain dan sikap toleransi? Nah berangkat dari pikiran demikian manusia menelaah kembali, sehingga didapatkan pengetahuan baru. Kemudian manusia memanfaatkan kembali akal dan pikirannya untuk melahirkan pengetahuan yang berasal dari dogma yang pada mulanya membeku. 

    Rekontruksi dogma akan menjadikan proses beragama manusia menjadi lebih baik, karena selain mendapatkan dan percaya akan sisi sipiritual yang lain, melalui pengalaman beragama dapat menjadikan manusia mecapai kedamaian batin karena tidak serta merta dipenuhi rasa skeptis dan agnostik.

    Dengan demikian keberadaan dogma agama dapat menjadikan manusia lebih mampu mengoptimalkan kemampuan pikir apabila bersedia merekonstruksi pola pikir. Namun bila manusia masih tetep pada pendirian dan belenggu dogma maka ia akan terkurung dan merasa bahwa agama hanya sebatas hal yang harus dipercaya tanpa boleh dipertanyakan lagi.

    Ketika manusia mampu merekonstruksi dogma yang ada, maka pengalaman beragama manusia akan berubah, sebab ia semakin memiliki dasar agama yang kuat. Memiliki dasar rasionalitas atas hal-hal yang kadang dirasa tidak masuk akal pada mulanya.

    Maka dari itu akal manusia merupakan faktor utama, bagaimana mengolah kembali pengetahuan dan hal-hal yang masuk dalam nalar dan nurani. Sehingga manusia bisa mendapatkan pencerahan dan keyakinan dalam beragama.

    Ikuti tulisan menarik Idatus sholihah lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.