Profesionalitas PSSI Harga Mati untuk Prestasi Sepak Bola Indonesia - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Timnas SEA Games

Ahmad

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2022

Kamis, 1 Desember 2022 14:51 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Profesionalitas PSSI Harga Mati untuk Prestasi Sepak Bola Indonesia

    Kunci kemajuan sepak bola Indonesia ada pada PSSI. Jika PSSI dikelola oleh orang yang tepat, figur yang profesional, dan berani menegakkan profesionalitas tata kelola PSSI, maka kemajuan sepak bola kita bukan hal yang mustahil. Siapa tokoh yang cocok memimpin PSSI?

    Dibaca : 1.594 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kunci kemajuan sepak bola Indonesia ada pada PSSI. Jika PSSI dikelola oleh orang yang tepat, figur yang profesional, dan berani menegakkan profesionalitas tata kelola PSSI, maka kemajuan sepak bola kita bukan hal yang mustahil. Erick Thohir adalah sosok yang menjanjikan profesionalitas itu.

    ***

    Siapa yang tak berdecak kagum ketika Piala Dunia dibuka dan terlihat tim-tim dari Asia berlaga dengan begitu hebatnya? Arab Saudi, Jepang, Korea Selatan, Iran, Qatar, dan Australia – semua negara ini tampil sebagai wakil dari Asia.

    Di mana Indonesia? Pertanyaan ini memang ‘nyelekit’. Sebab pertanyaan ini membawa kita pada satu jawaban yang tak kunjung berkembang: Indonesia tidak lolos kualifikasi. Apa masalahnya? Banyak. Tapi yang paling besar: inkompetensi pengelolaan PSSI yang berkontribusi pada mandeknya sepak bola tanah air beta.

    Setidaknya dalam tulisan ini, saya fokuskan kunci profesionalitas itu pada dua hal: tata kelola PSSI dan penguatan pembinaan talenta muda Indonesia.

    Reformasi Tata Kelola PSSI

    Jika melihat pola dari tim Asia ini maka ada beberapa hal penting yang harus di-copy-paste oleh PSSI.

    Pertama, reformasi besar-besaran di kompetisi lokal. Untuk melakukan ini, dimulai dengan membenahi total induk organisasinya, yakni PSSI.

    Profesionalisme pengelolaan PSSI bisa diwujudkan dengan beberapa hal, di antaranya menempatkan orang-orang tepat, yang kompeten mengurusi PSSI, dan bebas dari kepentingan apa-apa. Bahkan jika harus ada yang disebut kepentingan, maka kepentingan utama mengurus PSSI adalah demi memajukan sepak bola Indonesia.

    Profesionalisme yang kita harapkan ini hanya mungkin bisa dijalankan oleh orang yang punya komitmen pada profesionalitas, dan berkomitmen memajukan sepak bola Indonesia. Erick Thohir adalah figur yang saat ini memiliki kriteria itu.

    Dalam soal kepentingan, Erick Thohir adalah seorang pengusaha profesional yang sejatinya tidak punya kepentingan yang bisa membuat PSSI kontra-produktif, atau underperformed. Sebab Erick telah selesai dengan kepentingan dirinya. Satu-satunya kepentingan yang sangat kuat untuk menjadi nahkoda PSSI adalah kepentingan memajukan sepak bola Indonesia.

    Soal ini, kita bisa menilik kembali rekam jejak perjalanannya saat mengurus Inter Milan, DC United, dan Oxford United. Ketiganya ia kelola dengan profesional dengan kepentingan menyelamatkan saat klub-klub tersebut berada di ambang krisis keuangan.

    Sampai akhirnya, Inter Milan kembali sehat keuangannya dan kembali ke ‘top perform’-nya, DC United bangkit dan memiliki stadion sendiri dengan berdatangan pemain-pemain bintang. Kedua klub ini jadi bukti sahih terkait profesionalitas Erick Thohir dalam mengelola sepak bola.

    Pembinaan Talenta Sepa Bola Indonesia

    Kedua, penguatan atau pembinaan talenta-talenta sepak bola dalam negeri. Berkaca pada Jepang & Korea Selatan, misalnya, pembinaan atau penguatan talenta sepak bola dalam negeri adalah dengan cara mengirimkan mereka untuk mementas di klub-klub Eropa.

    Jepang dan Korea Selatan adalah salah satu contoh negara Asia yang saat ini sepak bolanya sudah mampu bersaing dan semaju tim-tim Eropa. Salah satu faktornya adalah karena banyak pemain muda mereka yang sudah berpengalaman bermain di klub-klub besar Eropa.

    Pola yang lain yakni dengan memperkuat klub-klub lokal. Hal ini belajar pada apa yang dilakukan oleh federasi sepak bola Arab Saudi. Saat ini, klub-klub liga Arab Saudi menjadi salah satu raksasa di dalam kompetisi Asia. Bahkan Al Hilal menjadi klub paling sukses di Asia saat ini.

    Kenyataannya, skuad Arab Saudi yang saat ini berlaga di Piala Dunia Qatar banyak yang berasal dari klub-klub lokal mereka.

    Erick Thohir memiliki jaringan dan rekam jejak yang baik dalam mengurusi sepak bola luar negeri. Ini menjadi modal penting baginya – apabila ia ditunjuk sebagai ketua umum PSSI – untuk menjalankan kebijakan mengirim pemain keluar negeri.

    Pertama, jaringan internasional Erick bisa memudahkan bagi pemain Indonesia untuk bermain di luar negeri. Jaringan internasional dan kolega-koleganya di klub-klub luar negeri memungkinkan menampung talenta-talenta terbaik dari Indonesia.

    Kedua, Erick memiliki kontribusi yang tertanam kuat di ingatan klub-klub yang pernah diselamatkannya. Di Itali, Erick dihormati terutama oleh para petinggi, fans dan masyarakat Inter Milan. Begitu pula di DC United, berkat ET, ada banyak pemain bintang seperti Wayne Rooney bermain di klub tersebut.

    Kuatnya kesan-kesan baik yang ditanamkan oleh Erick melalui kontribusinya ini bisa menjadi modal yang akan sangat mendukung kebijakan mengirimkan talenta muda Indonesia untuk memperoleh pengalaman dan penggemblengan sepak bola di luar.

    Ikuti tulisan menarik Ahmad lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.